Sapardi, Satu dari Empat Ilmuwan Peraih Habibie Award 2016

625
Pesona Indonesia
Sapardi (dua dari kiri), bersama tiga peraih penghargaan Habibie Award 2016. Sumber Foto: gatra.com
Sapardi (dua dari kiri), bersama tiga peraih penghargaan Habibie Award 2016. Sumber Foto: gatra.com

batampos.co.id – Empat ilmuwan yang punya dedikasi dan kontribusi tinggi pada pengembangan ilmu pengetahuan diganjar penghargaan Habibie Award, Rabu (5/10/2016).

Penghargaan yang diinisasi oleh mantan Presiden BJ Habibie itu sebenarnya punya lima kategori utama. Tapi, dari penilaian tim hanya empat kategori saja yang layak mendapatkan anugerah berhadiah USD 25 ribu itu.

Empat ilmuwan itu adalah:

  1. Sapardi Djoko Damono bidang ilmu kebudayaan,
  2. Prof Hendra Gunawan (ilmu dasar),
  3. Raymond R. Tjandrawinata (ilmu kedokteran dan bioteknologi),
  4. Prof Tommy Firman (ilmu rekayasa).

Sedangkan satu kategori  yang belum ditemukan figur yang layak menerima adalah bidang ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum.

Ketua Panitia Seleksi Penerima Habibie Award Prof Wardiman Djojonegoro menuturkan sebenarnya siapapun bisa mengusulkan tokoh yang dianggap mendapatkan penghargaan tersebut.

Tapi, ada tim yang menyeleksi dengan begitu ketat rekam jejak calon berdasarkan karya-karya yang telah dibuat. Tiap kategori ada sekitar 20 nama yang masuk ke meja panitia.

”Lalu kami telisik rekam jejaknya salah satunya di Scopus, Google Scholar, dan berapa paten yang telah didapat,” ujar dia.

Guru besar yang juga menjadi ketua dewan pengurus Yayasan Sumberdaya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM-Iptek) itu menjelaskan penghargaan itu ditujukan untuk mengapresiasi ilmuwan yang selama ini lebih lama bekerja di laboratorium. Mereka bisa tampil di hadapan publik dan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk tetap berdedikasi dalam iptek. ”Ini penghargaan untuk yang top dalam bidangnya,” kata dia.

Penghargaan tersebut diberikan di Pendopo Habibie & Ainun di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Habibie terlihat hadir langsung menyaksikan pemberian penghargaan tersebut. Terlihat pula Ilham Akbar Habibie dan mantan Menteri Pendidikan Nasional Prof Abdul Malik Fadjar.

Sebelum pemberian penghargaan tersebut, pada penerima Habibie Award itu sempat memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Sapardi yang lebih dikenal sebagai penyair ternyata juga menerbitkan puluhan buku perkuliahan. Lelaki 76 tahun itu mengungkapkan dia pernah pula mendapatkan penghargaan teknologi sastra dari Habibie pada saat masih menjadi menteri riset dan teknologi pada 1996.

”Saya menulis sejak SMA, tapi setelah lulus sarjana saya jadi peneliti,” ujar mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu.

Menurut dia, penghargaan tersebut akan terus memacunya untuk menerbitkan buku dengan lebih lancar karena tidak terkendala lagi dengan pendanaan.

”Tahun ini mau bikin satu, mungkin dua novel lagi yang harus saya selesaikan,” ujar penyair Hujan Bulan Juni itu.

Prof Hendra Gunawan yang mendapatkan Habibie Award bidang ilmu dasar adalah matematikawan dari ITB yang begitu produktif meneliti dan menulis. Dia telah menulis 55 makalah di jurnal internasional.

Selain itu, dia juga membuat situs khusus untuk mendekatkan matematika pada anak sejak 2013. ”Saya akan terus meneliti. Mungkin sampai 15 tahun kedepan lagi,” ujar pria kelahiran Bandung, 29 Desember 1964 itu.

Selain Prof Hendra, ada ilmuwan lain dari ITB yang mendapatkan penghargaan tersebut. Dia adalah Prof Tommy Firman yang aktif di berbagai lembaga internasional terkemuka.

Dia pun pernah menerima penghargaan lain seperti Ristek Award, Rockefeller Award, dan Otto Koeningsberger.

”Penghargaan Habibie Award ini sangat prestisius,” ungkap Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB.

Sementara Raymond yang memperoleh penghargaan bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi sudah punya 16 paten luar negeri, empat paten dalam negeri, dan penemu tujuh produk farmasi.

Dia pernah di NASA Center dan kini berkarir di Dexa Medica sebagai peneliti. ”Saya terus mencari bahan-bahan alami untuk bahan obat buatan,” ujar Raymond. (jun/jpg)

Respon Anda?

komentar