Bupati Lingga akan Mengadu Kepada Presiden Lewat Puisi

2440
Pesona Indonesia
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Dipentas para penyair peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2016 yang akan berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, menjadi kado istimewa bagi Bupati Lingga, Alias Wello. Bagaimana tidak, diantara ratusan nama para penyair terkemuka di Indonesia, Alias Wello juga mendapat tempat untuk tampil. Sebagai salah satu kepala daerah yang piawai berpuisi, Awe sapaan akrab Bupati Lingga akan mengadu pada Presiden Indonesia, Jokowi, lewat pentas dan gelanggang kata tersebut.

Berpuisi, kata Awe memang telah menjadi bagian hidupnya. Meski tidak ditekuni lebih jauh, pria kelahiran Dabo Singkep 7 Januari 1963, ini kerap menyelipkan puisi dalam setiap kegiatan pemerintahan sejak ia memimpin Lingga. Tujuannya, memberi semangat kepada jajarannya. Apresiasi dari undangan HPI pada tanggal 12 Oktober di TIM Jakarta nanti, menjadi sebuah apresiasi besar yang ia terima.

“Ini sebuah apresiasi. Tiba-tiba ada undangan dan aku akan memenuhi undangan tersebut,” kata Awe, Rabu (5/10).

Sejak di bangku SD lagi, secara otodidak pengagum WS Rendra dan Charil Anwar tersebut mengaku telah tertarik dengan dunia puisi. Bahkan saat duduk di bangku SMA, pentas puisi hingga dibangku kuliah di Jogjakarta ia selalu tampil. Bahkan menjadi salah satu pembaca puisi muda terbaik di Jawa Tengah.

“Dulu waktu kuliah, aku sering tampil di Jogjakarta dan Semarang. Puisi ini hobi dan memang tidak aku tekuni. Kesempatan tampil nanti, aku akan mengadu pada Presiden lewat puisi. Aku akan bergurau lewat puisi,” sambungnya penuh bangga saat berbincang dengan awak media di Gedung Daerah, Komplek Istana Damnah.

Untuk persiapan tampil nanti, kata Awe, sudah ia siapkan puisi pribadi yang ditulisnya sendiri. Suasana batin, lingkungan, kritik sosial akan menjadi bahan puisi Awe pada pentas HPI 2016. Termasuk soal kebijakan-kebijakan pemerintah pusat terhadap daerah yang kini hak-hak otonom yang semakin diperkecil. Pengalaman membuat pria Bone ini, belajar lebih jauh bagaimana memaknai puisi. Pesan dan kebebasan dunia seni yang menjadi ketertarikan Awe mencintai panggung puisi.

“Aku mengalir saja selalu spontanitas. Dulu waktu kuliah aku sering tampil. Sejak SMA aku juga ikut dalam pentas tetater dan menulis naskah sendiri. Awal mengenal pangung kontemporer. Aku juga pengagum Sutarji. Dunia puisi ini tidak ada kuliah khusus tapi ilmunya dipelajari. Sebagai suatu nilai, seni dan ilmu. Suasana batin yang ada disekitar dan suka kebebasannya,” tutup Awe. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar