Fasilitas KBS Dicabut, Fahmi Tak Mampu Lagi Sekolahkan Dua Anaknya

592
Pesona Indonesia
Dua anak yang menginjak usia tujuh tahun ini sedang asik bermain di Perairan Kelurahan Kawal, Senin (11/7). Anak-anak kurang mampu tersebut terancam tak bisa merasakan bangku pendidikan karena KBS yang merupakan kartu sakti untuk memperoleh pendidikan gratis tak diberlakukan lagi oleh Pemkab Bintan 2016 ini. foto:harry/batampos
Dua anak yang menginjak usia tujuh tahun ini sedang asik bermain di Perairan Kelurahan Kawal, Senin (11/7). Anak-anak kurang mampu tersebut terancam tak bisa merasakan bangku pendidikan karena KBS yang merupakan kartu sakti untuk memperoleh pendidikan gratis tak diberlakukan lagi oleh Pemkab Bintan 2016 ini. foto:harry/batampos

batampos.co.id – Program pendidikan nasional wajib sembilan tahun yang dicetuskan Pemerintah Pusat tak berjalan sesuai harapan. Buktinya anak-anak kurang mampu di Kabupaten Bintan, harapannya untuk bersekolah kandas akibat fasilitas gratis tidak diaktifkan lagi oleh pemerintah.

Contohnya, Andi dan Amir, dua bocah kelahiran Kampung Kawal Laut, Kecamatan Gunung Kijang. Akhir September tahun ini usia kedua bocah itu genap 10 tahun. Pada usia tersebut, seharusnya mereka berdua duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD). Belajar, bermain serta berkumpul ria yang diwarnai penuh canda tawa tanpa memikirkan pahitnya kondisi hidup.

Namun canda tawa yang terlukis di wajah kedua kakak adik itupun berangsur pudar bahkan sudah hampir pupus. Keinginan mereka memakai seragam merah putih itu kembali telah kandas. Penyebabnya bukan dikarenakan desakan ekonomi saja. Tetapi kebijakan pemerintah menyelamatkan keuangan daerah dari terpaan krisis juga ikut menyumbang pengorbanan dari hak-hak mereka.

Bocah kembar dari pasangan suami istri, Fahmi dan Yanti, itu pernah mengenyam dunia pendidikan 2015 lalu. Kalai itu, keduanya duduk dibangku kelas tiga salah satu SD di Kecamatan Gunung Kijang. Kedua bocah itu bisa bersekolah karena biayanya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan melalui kartu sakti yang bernama Kartu Bintan Sejahtera (KBS). Bahkan tak hanya pendidikan yang didapati mereka melainkan fasilitas kesehatan juga didapatkan secara cuma-cuma.

“Mau sekolah lagi kayak teman-teman. Tapi bapak bilang gak bisa, karena Pak Bupati tak ada uang untuk bayar sekolah,” kata Amir sambil tersenyum dan melanjutkan permainannya di laut.

“Kalau sekolah dan udah jadi anak pintar. Saya mau jadi polisi. Kalau Andi (adiknya) mau jadi dokter pak,” tambahnya lagi.

Fahmi, orang tua kedua bocah itu mengaku tidak mampu membiayai iuran sekolah kedua anaknya. Sebab, kata dia, pendapatannya dari hasil menjual gong-gong hanya bisa memenuhi makan sehari-hari.

“Kami ini orang miskin pak. Uang yang didapat tak cukup bayar sekolah. Penuhin makan saja sudah syukur,” ucapnya.

Fahmi menceritakan, semasa anaknya sekolah dari kelas satu hingga kelas tiga semua biayanya ditanggung pemerintah. Begitu juga dengan kesehatan anaknya telah dijamin di seluruh puskesmas maupun rumah sakit. Semua fasilitas gratis itu diperoleh dengan menunjukkan KBS yang dimilikinya sejak 2012 lalu.

Tahun ini, lanjutnya, KBS tak berguna lagi di sekolah maupun puskesmas dan rumah sakit. Sebab, pemerintah telah mencabut fungsi serta kegunaan dari kartu sakti itu. Sehingga kedua anaknya terpaksa berhenti bersekolah karena tak ada bantuan biaya. Sedangkan ia juga tak mampu memperjuangkan cita-cita anaknya itu.

“Kami berharap KBS itu ada lagi. Karena hanya dengan kartu itulah anak-anak saya bisa kembali bersekolah,” harapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar