YLKI: Kenaikan Cukai masih Terlalu Rendah

1385
Pesona Indonesia

rokokbatampos.co.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah memutuskan menaikkan cukai rokok dengan prosentase tertinggi sebesar 13,46 persen pada tahun 2017, mendatang.

Angka itu dinilai Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi masih terlalu rendah.

Menurutnya kenaikan ini tidak akan mampu menahan laju konsumsi pada masyarakat. Artinya, ungkap dia, cukai sebagai instrumen pengendali konsumsi rokok telah gagal karena persentasenya terlalu rendah.

Pasalnya, dalam hal ini pemerintah hanya memperhatikan aspek pertumbuhan ekonomi yang tidak mempengaruhi daya beli masyarakat.

“Oleh karenanya, kenaikan cukai minimal harus dua kali lipatnya yakni 20 persen,” ujar Tulus dalam keterangannya kepada Jawapos.com, Sabtu (1/9).

Kenaikan cukai ini imbuh dia, terlalu berpihak pada kepentingan industri rokok. Sebab untuk kenaikan tahun 2017 sudah diumumkan dari jauh-jauh hari. Dengan diumumkan saat ini para industri rokok bisa memproduksi sebanyak-banyaknya.

“Caranya menimbun selagi harga cukainya belum naik,” katanya.

Kenaikan cukai tertinggi sebesar 13,46 persen juga tidak sejalan dengan aspirasi publik. Terbukti kata dia, bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mendukung agar cukai dan harga rokok dinaikkan secara signifikan.

Karenanya, untuk memproteksi masyarakat dari bahaya rokok dan membentengi rumah tangga miskin agar tidak semakin miskin akibat konsumsi rokok. YLKI mendesak rencana kenaikan itu diubah menjadi minimal 20 persen.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkeu akhirnya memutuskan menaikkan tarif cukai hasil tembakau pada 2017. Adapun keputusan kenaikan itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 147 PMK/.010/2016.

Dalam PMK ini disebutkan kenaikan tarif tertinggi sebesar 13,46 persen untuk jenis tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) dan terendah adalah nol persen untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata sebesar 10,54 persen.

Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan keputusan kenaikan tarif ini sudah dibicarakan dengan berbagai pemangku kebijakan, seperti dari pihak yang peduli dengan kesehatan dan pihak produsen, maupun asosiasi pengusaha rokok.

Dia juga mengaku sebelumnya telah melakukan pertemuan dan diskusi secara mendalam dengan Pemerintah Daerah (Pemda), yayasan, dan universitas. Di mana hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesimpulan kenaikan cukai merupakan langkah yang harus ditempuh dalam rangka pengendalian konsumsi dan produksi.(cr2/JPG).

Respon Anda?

komentar