LAM Kepri : Tindak yang Melecehkan Dunia Pendidikan

1343
Pesona Indonesia
Massa yang berunjuk rasa di depan Kafe Basecamp, Tanjungpinang, Selasa (4/10). foto:osias de/batampos
Massa yang berunjuk rasa di depan Kafe Basecamp, Tanjungpinang, Selasa (4/10). foto:osias de/batampos

batampos.co.id – Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, meminta Pemko Tanjungpinang untuk mengambil tindakan tegas atas pelecehan terhadap dunia pendidikan yang dilakukan kafe Basecamp dengan membuat event ”Back To School Party” yang menggunakan seragam sekolah dan perbuatan yang tak terpuji oleh pemilik kafe tersebut kepada Sekda Pemko Tanjungpinang, Riono.

Ketua LAM Kepri, Abdul Razak, mengatakan perbuatan melecehkan dunia pendidikan dan membentak Sekda yang merupakan wakil Pemerintah Daerah (Pemda) setempat merupakan perbuatan yang tidak bisa ditolerir.

”Jangan mentang-mentang dia (pemilik kafe) banyak duit bisa berbuat sesuka hati. Kami merasa tersinggung dengan pemiliknya,” ujar Razak.

Menurut Razak, kedatangan Sekda ke kafe tersebut merupakan hal yang wajar. Karena event dengan menggunakan atribut sekolah dengan menyajikan minuman beralkohol itu tidak patut dan merupakan hal yang negatif.

”Sopan santun di daerah melayu ini harus dipegang. Karena Kepri ini mentabiskan diri sebagai bunda tanah melayu,” katanya.

Dilanjutkan Razak, dirinya telah menghubungi Walikota Tanjungpinang dan meminta Pemko Tanjungpinang memberikan tindak tegas terhadap kafe yang menyalahi aturan tersebut.

”Pemko harus tegas. Coba lihat, Sekda datang ke sana pemiliknya malah menanyakan surat tugas. Sekali lagi saya tegaskan, kedatangan Sekda ke sana itu wajar karena menindaklanjuti perintah Walikota yang menerima laporan dari masyarakat,” kata Razak.

Sementara itu, komisioner Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Eri Syahrial, menyesalkan adanya event di tempat hiburan malam yang menggunakan seragam sekolah. Karena seolah-olah memberikan peluang kepada pelajar untuk melakukan hal negatif.

”Menggunakan seragam sekolah menenggak miras, etika seperti itu yang tidak boleh ditiru oleh anak. Karena artinya secara tidak langsung mengajarkan anak berbuat hal yang tidak baik,” ujar Eri.

Dikatakan Eri, mestinya dunia hiburan malam punya tanggung jawab juga. Walaupun even tersebut tidak diikuti pelajar. Tapi walaupun orang dewasa yang memakai baju dengan ada form Osis itu kan tidak etis.

”Dunia pendidikan harus dihormati. Ini dunia hiburan malam tidak responsif, padahal dunia pendidikan ini merupakan tanggung jawab bersama,” kata Eri.

Dilanjutkan Eri, pihaknya mendukung upaya-upaya yang sudah dilakukan Pemko Tanjungpinang. Pihaknya, juga akan menyurati pemilik Basecamp dan dunia hiburan malam lainnya yang ada agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

”Kepri ini kan, daerah melayu yang menjunjung tinggi nilai adat, sosial dan agama. Namun, dengan adanya peristiwa yng mencoreng dunia pendidikan sepertinya dilanggar norma-norma yang ada,” ucap Eri.

KPPAD berharap, para pelaku dunia hiburan malam, untuk membuat event di kafenya agar tidak membawa simbol pendidikan, simbol anak. Serta membuat konsep melihat mana yang boleh dan tidak.

”Silahkan dunia hiburan malam hidup. Tapi buatlah event yang sewajarnya saja,” tegas Eri.

Terpisah, Ketua PGRI Provinsi Kepri, Dadang AG, mengatakan dunia pendidikan sangat tercoreng dengan event yang diadakan kafe Basecamp dengan menggunakan seragam sekolah tersebut.

”Semua orang tersinggung, apagi kami yang di dunia pendidikan. Kami, guru-guru sudah membina anak-nak supaya membentengi diri hal yang negatif. Tapi justru. Dia (pemilik kafe) sebagai pengusaha membuat event yang menggunakan atribut sekolah sama saja melecehkan,” ujar Dadang.

Dikatakan Dadang, pihaknya mendesak Pemerintah yang mempunyai wewenang tentang perizinan agar meninjau dan bila perlu mencabut izin usaha dan operasional kafe tersebut. Ditambahkannya, terkait tercorengnya dunia pendidikan atas event yang dilakukan kafe Basecamp tersebut. Pihaknya telah mengadukan hal tersebut kepada Polres Tanjungpinang.

”Kami serahkan kepada yang berwenang. Tapi yang jelas pemilik kafe sangat menyinggung dunia pendidikan kita,”ucap Dadang.

Kapolres Tanjungpinang, AKBP Joko Bintoro melalui Kasat Reskrim AKP Andri Kurniawan, membenarkan pihaknya telah menerima laporan resmi dari PGRI terkait kejadian di kafe Basecamp. Pihaknya akan pelajari terlebih dulu untuk mencari unsur-unsur tindakan melawan hukum dari laporan tersebut.

”Sudah kami terima laporannya. Sementara laporannya kami pelajari terlebih dulu,” ujar Andri singkat.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar