Inggris Resmi Hengkang dari Uni Eropa Akhir Maret 2017

270
Pesona Indonesia
Perdana Menteri Inggris Theresa May. Foto: OLI SCARFF / AFP
Perdana Menteri Inggris Theresa May. Foto: OLI SCARFF / AFP

batampos.co.id – Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May mengungkapkan kepastian Inggris memulai proses resmi untuk keluar dari Uni Eropa (UE) pada akhir Maret 2017. Itu  kali pertama May memberikan kepastian perceraian Inggris Raya dengan UE.

”Proses meninggalkan UE akan cukup rumit,” ujar May saat diwawancarai dalam The Andrew Marr Show, tayangan BBC One, Minggu (2/10/2016).

May berharap mulai saat ini ada persiapan yang bakal dilakukan dengan negara-negara UE yang masih tersisa. Dengan begitu, ketika proses dimulai, negosiasi bakal berjalan mulus.

Berdasar aturan, untuk meninggalkan UE, Inggris akan memicu pasal 50 dalam Perjanjian Lisbon. Butuh waktu 2 tahun untuk proses negosiasi sampai Inggris benar-benar lepas dari UE. Dengan kata lain, Brexit baru terjadi pada 2019.

Sebelumnya, saat diwawancarai The Sunday Times, May mengungkapkan bahwa bakal ada Great Repeal Bill atau UU Penghapusan Skala Besar ketika Inggris keluar dari UE.

UU tersebut akan membatalkan UU yang membuat UE sebagai pembuat aturan tertinggi, mengabaikan semua aturan UE di dalam hukum domestik, dan mengonfirmasi bahwa parlemen Inggris bisa mengamandemen UU sesuai dengan yang diinginkan rakyat Inggris.

”Ini menjadi babak awal Inggris untuk menjadi negara yang berdaulat dan merdeka lagi,” tegas May.

”UU tersebut akan mengembalikan kekuatan dan otoritas pada institusi yang dipilih negara kami. Itu artinya, otoritas UU UE di Inggris bakal berakhir,” tambahnya.

Pernyataan May langsung mendapat banyak reaksi. Legislator Andrew Bridgen menyatakan, pernyataan dan waktu yang dipilih May sudah tepat. Namun, di lain pihak, banyak juga yang meragukan keputusan May tersebut. Sebab, momen memicu pasal 50 tersebut dianggap terlalu cepat dan justru bisa membuat Inggris tertekan.

Terlebih pada 2017 Prancis dan Jerman menghadapi pemilu. Dengan kata lain, partner negosiasi Brexit bisa berubah di tengah-tengah karena adanya pergantian pemimpin di kedua negara. (Reuters/AFP/BBC/sha/c15/sof) 

Respon Anda?

komentar