Harga Gas Turun 40 Persen, Industri Lebih Kompetitif

748
Pesona Indonesia
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dengan kekuatan 2 x 35 MW Simple Cycle di Tanjunguncang milik PT Energi Listrik Batam (ELB) yang diresmikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, Senin (16/5). Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dengan kekuatan 2 x 35 MW Simple Cycle di Tanjunguncang milik PT Energi Listrik Batam (ELB). Turunnya harga gas bisa membuat listrik di Batam bakal lebih murah. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Industri yang selama ini bergantung kepada pasokan gas bumi bisa bernapas lega. Pemerintah memastikan bakal menurunkan harga gas untuk industri per 1 Januari 2017.

Meski belum ditentukan, sudah bisa dipastikan harganya bakal di bawah USD 6 per mmbtu. Sehingga, isndustri terkait bisa mendapat benefit yang besar.

Keputusan penurunan harga gas itu dibahas dalam rapat terbatas di kantor Presiden kemarin (4/10).

’’Informasi yang saya peroleh, harga gas di Indoensia mencapai 9,5 USD per mmbtu,’’ ujar Jokowi dalam penjelasan awalnya.

Harga itu sangat tidak kompetitif. Di ASEAN saja, banyak yang lebih murah. Di Vietnam, harga gas USD 7 per mmbtu. Sementara, di Malaysia dan Singapura hanya USD 4.

Akibatnya, industri dalam egeri tidak mampu bersaing dengan negara lain. Karena itu, dia meminta ada langkah yang bisa membuat harga gas lebih kompetitif.

’’Saya kemarin itung-itungan, ketemunya 5 sampai 6 (USD). Kalau nggak angkanya itu, ya nggak usah dihitung saja,’’ lanjutnya.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah memangkas rantai distribusi gas sehingga biayanya lebih efisien.

Dampak utama panurunan harga gas tersebut tentunya adalah turunnya biaya produksi. ’’Economic benefit-nya sekitar 31 triliun,’’ ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai ratas.

Efisiensi itu akan terjadi pada 10 sektor industri plus satu kawasan Industri. Beberapa di antaranya adalah industri pupuk, oleokimia, baja, keramik, pulp, tekstil, hingga makanan dan minuman.

Perhitungan tersebut diapat dari harga pokokmpenjualan gas seharga USD 4 per mmbtu ditambah biaya distribusi USD 1,5-2. Sehngga, ketika sampai di pabrik, harganya menjadi USD 6. Harga tersebut, bila direalisasikan, lebih murah 40 persen dengan harga rata-rata saat ini sebesar USD 9,5 per mmbtu. Harga tersbeut juga akan relatif sama dengan harga gas untuk kebutuhan ekspor.

Sebagai contoh, Industri pupuk sangat berkepentingan dnegan penurunan harga gas. Pupuk Sriwidjaja misalnya, menyebut bahwa gas merupakan komponen utama dalam struktur biaya produksi. Persentasenya mencapai 70 persen dari total biaya produksi. Dengan menurunnya harga gas, maka ongkos produksi akan ikut turun juga.

Diharapkan, dengan begitu harga jual produk-produk industribisa lebih kompetitif. Total nilai industri tersebut mencapai Rp 1.200 triliun atau 10,8 persen Produk Domestik Bruto.

Bila harga gas turun, diprediksi terjadi peningkatan kontribusi 10 industri tersebut terhadap PDB sekitar 20 persen. Sehingga, nilainya menjadi sekitar 12,8 persen atau naik 2 persen dari saat ini.

Dampak tersebut belum termasuk kebutuhan tenaga kerja tambahan yang berpotensi meningkatkan jumlah lapangan kerja.

Mengapa harga gas bisa mahal? Airlangga menyebut, salah satunya adalah biaya distribusi yang bisa berbeda-beda. Misalnya depresiasi pipa gas yang hanya dihitung lima tahun, padahal bisa saja daya tahaun pipa tersebut mencapai 20 tahun.

’’Nanti akan diseragamkan menjadi 30 tahun,’’ tutur politikus Partai Golkar itu.

Harga tertinggi saat ini ada di Aceh, yang bahkan bisa mencapai 14 USD per mmbtu. Itu merupakan dampak dari regasifikasi di Arun ditambah berbagai macam biaya sewa dan depresiasi pipa, sehingga harganya melambung. Dengan penetapan depresiasi 30 tahun, maka biaya distribusi bisa turun.

Pihaknya diberi waktu satu bulan untuk merumuskan besaran harga gas yang akan diterapkan per 1 Januari 2017. Paling lambat, akhir November sudah ada keputusan resmi berapa harga gas terbaru. Selain itu, multiplier effect penurunan  harga tersebut juga harus dihitung sejak sekarang.

Airlangga menambahkan, penurunan harga itu nanti akan berlaku secara nasional. ’’Tentu kita akan lihat, yang dekat dengan sumber (gas) seperti di Bintuni dan Masela mungkin harganya berbeda,’’ tutupnya. (byu/JPGrup)

Respon Anda?

komentar