Tak Ada Batasan Waktu Bermain, Membuat Anak Rawan Lakukan Kriminal

598
Pesona Indonesia
ilustrasi warnet
ilustrasi warnet

batampos.co.id – Keberadaan warung internet (warnet) yang semakin menjamur dan tak diawasi dengan baik menimbulkan persoalan tersendiri di lingkungan masyarakat.

Anak-anak usia sekolah banyak yang kecanduan warnet dan nekat melakukan aksi kejahatan hanya untuk bisa bermain di warnet.

Seperti yang dilakukan oleh Al, Yu dan Dl tiga siswi kelas satu SMP di Sagulung ini nekat membobol sebuah rumah di perumahan Mandalay, Sagulung, Sabtu (24/9) pagi lalu.

Ketiga bocah lelaki itu membobol rumah hanya untuk bisa bermain game on line di warnet terdekat.

Mereka berencana menggasak barang-barang berharga di dalam rumah tersebut untuk dijual dan uangnya akan dipakai untuk bermain di warnet. Namun aksi mereka dipergoki warga.

Warga yang geram dengan maraknya aksi pencurian belakangan ini nyaris memasai ketiga bocah tersebut. Namun beruntung perangkat RT/RW setempat cepat mengamankan tiga bocah itu. Setelah diintrogasi, ketiga bocah tersebut diserahkan ke pihak sekolah.

“Jam sekolah negluyur mereka untuk maling dan parahnya alasan mereka maling hanya untuk main warnet. Sudah parah anak-anak itu, makanya mau diamuk masa tadi,” ujar Iyan, salah seorang warga di perumahan tersebut, kemarin.

Ketiga bocah tersebut memang belum sempat menggasak barang-barang dari rumah yang dibobol mereka, sehingga ketiganya dikembalikan ke sekolah agar pihak sekolah memperhatikan keberadaan anak-anak tersebut di saat jam sekolah berlangsung.

“Baru bongkar jendela rumah mereka saat ditangkap,” kata Jhonson warga lainnya.

Atas kejadian itu warga berharap agar pihak sekolah ataupun orangtua siswa lebih ketat lagi memperhatikan aktifitas anak baik di sekolah ataupun di rumah.

“Bagaimanapun ini salah orangtuanya juga, karena membiarkan anak keluyuran. Sekolahpun harus lebih perhatikan lagi, masa di jam sekolah siswa bisa keluyuran main warnet sampai mencuri lagi,” tutur Iyan.

Selain itu warga juga mendesak pihak pemerintah dan aparat penegak hukum terkait agar menertibkan keberadaan warnet yang bandel. Sebab keberadaan warnet itulah yang menyebabkan sebagian anak nekat melakukan aksi kejahatan seperti begal, mencuri bahkan merampok.

“Bagaimana anak tak nekat, sementara warnet membiarkan anak-anak ini bermain tanpa batasan waktu. Anak jadi ketagihan sehingga saat tak punya uang ya nekat melakukan aksi kejahatan seperti ini,” tutur Jefri, warga lainnya.

Keberadaan warnet yang menjamur hingga kemukiman warga dituding sebagai penyebab utama anak-anak usia sekolah melakukan aksi kejahatan. Itu karena keberadaan warnet itu hanya mengejar pemasukan saja tanpa memperhitungkan siapa pelanggan yang menggunakan jasa internet mereka.

Anak-anak usia sekolah dibiarkan bermain warnet tanpa batasan waktu meskpiun masih di jam sekolah. “Sudah sampai ke dalam perumahan warnet-warnet. Ini sudah sangat meresahkan sebab waktu anak-anak disanalah habisnya,” ujar Jefry.

Di sekitar lokasi pasar Mandalay hingga ke Kaveling Nato Sagulung ada belasan titik warnet dan umumnya pengguna jasa warnet itu adalah anak-anak usia sekolah. Para pengelola warnet tanpa cuek dengan keadaan itu.

“Yang pentingkan mereka bayar,” kata Iksan, salah satu penjaga warnet di kavling Nato, Sagulung. (eja/koran bp)

Respon Anda?

komentar