Joget Dangkong dan Tarian Khas Suku Laut Sambut Peserta Sail Karimata 2016

1303
Pesona Indonesia
Pertunjukan seni tari khas Lingga, Joget Dangkong akan meriahkan kegiatan Sail Karimata di titik labuh Lingga. foto:hasbi/batampos
Pertunjukan seni tari khas Lingga, Joget Dangkong akan meriahkan kegiatan Sail Karimata di titik labuh Lingga. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Seni pertunjukan dan budaya lokal warga pesisir akan menjadi salah satu agenda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lingga untuk meramaikan event Sail Karimata 2016. Daya tarik serta kearifan lokal ini menjadi potensi dan tawaran daerah pesisir mengangkat kebudayaan Lingga agar semakin dikenal luas.

Hal tersebut disampaikan Kadisbudpar Lingga, M Asward melalui Plt Kasi Seni dan Budaya, Amran kepada wartawan Batam Pos, Rabu (28/9). Disbudpar Lingga, kata Amran, berdasarkan pengalaman mencari tahu keinginan para yatcher dalam kunjungannya ke pulau-pulau pesisir.

“Orang-orang ini (yatcher) menjadi informan dan penyebar informasi dan diakui dunia. Setiap kunjungan mereka akan dituliskan termasuk hal-hal baru serta kearifan lokal untuk disebarluaskan. Makanya, yang kami tawarkan seni, budaya dan kearifan lokal seperti Joget Dangkong dan Tarian Khas warga Asli Suku Laut Pulau Lipan kepada wisatawan nanti,” jelas Amran yang kini sedang mempersiapkan agenda bekerjasama dengan sanggar dan para pelaku seni lokal.

Dengan adanya event ini, Amran berharap informasi kearifan lokal di Kepulauan Lingga yang unik dapat menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk tahun-tahun mendatang. Strategi pariwisata yang berbasis kebudayaan akan menjadi terapan Lingga menggaet wisatawan layar dunia.

“Tulisan-tulisan mereka akan lebih kuat karena langsung turun dan menjadi peserta. Nanti juga akan ada investasi pengalaman. Selain seni pertunjukan, kami juga ajak para peserta ikut dalam permainan rakyat,” sambungnya.

Untuk kegiatan penyambutan, kata Amran, akan berlangsung pada 21 Oktober di Perairan Penuba. Selanjutnya peserta akan dijamu pertunjukan seni sebelum melanjutkan lagi perjalanan menuju zero equator dan menuju titik labuh Pulau Benan pada 24 Oktober. “Di Benan, kami sajikan seni Joget Dangkong dengan konsep natural. Kami akan buat kegiatan di pantai yang sederhana. Sebab mereka (red yatcher) bukan mencari pertunjukan modren karena ditempat mereka jelas lebih bagus. Potensi seni budaya lokal salah satu keunggulan kita,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar