Perdagangan Satwa Langka Kembali Dibongkar Polisi

778
Pesona Indonesia
Ilustrasi. Foto: dok/jpnn
Ilustrasi. Foto: dok/jpnn

batampos.co.id – Jajaran Polda Sumsel kembali mengungkap perdagangan satwa langka dan dilindungi negara di Palembang, Sumatera Selatan.

Setelah sebelum berhasil menggagalkan pengiriman anak buaya muara hingga memajang di kawasan Pasar Burung 16 Ilir, polisi menangkap Karman, 26, karena memasarkan satwa langka melalui online Facebook.

Bisnis ilegal ini sudah delapan bulan dijalaninya. Khusus memperdagangkan anak kucing hutan (felis bengalensis), dan anak buaya muara (crocodylus porosus).

Jika ada yang tertarik, transaksi melalui pin Blackberry Massenger (BBM) yang diberikannya. “Anak kucing hutan dan buaya muara, saya beli dari orang lain juga. Harganya masing-masing Rp200 ribu. Lalu saya jual lagi Rp250 ribu hingga Rp300 ribu,” kata Karman, seperti diberitakan Sumatera Ekspress (Jawa Pos Group) hari ini (30/9).

Bisnis haramnya tersebut, akhirnya terhenti sementara. Dia ditangkap kawasan Pasar Burung, 16 Ilir, Rabu (28/9) pukul 14.00 WIB. Aparat Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel, mendapati barang bukti 3 ekor anak kucing hutan dan 2 ekor anak buaya muara.

Siang itu, Karman hendak bertransaksi menyerahkan satwa kepada pemesannya. Dalam menjalankan bisnisnya, Karman mengaku tidak membawa pulang ke rumah satwa tersebut. “Kalau ada yang pesan, baru saya cari. Begitu dapat, langsung ketemuan dan transaksi hari itu juga di Pasar Burung 16 Ilir,” tutur Karman, warga Jl Pangeran Antasari, Kelurahan 13 Ilir, Kecamatan IT I.

Meski demikian, dia mangaku hanya sebatas ikut temannya. Selain membantu memasarkan kucing hutan dan buaya muara, juga menjual musang (paradoxurus hermaphroditus).“Baru dua bulan terakhir, saya transaksi sendiri. Untuk kucing hutan, sudah 4 kali saya jual. Sedangkan jual buaya muara, baru sekali,” pungkasnya.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumsel, AKBP Tulus Sinaga didampingi Kanit IV Kompol Raphael BJ Lingga, mengatakan, tersangka dikenakan Pasal 40 ayat 2 Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. “Ancamannya pidana penjara lima tahun. Saat ini, kami juga masih mengejar satu tersangka lagi yang merupakan teman tersangka,” kata Tulus.

Selain itu, Tulus mengimbau kepada masyarakat yang memelihara satwa dilindungi tanpa sertifikasi penangkaran, untuk segera menyerahkan ke pihak yang berwenang. “Memelihara satwa dilindungi tanpa izin atau ilegal, itu melanggar hukum. Makanya terus kami sosialisasikan,” ujarnya.

Ketiga anak kucing hutan dan kedua anak buaya muara tersebut, kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel. Koordinator Urusan Perlindungan Pengawasan dan Pengamanan BKSDA Sumsel, Andriansyah, menyebut habitat satwa tersebut berada di Sungai Sembilang dan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Muara Dangku (Muara Enim).

Termasuk juga di sepanjang Bukit Barisan dan Gunung Dempo Pagaralam. “Populasi kedua satwa ini sudah langka. Jadi, akan segera kami lepas ke habitatnya. Tapi, akan dikarantina terlebih dahulu,” jelasnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar