200 Penari pada Puncak Festival Pesona Selat Lembeh 2016

214
Pesona Indonesia

lembeh Sabtu, 8 Oktober 2016 adalah puncak Festival Pesona Selat Lembeh 2016. Sedikitnya 200 penari dari anak anak sekolah Kota Bitung menyajikan tarian yang menggambarkan lima pesona Kota Bitung yakni Pesona Bahari, Pesona Flora, Pesona Fauna, Pesona Industri, dan Pesona Sejarah-Budaya-Religi. Seni pertunjukan itu mengangkat unsur budaya lokal dipadukan dengan kecanggihan seni pertunjukan digital (video maping).

Tarian dibuka dengan kisah asal mula nama kota Bitung yang berasal dari sebuah pohon Witung. Lalu muncul monyet berbulu hitam berpantat merah dari segala arah. Bitung menamai monyet pantat merah itu dengan sebutan Yaki. Yaki merupakan monyet asli Sulawesi bernama latin Macaca Nigra yang dilindungi karena hampir punah. Saat ini populasi terbesar Yaki berada di Taman Nasional Tangkoko Bitung.

Lalu muncul binatang khas Bitung lainnya, Tarsius, primata terkecil didunia berukuran 10-15 cm yang memiliki mata besar dan ekor seperti ekor tikus.

Ikan cakalang yang menjadi makanan khas Bitung diwujudkan dalam sebuah tarian kontemporer berjudul Tangkap Cakalang. Semua gerakan tarian yang disajikan tidak sembarangan, melainkan berdasarkan pada gerak dasar tarian tradisional Bitung.

Kerukunan antar umat beragama yang hidup berdampingan dengan damai di Kota Bitung juga ditampilkan dalam pagelaran.

Kemeriahan malam itu tidak hanya karena megahnya pertunjukan tetapi antusiasme masyarakat Kota Bitung yang memadati panggung acara yang letaknya di sisi Selat Lembeh. Masyarakat Bitung tumpahruah menyaksikan pertunjukan. Panitia juga menyediakan layar lebar di sekitar pelabuhan untuk warga yang tidak mendapat tempat untuk menonton langsung ke panggung. Ratusan turis baik lokal maupun mancanegara berbaur dengan masyarakat Kota Bitung menikmati semua pertunjukan.

Acara ini dihadiri Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Wakil Ketua MPR RI EE Mangindaan, serta tuan rumah acara Wali Kota Bitung Max Lomban dan Wakil Wali Kota Maurits Mantiri. Olly Dondokambey mengatakan ingin meningkatkan pesona wisata di Sulawesi Utara, termasuk Kota Bitung.

“Kami sedang genjot program pariwisata di Sulawesi Utara. Target kami pada tahun 2017 akan meraih kunjungan wisatawan 1 juta orang. Mudah-mudahan bisa terwujud,” kata Olly.

Festival Pesona Selat Lembeh 2016 dibuka 6 Oktober lalu dan akan berakhir pada 10 Oktober bertepatan dengan HUT Kota Bitung. Beberapa acara sudah berlangsung meriah seperti acara pembukaan, lari 10k yang diikuti lebih dari 30 ribu peserta, masamper massal oleh 5000 penyanyi, pawai budaya, karnaval kapal hias dan perahu nelayan (pakura), pelepasan bibit ikan oleh Gubernur Sulut, serta festival kuliner.

Menurut Walikota Bitung Max Lomban, acara penutupan Festival Pesona Selat Lembeh 2016 pada 10 Oktober akan ditutup dengan pesta kembang api di langit Kota Bitung. “Pesta kembang api akan dimulai tanggal 10 jam 10 malam, diluncurkan dari tiga titik yaitu dua di Pulau Lembeh dan satu dari Kota Bitung dan akan berlangsung selama satu jam,” kata Lomban.

Raseno Arya, Asdep Pengembangan Segmen Pasar Personal Nusantara Kemenpar RI, mengatakan, Festival Pesona Selat Lembeh ini merupakan awal yang baik untuk Kota Bitung yang menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisata utama.

“Meriah sekali. Kata Pak Walikota hotel dan resort di sekitar Bitung dan Pulau Lembeh penuh, bahkan ratusan rumah penduduk dijadikan home stay untuk menampung membludaknya turis lokal maupun mancanegara yang hadir. Kementerian sangat mendukung upaya pemerintah daerah seperti ini.”

Menpar Arief Yahya mengucapkan selamat atas sukses kegiatan Festival Pesona Selat Lembeh 2016 ini. Percepat Lembeh sebagai destinasi wisata bahari, untuk mendukung keberadaan Sulut dalam pariwisata nasional yang sedang booming. Apalagi jarak Bitung dari Bandara Sam Ratulangi Manado itu tidak jauh.

“Makin besar wisman Tiongkok makin besar pula potensi yang akan mendatangi Bitung! Persiapkan dengan baik, agar destinasi Bitung makin kuat,” kata Arief Yahya.(*)

Respon Anda?

komentar