Rupiah Makin Kuat

596
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Program tax amnesty yang digulirkan pemerintah berhasil mendongkrak nilai tukar rupiah ke level tertinggi tahun ini. Pada perdagangan di pasar spot kemarin (27/9), kurs rupiah terhadap dolar AS (USD) diperdagangkan di kisaran Rp 12.900 hingga Rp 12.936 sebelum ditutup di Rp 12.955.

Merujuk data Reuters, rupiah butuh waktu setahun untuk bisa kembali di bawah Rp 13.000. Pada 6 Mei 2015, dolar AS mulai menembus Rp 13.000.

Pelan tapi pasti, dolar AS terus merangkak naik dan menekan rupiah. Bahkan, rupiah sempat menyentuh level terendah pada 28 September 2015 saat bertengger di posisi Rp 14.705 per USD.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo menyebutkan, ada beberapa faktor yang memicu penguatan rupiah. Dari dalam negeri, penguatan rupiah dimulai dari tingginya arus modal masuk bersih tahun ini.

“Total Januari sampai September sudah Rp 151 triliun dibanding periode yang sama (tahun lalu) Rp 39 triliun,” ujarnya seusai ratas ekonomi digital di Kantor Presiden kemarin. Faktor lainnya adalah pengaruh program amnesti pajak yang dilihat baik oleh pasar. Program tersebut sejauh ini menunjukkan tren positif.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, antusiasme warga Indonesia untuk berpartisipasi dalam program tax amnesty menjadi salah satu faktor penguatan nilai tukar rupiah. “Arahnya pasti ke sana. Rupiah menguat, IHSG (indeks harga saham gabungan) menguat,” ujarnya.

Darmin menyatakan, tren penguatan rupiah sudah dimulai awal Agustus. Tren penguatan tidak berlangsung drastis, tetapi bertahap. “Jangan terlalu cepat penguatannya,” tutur dia.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, besarnya dana yang masuk ke Indonesia akibat amnesti pajak memengaruhi pergerakan rupiah dan saham. Besarnya dana repatriasi terkait dengan periode tarif terendah yang akan berakhir 30 September.

“Adanya arus dana masuk dan menjelang deadline (periode tarif terendah) pasti akan memengaruhi,” ucapnya di gedung DJP kemarin.

Statistik DJP mencatat realisasi uang tebusan berdasar SSP (surat setoran pajak) Rp 73,2 triliun. Sedangkan komposisi penyertaan harta secara total tercatat Rp 2.491 triliun. Perinciannya, dana repatriasi Rp 127 triliun, deklarasi luar negeri Rp 660 triliun, dan deklarasi dalam negeri mencapai Rp 1.703 triliun.

Penguatan rupiah juga berdampak positif ke lantai bursa. Di pasar saham, IHSG kembali meraih level psikologis 5.400 setelah ditutup menguat 67,465 poin (1,261 persen) ke 5.419,604.

Ekonom BCA David E. Sumual menyatakan, program amnesti pajak masih menjadi katalis positif hingga beberapa waktu ke depan. “Masih banyak konglomerat yang belum ikut,” katanya.

David menilai program amnesti pajak di Indonesia paling sukses jika dibandingkan dengan di negara lain. Belum lagi jika melihat deklarasi dan repatriasi dana dari negara-negara yang selama ini sebagai surga pajak (tax haven). (dee/byu/ken/gen/c9/oki/jpg) 

Respon Anda?

komentar