Banyak Aplikasi yang Berpotensi Menjadikan Anak Pengguna Gadget Jadi Korban

489
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Semakin gemar seorang anak pada gadget, maka semakin membuka peluang bagi mereka menjadi korban bisnis pornografi dan kejahatan seksual.

Tidak hanya situs porno, saat ini Bareskrim mendeteksi telah ada 18 situs gay dan pedofilia yang sangat berpotensi membuat anak menjadi korban.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) merancang peraturan pemerintah untuk mengatur penggunaan gadget oleh anak.

Sesuai data Bareskrim, 18 aplikasi gay dan pedofilia itu sangat mungkin membuat anak menjadi korban. Pasalnya, ada semacam fasilitas yang bisa sampai mengetahui lokasi pengguna aplikasi. Bisa jadi, anak diketahui lokasinya dan terancam oleh gay dan pedofil.

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto menuturkan, jumlah kasus kejahatan seksual yang melibatkan anak juga membuat masyarakat tidak bisa acuh lagi. Merujuk data Bareskrim, sepanjang 2013 terdapat 955 kasus, pada 2014 ada 382 kasus, 2015 kasus meningkat menjadi 574 dan medio 2016 baru terdata 29 kasus.

”Keberadaan aplikasi gay dan pedofil itu juga mempengaruhi kejahatan seksual terhadap anak,” tuturnya.

Penutupan aplikasi gay itu memang sangat diperlukan, tapi langkah pencegahan yang lebih masif harus dilakukan. salah satunya, dengan membuat aplikasi perlindungan terhadap anak. Sehingga, gadget yang dimiliki itu bisa terkendali penggunaannya. ”Aplikasi semacam itu sudah ada,” jelasnya.

Ada beberapa aplikasi, misalnya aplikasi perlindungan anak dan pengawasan orang tua. Dengan aplikasi itu, maka gadget yang dimiliki anak bisa tercegah dan tidak masuk ke situs porno atau mendownload aplikasi gay. ”Saya lihat di play store dan  Appstore  sudah ada,” terangnya.

Hanya tinggal orang tua yang memainkan perannya. Dia menghimbau ada para orang tua untuk mengunduh aplikasi tersebut. Sehingga, pengawasan yang dilakukan orang tua bisa lebih mudah. ”Tak perlu untuk terus mengecek handphone anak,” paparnya.

Sementara Deputi Bidang Perlindungan Anak  KP3A Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, sesuai kajian KP3A saat ini terdapat 87 juta anak di Indonesia. Dari angka itu, anak cowok terancam kejahatan seksual anak lebih tinggi dengan presentasi 8,3 persen dan anak cewek hanya sekitar 4 persen. ”Kalau diangkakan itu anak cowok yang terancam itu lebih dari 900 ribu orang,” tuturnya.

Mengapa justru anak cowok yang lebih terancam? Menuturnya, fenomena itu terjadi karena pendidikan dalam keluarga yang sebenarnya perlu untuk dikritisi. Misalnya, anak cowok itu dibiasakan tidak boleh menangis, tidak boleh mengadu ke orang tua dan harus lebih tegar.

”Itu bisa berpengaruh pada anak cowok enggan untuk mengadukan apa yang terjadi padanya. Ditambah lagi dengan maraknya penggunaan gadget oleh anak,” ujarnya.

Karena itu, KP3A berupaya mengubahnya dengan merancang peraturan pemerintah untuk mengendalikan penggunaan gadget oleh anak. Menurutnya, PP tersebut akan menjadi semacam buku saku untuk pemerintah daerah, orang tua dan guru. ”dalam PP itu diatur bagaimana penggunaan gadget yang dilakukan anak,” tuturnya.

Yang juga penting, dalam PP itu terdapat semacam edukasi seks untuk anak. Sehingga, anak mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan orang lain pada dirinya. Misalnya, mana anggota tubuh yang harus dijaga dan siapa yang boleh menyentuhnya. ”Kadang anak tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh,” tuturnya.

PP tersebut sebenarnya sudah dirancang dua tahun terakhir. Dengan adanya kasus anak yang dieksploitasi gay dan pedofil, maka pembuatannya dipercepat. Harapanya, pada akhir tahun ini PP tersebut sudah selesai.
”Sehingga, kedepan sudah ada tata cara yang bsia ditempuh mencegah anak menjadi korban kejahatan seksual yang bermula dari dunia maya,” paparnya. (idr/jpg)

Respon Anda?

komentar