Hebat, Tenaga Honorer Baru Keluar Penjara, Dapat Posisi Tenaga Administrasi

1742
Pesona Indonesia
Arif Fadillah. Foto: istimewa
Arif Fadillah. Foto: istimewa

batampos.co.id – Ketua Fraksi PDI Perjuangan Plus, Rasno cukup menyayangkan oknum tenaga honorer yang sudah tersandung kasus hukum masih diberdayakan di kantor pemerintahan. Ironisnya, yang menandatangani nota dinas honorer berinisial DF adalah Sekda Karimun TS Arif Fadillah. DF dipindahtugaskan ke Kantor Lurah Teluk Uma, Kecamatan Tebing, tertanggal 23 Agustus dengan nomor 824/065/BKD-02/VIII/2016, dengan jabatan sebagai tenaga administrasi.

“Menurut saya tidak etislah perilaku honorer yang sudah tersandung hukum. Saya minta ketegasan Bupati sebagai kepala daerah, agar tidak menjadi kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat. Serta telah mempermalukan Pemkab Karimun ,” jelasnya, kemarin (6/10).

Lanjutnya, dalam hal ini peranan Sekda Karimun sebagai penanggungjawab pembina aparatur negara termasuk tenaga honorer di lingkungan Pemkab Karimun. Selain sebagai pembantu Bupati dan Wakil Bupati Karimun untuk menjalankan roda pemerintah harusnya sudah bisa menjabarkan tugas dan fungsinya.

“Kita sudah mengesahkan SOTK baru. Jadi ini sebagai pembelajaran kepada Pemerintah Kabupaten Karimun, untuk benar-benar memilih para pegawainya yang kredibel. Kalau sudah ada tersangkut hukum, ya sudahlah tidak digunakan apalagi honorer. Ini sudah sering terjadi sebelumnya seorang ASN yang membawa parang ke kantor camat, kemudian honorer di Disnaker yang merobek surat pemberitahuan tentang pengratisan pembuatan AK-1 (Kartu kuning),” tuturnya.

Sementara itu Sekretaris Daerah TS Arif Fadiilah ketika dikonfirmasi mengatakan, itu tugasnya Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dalam penempatan pegawai negeri maupun honorer. ” Silahkan tanya ke BKD ya,” singkatnya sambil berlalu usai memperingati HUT TNI di Makodim 0317/TBK, Selasa (5/10).

Diketahui, oknum honorer di lingkungan Satpol PP Kabupaten Karimun berisial DF, tersandung kasus hukum penipuan. Waktu itu DF masih menjadi calon tenaga honorer. Namun dengan beraninya ia menawarkan kepada korban untuk menjadi tenaga honorer kontrak dan meminta imbalan sebesar Rp 30 juta pada tahun 2010 silam. Ia kemudian disidang dan telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun bersalah dengan hukuman 10 bulan kurungan. Pada bulan Agustus lalu DF sudah selesai menjalani hukuman di Rutan Tanjungbalai Karimun.(tri/bpos)

Respon Anda?

komentar