Patah Tulang, Stuntman cuma Dibayar Rp50 Ribu

Wahyu Syaifullah, Tangerang Selatan

707
Pesona Indonesia

stuntman

Tanpa perlindungan asuransi, profesi stuntman di Indonesia cukup memprihatinkan. Padahal menjadi stuntman bisa dibilang bercanda dengan maut.

Banyak yang bilang, kehadiran stuntman atau pemeran pengganti menjadi bumbu agar film akan menjadi lebih seru. Terutama dalam film bergenre action.

Sutradara akan memakai stuntman untuk menggantikan aktor utama melakukan adegan-adegan berbahaya.

Itulah sebabnya, perlu keahlian khusus menjadi stuntman.  Ada risiko yang bakal terjadi dalam pembuatan film.

Pendiri Stunt Fighter Community (SFC) Deswyn Pesik membenarkan menjadi stuntman atau stuntwoman di Indonesia masih jauh dari kata sejahtera.

Sebab, bayaran yang diberikan Production House (PH) di Indonesia sangat murah. Padahal risiko cidera ditanggung sendiri alias tak ada asuransi.

“PH di Indonesia masih pakai hukum ekonomi. Minim bujet pengeluaran dan mencari keuntungan sebesar-besarnya,” ucapnya saat ditemui di rumahnya Jalan Ketapang 1 Nomor 54, Kelurahan Pamulang Barat, Kota Tangsel.

Banyak stuntman dibayar murah. Hanya untuk menyambung hidup.  Menurut Deswyn, pekerjaan menjadi stuntman perlu perencanaan yang matang.

Bukan hanya mental. Setiap stunt harus mengerti posisi adegan yang akan diambil gambarnya. Perhitungan harus matang, mengurangi risiko kesalahan dalam pengambilan gambar dan cidera.

Pria kelahiran 23 Desember 1977 itu pernah menyaksikan, pekerja stunt hanya mendapatkan pengobatan biaya urut sebesar Rp50 ribu ketika mengalami cidera patah tulang.

“Luar biasa mirisnya. Risiko menjadi stuntman, cuma digantikan uang pengobatan urut. Setelahnya dibiarkan begitu saja, sedih melihatnya,” akunya.

Menjadi stunt, tidak bisa bekerja sendiri. Harus mempunyai rekan yang mengawasi saat adegan pengambilan gambar. Apalagi, kebanyakan proses syuting dilakukan dini hari di saat stamina sudah lemah.

“Di situlah, fungsinya rekan stunt. Selalu mengingatkan dan mempersiapkan keselamatan pemeran pengganti atau stunt,” ujarnya.

Sarjana ekonomi lulusan Universitas Pancasila tersebut menuturkan untuk itu stuntman atau stuntwoman harus memiliki klasifikasi keahlian.

Untuk diluar negeri, menjadi stuntman klasifikasi jam terbang dan keahliaan diutamakan.

“Saya terus mendorong klasifikasi keahlian stuntman atau stuntwoman Indonesia ke arah standar film Hollywood. Supaya dapat honor dari PH, tidak sembarangan,” katanya.

Risiko pekerjaan tinggi dan berbahaya, melatarbelakangi dirinya mendorong adanya regulasi perlindungan pekerjaan stunt. Salah satunya, asuransi.

Pekerjaan stunt identik dengan jatuh-jatuhan, guling-gulingan, loncat dari atas gedung ataupun tertabrak kendaraan.

“Saya dan kawan-kawan SFC sedang berupaya terciptanya asosiasi stunt. Tujuannya untuk melindungi para pekerjanya lewat regulasi, supaya tak dianggap sebelah mata pekerjaan stunt di Indonesia,” terangnya.

Untuk hidup menjadi stuntman atau stuntwoman, belum bisa sejahtera. Dirinya lebih menganjurkan supaya memiliki keahliaan lebih, selain stunt. Seperti dirinya yang memiliki pengalaman di bidang fight director, stunt motor and driver, fight coreographer, dan stunt coordinator.

“Bila keahliaan kita banyak, bisa berkarya terus. Sedangkan film action di Indonesia lagi sepi penonton,” sebutnya.

Sementara, Kepala Pelatih SFC, Inderas Hidetora mengatakan keahliaan stunt dibentuk dengan proses latihan rutin.

Dimulai dari latihan aksi reaksi berupa teknik jatuhan, pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, dan reaksi terkena dari berbagai aksi. Setelah itu ada latihan koreografi fighting satu lawan satu.

“Latihan tersebut bisa cepat dikuasai, tinggal bagaimana konsistensi untuk terus maju mengembangkan keahlian,” singkatnya. (RB/sam/jpnn)

Respon Anda?

komentar