Mau Bangun Pusat Kuliner dan Masjid Terapung, Pemko Disarankan Cari DAK Pusat

542
Pesona Indonesia
Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah. foto:yusnadi/batampos
Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah masih menyimpan mimpi dapat mewujudkan pembangunan pusat kuliner megah dan masjid terapung. Mimpi ini rencananya bakal mulai digegas tahun 2017 mendatang.

Namun, sebelum dimulai mewujudkan mimpi itu, Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjungpinang, Ashadi Selayar menganjurkan agar Pemko Tanjungpinang mencari bantuan dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat.

“Karena kalau dimasukkan dalam APBD akan sangat berat sekali pembangunan dua megaproyek itu,” kata Ashadi, Jumat (8/10).

Kendati memang belum dimulai pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2017, Ashadi tidak memungkiri penurunan pendapatan daerah di pelbagai sektor menyebabkan masih sulit untuk terhindarkan dari defisit keuangan. Dari kabar yang terdengar, konon rancangan kekuatan APBD Tanjungpinang 2017 tidak sampai Rp 1 triliun.

Ashadi tidak menampik. “Diprediksikan memang di kisaran Rp 800-900 miliar saja. Tapi pembahasan lebih rinci kan memang belum dimulai,” ucap politisi dari Fraksi Partai Golkar ini.

Sebab itu, Ashadi merasa tidak ada pilihan banyak bagi Pemko Tanjungpinang bila memaksakan pembangunan dua megaproyek itu masuk di anggaran murni. Bila sekadar membantu hal-hal kecil, kata dia, bisa jadi.

“Tapi kalau untuk keselurahan, nyaris tidak mungkin. Uang yang ada saja untuk biaya operasional sudah pas-pasan,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Lis Darmansyah mengatakan, satu di antara pembangunan fisik monumental yang ia idamkan di tahun 2017 mendatang adalah memulai pembangunan pusat kuliner baru. “Harusnya food court itu kan memang dimulai tahun ini. Tapi karena defisit, ya kami kerjakan yang Gedung Gonggong dululah,” kata Lis.

Lis beranggapan keberadaan pusat kuliner adalah keharusan bagi sebuah daerah yang punya orientasi program pembangunan berbasis kepariwisataan. Sebuah tata pusat kuliner yang baik saling berdekatan dengan destinasi lain sehingga menjadi keterpaduan yang memudahkan wisatawan. Karena itu, rencananya pusat kuliner ini bakal dibangun di kawasan Melayu Square Tepi Laut yang berdekatan pula dengan Gedung Gonggong dan Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah.

Bukan sekadar faktor letak geografis yang menjadi pertimbangan. Tapi sebuah pusat kuliner yang baik, kata Lis, harus mengedepankan higienitas dan kenyamanan. Sebab itu, Lis tidak tanggung-tanggung memimpikan pusat kuliner itu bakal dibangun setinggi lima lantai.

“Kami ingin bangun gedung lima lantai. Di sanalah pedagang kuliner Melayu Square dan pedagang lain yang selama ini berjualan di kawasan tepi laut akan kami alihkan. Untuk lantai satu diisi souvenir, lantai dua pusat kuliner, lantai tiga area parkir, lantai empat dan lima pusat kuliner lagi,” terang Lis.

Dengan begitu, Lis meyakini bahwasanya pembangunan tata kota berbasis kepariwisataan bukan sekadar omong-kosong. Karena ia merasa yang dicari-cari pelancong dari pelbagai belahan dunia adalah tempat untuk bersantai, makan, dan menikmati panorama alamnya.

“Dan Tanjungpinang punya Tepi Laut yang mempesona, yang menghadap langsung ke Pulau Penyengat. Saya kira, di sini juga tempat terbaik dan asyik menikmati pemandangan senja,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar