Demo di PLN, Dua Orang Tertembak

1025
Pesona Indonesia
Anggota polisi Satuan Sabhara dari Unit Pengurai Massa (Raimas) menggunakan sepeda motor sedang menghalau para pendemo anarkis dalam simulasi sistim pengamanan kota (Sispamkota). foto:sandi/batampos
Anggota polisi Satuan Sabhara dari Unit Pengurai Massa (Raimas) menggunakan sepeda motor sedang menghalau para pendemo anarkis dalam simulasi sistim pengamanan kota (Sispamkota). foto:sandi/batampos

batampos.co.id – Akibat adanya pemadaman yang sering terjadi dan tidak sesuai dengan jadwal pemadaman, ratusan warga melakukan aksi demo ke Kantor PLN untuk menuntut agar pemadaman listrik dihentikan. Namun, aksi demo yang awalnya berjalan damai berubah menjadi anarkhis disebabkan warga mendesak ingin bertemu dengan kepala PLN, namun tidak berhasil. Akibatnya, dua orang pendemo mengalami luka tembak peluru karet yang dilepaskan pasukan Brimob Kompi 4 Den A Pelopor Polda Kepri.

Peristiwa ini tidak benar-benar terjadi, melainkan hanya berupa simulasi latihan sistem pengamanan kota (Sispamkota) yang dilaksanakan oleh Polres Karimun yang melibatkan semua unsur di satuan kepolisian di Jalan Coastal Area pada Sabtu (1/10) untuk meningkatkan pemahanan dan antisipasi demo yang dilakukan sekolompok massa ke objek vital dan merupakan milik negara, seperti PLN.

”Kita sama sekali tidak berharap kalau aksi demo akan berakhir dengan tindakan anarkhis. Bahkan, saya katakan saat wilayah Karimun termasuk yang aman di Kepri. Namun, apa yang kita lakukan ini semata-mata untuk melatih anggota kita bagaimana caranya polisi dalam mengambil tindakan dan bagaimana sikap polisi ketika menghadapi demo yang anarkis,” ujar Kapolres Karimun, AKBP Armaini kepada koran Batam Pos.

Jika tidak dilakukan pelatihan, lanjut Kapolres, apakah mungkin dapat mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan pada saat kontijensi atau situasi yang serba tidak pasti. Dengan latihan ini, diharapkan masing-masing satuan dapat memahami dan mengetahui apa tugas dan tindakan yang akan dilakukan dalam suatu situasi aksi demo sebelum dan pada saat terjadi anarkis. Sehingga, polisi yang melakukan pengamanan demo tidak salah dalam mengambil kebijakan dan tidak melanggar hak azazi manusia (HAM).

”Dengan adanya pelatihan Sispamkota ini, tentunya setiap anggota polisi yang ada di masing-masing satuan sudah dapat mengetahui apa yang akan dilakukan jika berhadapan dengan aksi demo. Misalnya, peran Satuan Intelkam tentunya melakukan pendekatan dengan koordinator aksi sebelum hari pelaksanaan demo. Ukuran keberhasilan dalam pengamanan aksi demo sebenarnya ada tiga. Yakni, setelah polisi turun tangan sebelum hari H, maka demo tidak jadi. Kemudian, seandainya demo tetap dijalankan, massa yang hadir tidak ramai. Dan terakhir, demo berlangsung damai atau tidak anarkis,” paparnya. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar