Tantang Presiden dan Kapolri Lihat Cara Produksi Uang Cara Gaib, Dimas Kanjeng Pernah Setor 10 Peti ke Bank

23024
Pesona Indonesia
Foto yang diambil pada awal 2012 ini menunjukkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi (tengah) memamerkan uang hasil produksi gaibnya. Setelah diperlihatkan kepada masyarakat dan petugas, uang empat peti ini dibawa ke bank untuk ditabung. Foto: istimewa untuk JPGrup
Foto yang diambil pada awal 2012 ini menunjukkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi (tengah) memamerkan uang hasil produksi gaibnya. Setelah diperlihatkan kepada masyarakat dan petugas, uang empat peti ini dibawa ke bank untuk ditabung. Foto: istimewa untuk JPGrup

batampos.co.id -Kasus dugaan pembunuhan yang diduga melibatkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pimpinan Yayasan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, terus bergulir.

Kasus ini bukan hanya menguak dugaan kasus pembunuhan tersebut, tapi juga terus menguak sepak terjang sang pimpinan. Terutama dari kemampuan menggandakan uang secara gaib.

Namun Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Marwah Daud Ibrahim menolak disebut Dimas Kanjeng manggandakan uang. Ia lebih memilih menyebut Dimas Kanjeng memiliki karomah (kelebihan khusus dari yang kuasa) sehingga mampu memproduksi uang asli (dengan cara gaib, red) dalam jumlah banyak, tanpa harus menggalang dana dari masyarakat untuk digandakan.

“Dia tidak mengambil uang orang,” tuturnya.

Hal ini juga dibuktikan foto yang diambil pada awal 2012 menunjukkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi pernah memamerkan uang hasil produksinya dengan cara gaibnya.

Setelah diperlihatkan kepada masyarakat dan petugas, uang empat peti ini dibawa ke bank untuk ditabung. Hasilnya asli semua.

Nah, untuk membuktikan hal tersebut, Dimas mengajak semua pihak untuk menyaksikan sendiri bagaimana cara Dimas Kanjeng membuat uang itu.

“Kami mengajak presiden dan Kapolri kalau memang tidak percaya. Dia tidak menggandakan. Silakan lihat sendiri, ini karomah,” ujar perempuan yang juga politikus itu.

Sementara itu, meski Dimas Kanjeng telah ditangkap, para pengikutnya masih bertahan di padepokan. Jumlahnya cukup banyak. Sekitar 300 orang. Mayoritas berasal dari luar kota. Mereka tinggal di tenda-tenda di sekitar padepokan.

Masyarakat yang bertahan di padepokan Dimas Kanjeng tidak semata-mata loyal. Ada juga yang berharap uangnya kembali.

Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji mengatakan, rekonstruksi pembunuhan dua santri Dimas Kanjeng, yaitu Ismail Hidayah dan Abdul Gani, akan dilakukan secepatnya. Diduga, korban pembunuhan lebih dari dua orang.

“Masih tunggu laporan. Kalau memang benar, akan ada penyelidikan lebih lanjut,” paparnya.

Jawa Pos Radar Bromo melaporkan, ratusan personel Polres Probolinggo dan Brimob Polda Jatim masih mengamankan pa­depokan Dimas Kanjeng. Mereka melakukan penyisiran sekitar 1,5 jam.

Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara meminta para pengikut menurunkan foto pigura Dimas Kanjeng yang dipajang di tenda-tenda tersebut.

“Ada isu yang berkembang bahwa Dimas Kanjeng yang ditangkap itu gaibnya. Karena itu, kami melakukan pendekatan untuk memberikan penjelasan soal kebenaran penangkapan Dimas Kanjeng itu,” katanya. (JPG)

Respon Anda?

komentar