Kuota BBM Tidak Berkurang, Tapi Premium dan Solar Subsidi Sering Kosong

1249
Pesona Indonesia
Salah satu kios penjualan BBM di Dabo tutup karena tidak ada pasokan BBM dari Pertamina. foto:wijaya satria/batampos
Salah satu kios penjualan BBM di Dabo tutup karena tidak ada pasokan BBM dari Pertamina. foto:wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Kuota BBM bersubsidi untuk Kabupaten Lingga masih sama dan tidak ada pengurangan bahkan penambahan dari Pertamina. Namun kondisi di lapangan, masyarakat sering mengalami kekosongan pasokan BBM untuk kebutuhan mereka.

Jatah BBM subsidi dari Pertamina untuk sejumlah penyalur yang ada di Kabupaten Lingga setiap bulan adalah, 280.000 liter solar dan 280.000 liter premium untuk SPBB Junaidi dan 91.603 liter premium dan 375.000 solar untuk SPBB di Senayang. Sementara itu, sejak tahun 2012 Pertamina menambah kuota BBM bersubsidi sebesar 150.000 liter untuk solar dan premium yang disalurkan PT Citra Lingga di Penarik, Daik.

Kondisi ini mendapat tanggapan dari Ketua Lembaga Pemantau dan Pengawasan Tindak Pidana Korupsi (LPP Tipikor) Kabupaten Lingga, Syafii. Dia mempertanyakan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar APMS di Penarik Daik. APMS tersebut tidak menjual BBM berubsidi selama empat bulan terakhir.

Akibat berhenti beroperasi, agen penyalur BBM bersubsidi yang ditunjuk Pertamina sejak tahun 2012 itu, premium dan solar untuk kebutuhan masyarakat Daik dan sekitarnya terpaksa menggunakan premium dan solar dari PT Junaidi sebagai agen penyalur BBM bersubsidi di SPBB Desa Sungai Buluh.

“Akibat APMS Penarik tidak beroperasi, masyarakat Daik terpaksa mengambil BBM dari SPBB Sungai Buluh. Hal ini membuat bertambahnya biaya transportasi pengecer BBM hingga harga BBM di Daik, lebih mahal dari harga eceran di Dabo,” kata Syafii.

Dia menambahkan, persoalan harga BBM bersubsidi lebih mahal dari Dabo Singkep masih dapat dimaklumi masyarakat Daik. Persoalan yang paling utama adalah ketersediaan BBM untuk mendukung aktivitas masyarakat yang semakin berkurang.

“Sejak APMS di Penarik tidak buka, premium sering hilang di Daik,” kata Syafii.

Berdasakan informasi yang diperoleh Syafii, setiap bulan Pertamina menyalurkan 150 kiloliter premium dan solar kepada APMS di Penarik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Daik. Berdasarkan informasi itu pula ada oknum di manajemen APMS dan seorang oknum anggota DPRD Lingga yang memanfaatkan tidak beroperasinya APMS tersebut untuk mencari keuntungan pribadi.

“Saya dengar ada oknum di APMS bersama oknum anggota DPRD Lingga, mengambil kuota BBM bersubsidi jatah APMS itu untuk dijual sebagai kebutuhan industri. Penegak hukum harus melakukan penyelidikan terkait informasi ini,” ujar Syafii.

Terkait hal ini, Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Lingga, Abang Syafri, membenarkan berhentinya penyaluran BBM bersubsidi yang dilakukan APMS Penarik. Abang mengaku telah mengirimkan surat resmi kepada pihak pengelola APMS Penarik agar memberikan klarifikasi penyebab tidak beraktivitasnya penyaluran BBM bersubdi di Daik.

“Hingga saat ini, surat yang saya layangkan belum direspon pihak PT Citra Lingga. Dalam waktu dekat kami akan melakukan pengecekan langsung ke Pertamina Kepri untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya,” kata Abang.

Kebenaran pembelian premium dan solar bersubsidi yang dilakukan masyarakat Daik, dibenarkan Direktur PT Junaidi sebagai pengelola SPBB BBM bersubsidi di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat. Dia mengaku beberapa bulan terakhir warga Daik membeli BBM di SPBB Sungai Buluh.

Namun dia tidak mengetahui pasti apa kendala APMS di Penarik hingga tidak beroperasi lagi. Sementara kuota BBM subsidi untuk Kabupaten Lingga hingga saat ini belum berubah sama seperti saat beroperasi APMS Penarik.

“Untuk kuota masih belum berubah,” kata Edi. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar