Eksekutor Kasus Pembunuhan yang Membelit Dimas Kanjeng Libatkan 1 Tentara Aktif dan 5 Mantan Tentara

801
Pesona Indonesia
Empat tersangka pembunuhan anak buah Dimas kanjeng Taat Pribadi ditunjukkan ke publik di Mapolda Jatim. Para tersangka WW,AS,KUR,W. Kanjeng Dimas diduga otak perencana pembunuhan itu. Foto:  galihcokro/jawapos
Empat tersangka pembunuhan anak buah Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditunjukkan ke publik di Mapolda Jatim. Para tersangka WW, AS, KUR, dan W. Kanjeng Dimas diduga otak perencana pembunuhan anak buahnya itu. Foto: galihcokro/jawapos

batampos.co.id – Kasus pembunuhan dua orang yang membelit Dimas Kanjeng Tata Pribadi, ternyata cukup runyam. Proses ekeskusi dua anak buahnya itu, Dimas Kanjeng disebut mengerahkan satu tentara aktif dan lima mantan tentara dengan pangkat terakhir Kapten dan Letnan Kolonoel.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Taufik Herdiansyah mengatakan pihaknya masih terus mendalalami kasus pembunuhan terhadap Abdul Gani, salah satu pengikut setia padepokan Dimas Kanjeng Tata Pribadi.

Ia membenarkan dari hasil pengembangan Polda Jatim, ternyata para eksekutor pembunuhan tersebut adalah para pecatan tentara.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos (grup batampos.co.id), tentara yang terlibat total enam orang. Lima di antaranya sudah tidak lagi aktif. Sementara itu, seorang anggota aktif sudah diserahkan ke kesatuannya untuk diproses hukum.

Dua di antara lima tentara yang tidak aktif masih buron. Tiga lainnya sudah tertangkap.

Mantan tentara itu adalah Ahmad Suyono (pangkat terakhir kapten), Wahyu Wijaya (pangkat terakhir letkol), dan Wahyudi (pangkat terakhir letkol). Mereka berperan sebagai tim pelindung.

Dari pengakuan pelaku, kata Taufik, Gani dibunuh karena menyelewengkan banyak uang dan tidak sejalan dengan program padepokan. Dia juga dianggap memprovokasi pengikut lain agar tidak percaya kepada Dimas Kanjeng dengan mau menjadi saksi atas laporan penipuan di Mabes Polri.

Karena itu, disusunlah rencana untuk menghabisi Gani. Penyusunan rencana tersebut dipimpin Wahyu Wijaya (seorang tentara dengan pangkat terakhir Letkol).

Caranya, korban diminta datang ke salah satu rumah di padepokan. “Alasannya, mau dipinjami uang,” ucapnya.

Korban yang datang dengan naik mobil tidak curiga. Ketika masuk ke rumah tersebut, hanya ada satu orang yang menemui. Saat Gani berbincang-bincang, satu pelaku muncul dari belakang dan memukulkan besi ke tengkuknya hingga terjatuh.

Setelah itu, muncul satu pelaku lagi yang menjeratnya dengan tali.

Ketika sudah tidak berdaya, korban ditelanjangi. Wajahnya dilakban dan kepalanya dibungkus plastik. Tubuh Gani kemu­dian dimasukkan ke kontainer yang sudah disiapkan. Tugas selanjutnya diteruskan anggota lain.

Mereka sudah siap di depan rumah tersebut dengan dua mobil. Dengan dua kendaraan itu, pelaku membawa jasad Gani ke Waduk Gajah Mungkur, Wo­nogiri, Jateng.

Di salah satu jembatan tidak jauh dari waduk, tubuh korban dikeluarkan dari mobil dan dilemparkan ke sungai. Pelaku ke­mudian berbalik ke padepokan. Dalam waktu bersamaan, ada pelaku yang bertugas membuang mobil pelaku di Jateng.

“Mobil itu sudah ditemukan,” ucapnya. (eko/c10/nw)

Respon Anda?

komentar