Masuk Angin Utara, Pedagang Kekurangan Stok Barang Dagangan, Harga Naik

459
Pesona Indonesia
Stok sembako pedagang yang ada di Pasar Inpres Tarempa diperkirakan masih cukup hingga lebaran. foto:syahid/batampos
Pedagang yang ada di Pasar Inpres Tarempa. Sementara di Letung, stok barang dagangan menipis karena musim angin utara. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Sejumlah pedagang tradisional di Kelurahan Letung, Kecamatan Jemaja, mengeluhkan minimnya ketersedian barang dagangan seperti cabai merah, bawang merah, telur dan beberapa komoditi lainnya. Mereka mengaku hal ini disebabkan karena transportasi ke Anambas kurang lancar.

Salah seorang pedagang asal Jemajam Muhammad Rozi, mengatakan hal ini biasa terjadi apabila masuk musim angin utara. Pada saat musim itu angin bertiup kencang dan ombak di Laut China Selatan juga besar sehingga kapal kargo maupun kapal berukuran menengan ke bawah, tidak bisa mengarungi laut tersebut.

Karena kondisi cuaca berubah menjadi ektrim, maka kapal pengangkut bahan sembako tidak bisa berlayar sesuai dengan jadwal yang ditentukan. “Ketersedian bahan sembako mulai menipis, akibat transportasi tidak lancar,” ungkap Muhammad Rozi, Kamis (29/9).

Kata Rozi, karena stok bahan sembako menipis, maka terjadi kenaikan harga yang signifikan. Seperti harga telur yang semula hanya sekitar Rp 42.500 perpapan naik menjadi Rp 55 ribu perpapan, demikian juga dengan barang dagangan lainnya. “Kenaikan harga barang biasa terjadi di saat musim utara,” ungkapnya lagi.

Ia menambahkan selama ini bahan sembako yang didapatkan oleh para pedagang harus mendatangkan dari kota Tanjungpinang, disebabkan tidak ada petani yang mengelola pertanian. “Kami terpaksa jual harga barang dengan nilai tinggi apabila musim utara,” jelasnya.

Seorang ibu rumah tangga dari Desa Rewak, ketika ditemui, Rogayah (32) mengatakan harga bahan sembako yang dijual oleh pedagang cukup mahal sementara itu untuk mendapatkan barang yang diinginkan juga sangat sulit. “Bahan sembako yang kita butuhkan sulit didapatkan dan harganya juga mahal,” jelasnya.

Kata Gayah, saat ini perekonomian keluarganya mulai mengalami penurunan sebab pendapatan yang dihasilkan oleh suaminya sebagai buruh bangunan sifatnya tak tetap tapi barang-barang kebutuhan pokok naik. “Naiknya harga barang tidak diimbangi dengan naiknya upah,” ucapnya.

Dalam memenuhi kebutuhan keluarganya ia terpaksa bekerja sebagai cuci baju. “Kalau tak dibantu, suami kewalahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” tukasnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar