Kepri Berusia 14 Tahun, Dipersiapkan Jadi Lokomotif Perekonomian Nasional

280
Pesona Indonesia
Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun menyerahkan berkas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang susunan Perangkat Daerah kepada Ketua DPRD Provinsi Kepri, Jumaga Nadeak, Kamis (01/09). foto:humas pemprov
Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun menyerahkan berkas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang susunan Perangkat Daerah kepada Ketua DPRD Provinsi Kepri, Jumaga Nadeak, Kamis (01/09/2016). foto:humas pemprov

batampos.co.id – Ada banyak impian setelah 14 tahun Provinsi Kepulauan Riau berdiri. Satu yang paling terdepan dan paling mendekati kenyataan adalah memimpikan Provinsi Kepri menjelma menjadi lokomotif ekonomi nasional.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepri, Jumaga Nadeak menilai hal itu sangat terbuka peluangnya dan bukan impian di siang bolong.

“Saya sangat yakin dengan beragam potensi yang Kepri miliki. Negeri Melayu ini akan menjadi lokomotif perekonomian Indonesia bagian barat,” kata Jumaga ketika membuka sidang paripurna istimewa sempena Hari Ulang Tahun ke-14 Provinsi Kepri, Senin (26/9/2016).

Mengacu pada masa lalu, sambung Jumaga, ekonomi Kepulauan Riau adalah yang terdepan. Menguasai segenap pasar di semenanjung ini. Kemudian berkaca pada potensi hari ini, Jumaga melihat masa depan cerah ekonomi Kepri melalui potensi kawasan industri yang diberikan oleh pemerintah pusat.

Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak memajukan perekonomian Kepri. “Hari jadi ini merupakan momen untuk memupuk semangat kebersamaan, persatuan, banyak kemajuan dan prestasi yang diraih. Tapi lebih daripada itu, masih perlu kebersamaan yang lebih erat dan harmonis untuk memajukan negeri ini,” ungkap Jumaga.

Bahwasanya Kepri berjalan di jalur pacu yang benar, kata Jumaga, ada benarnya. Bisa ditilik dari senarai prestasi. Termasuk di antaranya dalam bidang pengelolaan administrasi pertanggungjawaban, penyelenggaran dan pengelolaan keuangan daerah.

Sebagaimana yang diketahui bersama, Provinsi Kepri telah dapat mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI selama enam tahun berturut-turut.

Sebab itu, Jumaga mengajak segala kalangan menjadikan momentum perayaan HUT ke-14 Kepri ini sebagai cermin untuk berkaca, sejauh mana jati diri anak negeri membawa eksistensi daerah ke arah yang lebih maju, sejalan dengan cita-cita para leluhur dan pelaku sejarah pembentukan Provinsi Kepri.

“Setinggi apapun gelombang penghalang yang menghadang, kita akan tetap melangkah untuk meraih cita dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.

Sementara Gubernur Kepri Nurdin Basirun menyampaikan bahwasanya dalam rentang waktu 14 tahun semenjak berdirinya Provinsi Kepri, telah banyak kemajuan pembangunan dicapai yang bisa dilihat dari beberapa indikator seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, indeks pembangunan manusia (IPM), PDRB per kapita, indeks GINI dan penduduk di atas garis kemiskinan.

Tren pertumbuhan ekonomi menunjukan peringkat positif sebesar 5,40 persen yang, kata Nurdin, tergolong baik secara nasional dengan inflasi sebesar 1,37 persen.

Ada pun indeks pembangunan mengalami peningkatan yg baik dengan nilai IPM pada tahun 2014 sebesar 73,40 meningkat manjadi 73,75 pada tahun 2015.

“Nilai tersebut cukup baik karena IPM Kepri selalu berada di atas angka IPM nasional,” kata Nurdin.

Sedangkan di bidang kesehatan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan hingga tahun 2016 terdapat 28 rumah sakit, dengan 77 puskesmas, 311 puskesmas pembantu, 193 klinik dan balai pengobatan swasta yang siap melayani masyarakat.

Selanjutnya dari segi SDM kesehatan, pasa tahun 2015 rasio dokter umum sebesar 44 per 1.000 penduduk, dokter spesialis mencapai 19 per 100.000 penduduk dan rasio perawat mencapai 193 per 100.000 penduduk.

“Itu semua demi mencapai target Indonesia Sehat,” ujar Nurdin.

Terpisah, Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri, Abdul Razak mengungkapkan, semangat pembentukan Kepri adalah semangat menyejahterakan penduduk. Semangat untuk meringkas jarak sekaligus memperpendek rentang kendali.’

“Dengan hal ini kita dapat mempermudah segala kebutuhan administrasi di tujuh kabupaten/kota,” ucap Razak.

Semangat menyejahterakan itu yang, kata Razak, mesti dijaga. Baik itu dalam memajukan bidang pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat.

Kendati demikian, sambung Razak, tetap harapan terbesar untuk pembangunan Kepri ke depannya adalah semakin menekan pertumbuhan angka kemiskinan.

“Karna hal ini jualah yang merupakan dasar cita-cita pembentukan provinsi Kepri kala itu. Kalau angka kemiskinan semakin berkurang pertanda kesejahteraan semakin meningkat,” pungkasnya. (aya/bp)

Respon Anda?

komentar