Archandra Tahar Diharapkan Jadi Menteri ESDM Lagi

747
Pesona Indonesia
Mantan Menteri ESDM Arcandra Tahar usai memberikan ceramah di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Selasa (16/08/2016). Arcandra diberhentikan Presiden Joko Widodo karena dwi kewarganegaraan.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos
Mantan Menteri ESDM Arcandra Tahar usai memberikan ceramah di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Selasa (16/08/2016). Arcandra diberhentikan Presiden Joko Widodo karena dwi kewarganegaraan.–Foto: Imam Husein/Jawa Pos

batampos.co.id – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar dinilai masih dibutuhkan bangsa ini untuk membantu Kabinet Kerja.

Pengamat hukum, Constant Marino Ponggawa mengatakan, selama di Amerika Serikat (AS), Archandra Tahar (AT) tidak pernah melepas status Warga Negara Indonesia (WNI)-nya.

”Inilah pengetahuan dasar yang harus diketahui publik,” ujarnya.

Mantan wakil ketua Komisi VI DPR RI ini berucap, selama di AS, Archandra diberi kesempatan oleh pemerintah negeri Paman Sam itu untuk berkarya.

”Karena, dia (Archandra) punya prestasi. Kemampuan dia di bidang energi bagus. Dia dari ITB, sekolah di Amerika Serikat terus punya kemampuan luar biasa. Pemerintah AS nawarin dia untuk membuat penelitian mendalam. Syarat di sana, untuk bisa meneliti lebih dalam, harus jadi warga Amerika Serikat,” paparnya.

Menurut pria yang akrab disapa Nino itu, sebagai orang cerdas dan pintar, tentu Archandra bersedia mendapat kesempatan itu.

”Tapi, Arcandra pribadi punya syarat juga ke pemerintah AS. Dia nggak mau melepas status WNI-nya. Dan pemerintah Amerika Serikat tidak masalah. Saya bisa bicara seperti ini karena saya juga pernah sekolah di sana (AS). Memang seperti itu peraturan di sana,” jelas pria lulusan S2 Southern Methodist University LLM Program, Dallas USA (Amerika Serikat) itu.

Ditegaskan Nino, Archandra  layak menjadi menteri ESDM lagi karena ia memiliki kemampuan menghemat biaya negara puluhan triliun rupiah untuk proyek-proyek migas di negara ini karena ilmu dan pengetahuannya di bidang engineering migas. Dan,  punya kemampuan memperbaiki birokrasi.

”Kalau di Amerika saja AT dihargai dan diapresiasi penguasaan teknologinya, kenapa di negeri sendiri susah sekali untuk dihargai,” pungkasnya.

Secara pribadi, ia tidak mengenal Arcandra. ”Saya tidak punya kepentingan apa pun. Karena, secara pribadi, saya tidak kenal AT. Tapi, sebagai anak bangsa yang pernah mendapat kesempatan belajar di AS dan punya prestasi, saya berharap Archandra bisa ditarik lagi jadi menteri (ESDM). Sayang sekali kalau tidak lho. Seperti Habibie, itu anak bangsa yang punya prestasi hebat. Dia punya nasionalisme tinggi. Makanya mau dipanggil jadi menteri,” imbuh mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Damai Sejahtera ini.

Pria yang mengambil studi International Comparative Law Texas, USA ini menandaskan, begitu juga dengan Archandra.

”Dia punya nasionalisme tinggi. Dia tetap tidak mau melepas status WNI-nya meski ditawari kewarganegaraan AS. Dan, dia mau berbakti untuk negaranya saat dipanggil Jokowi menjadi menteri ESDM,” tukas Nino yang juga advokat di Hanafiah, Pongawa & Partner Law ini. (aen/jpgrup)

Respon Anda?

komentar