Obat di Puskesmas Habis, Warga Diminta Beli di Apotek

631
Pesona Indonesia
Petugas kesehatan meracik obat di Puskesmas. Foto: istimewa
Petugas kesehatan meracik obat di Puskesmas. Foto: istimewa

batampos.co.id – Puluhan warga yang berobat di Puskesmas Sekupang, Selasa (4/10/2016) kemarin terpaksa merogoh kocek. Pasalnya, obat tertentu di Puskesmas itu habis sehingga mereka diminta menebus obat di apotek.

“Kami dikasih kertas yang ditulis nama obat, saya dapat kertas ini,” ungkap seorang warga, Rosmi.

Kertas yang diterima Rosmi bertuliskan ‘Ambroxol Syrup’ yakni obat pengencer dahak pasien yang batuk. Setelah ditebus di apotik, nama obat yang diberikan petugas dinilai salah.

“Saya dikasih obat batuk berdahak, padahal anak sayakan batuk kering,” ujar dia lagi.

Dia mengaku kecewa padahal dengan berbekal Kartu Indonesia Sehat (KIS) dirinya sudah mengantri hingga dua jam. Warga yang lain tak sedikit yang memilih pulang. “Tunggu lama, obatnya tidak lengkap pula,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Sekupang Anna Hashina tidak memungkiri sebagian obat kosong sejak sebulan yang lalu, namun dia mengaku telah mengorder namun belum diantar.

“Sebagian obat kosong tapi yang lain ada. Kalau obat tidak ada di Puskesmas, pasien boleh beli diluar,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Chandra Rizal menyayangkan petugas meminta pasien untuk menebus obat diluar. Menurutnya petugas bisa memberikan obat alternatif yang serupa dengan obat yang tidak ada.

“Ini nggak boleh. Kalau dia pintar ya kasih obat yang lain, kan banyak obat alternatif, kayak antibiotik banyak jenisnya, ini tergantung kepiawaian para medisnya,” paparnya.

Namun dia mengklaim pada dasarnya ketersediaan obat ada, walau ada beberapa item yang kosong. Menurutnya puskesmas tinggal mengajukan obat sesuai kebutuhan selama setahun.

“Mungkin petugasnya kelupaan, wajarkan dia kecapean kerja pagi sampai sore. Nanti saya tegur, ini masalah kinerja soalnya,” pungkasnya.

Koran Batam Pos (grup batampos.co.id) sempat mengunjungi instalasi farmasi milik Dinkes Batam. Petugas mengatakan obat Ambroxol Syrup memang kosong. “Obatnya kosong sudah lama,” kata petugas tersebut.

Kekosongan ini sangat disayangkan karena biaya yang dikeluarkan pemerintah sangat besar. Dinkes Batam mengganggarkan lebih kurang Rp7 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2016, untuk pembelian obat. (cr13)

Respon Anda?

komentar