Ketika Diplomat Muda dan Cantik Semprot Pengkritik Indonesia di Sidang PBB

795
Pesona Indonesia
Nara Masista saat menjawab tuduhan dari negara-negara Kepulauan Pasifik. Foto: webtv.un.org
Nara Masista saat menjawab tuduhan dari negara-negara Kepulauan Pasifik. Foto: webtv.un.org

batampos.co.id – Sejumlah negara di Kepulauan Pasifik menuduh pemerintah Indonesia melakukan pelanggaran HAM Di Papua dan Papua Barat.

Tuduhan itu dilontakan saat sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Senin (26/92016) waktu setempat. Pengkritik itu berasal dari pemimpin enam negara di Kepulauan Pasifik– Vanuatu, Kepulauan Solomon, Tonga, Nauru, Kepulauan Marshall, dan Tuvalu. Mereka memaparkan kekhawatiran mereka mengenai pelanggaran HAM di Papua.

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh PM Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare, mereka meminta agar pemerintah Indonesia menghormati hak kebebasan masyarakat Papua.

”Pelanggaran HM di Papua Barat dan keinginan untuk menentukan diri sendiri adalah dua sisi mata uang,” ujar Manasseh Sogavare.

”Banyaknya laporan pelanggaran HAM di Papua Barat menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk mandiri menciptakan pelanggaran HAM yang lebih mendalam,” sambungnya.

Pernyataan serupa juga diucapkan oleh Presiden Kepulauan Marshall Hilda Heine. Heine meminta Dewan Hak Asasi PBB melakukan investigasi mengenai pelanggaran HAM di Papua Barat.

Mendapat tuduhan seperti itu, Indonesia menjawab dengan tegas. Diwakili oleh Nara Masista Rakhmatia, diplomat junior yang bertugas di PBB, Indonesia membantah tuduhan tersebut.

Dengan kepercayaan diri yang terpancar jelas, perempuan 34 tahun itu memaparkan kalau Indonesia terkejut dengan klaim yang dipaparkan negara-negara Kepulauan Pasifik terebut.

Apalagi tuduhan tersebut diungkapkan saat sesi pemaparan mengenai tujuan pembangunan sustainable dan respons dari perubahan iklim.

Dalam pernyataannya Nara mengatakan kalau para pemimpin tersebut melanggar piagam PBB dengan mengintervensi kedaulatan negara lain dan melanggar integritas teritorialnya. ”Kami menolak keras tuduhan atas pelanggaran HAM di Papua,” tegasnya.

Disambung Nara, tuduhan tersebut menunjukkan kalau negara-negara lain tidak memahami mengenai sejarah Indonesia dan perubahan yang sudah terjadi saat ini. Khusus untuk Vanuatu dan Kepulauan Solomon, Nara bahkan membalasnya dengan cantik. ”Mereka yang juga memiliki masalah dengan HAM seharusnya tidak menunjukkan telunjuk mereka kepada Indonesia,” ulasnya.

Ditambahkan perempuan cantik itu, pernyataan negara-negara tersebut bernuansa politik dan dirancang untuk mendukung kelompok-kelompok separatis di provinsi-provinsi (Papua Barat dan Papua, Red). ”Kelompok separatis begitu bersemangat mengganggu ketertiban umum dan melakukan serangan teroris bersenjata terhadap masyarakat sipil dan aparat keamanan,” tutur Nara seperti di lansir DailyPost.vu.

Dalam video di YouTube yang menyebar secara viral, Nara terlihat tidak ragu-ragu dalam memberikan jawabannya. Terang saja, hal tersebut langsung memicu pujian dari netizen. Berita tentang diplomat muda lulusan Sekolah Departemen Luar Negeri angkatan 33 tahun 2008 itu banyak dibaca dan di-share. (tia/jpg)

Respon Anda?

komentar