Berkunjung ke Rumah Arianto Pribadi, Pria Tertinggi di Indonesia

829
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Mochammad Arianto Pribadi duduk santai di depan rumahnya di Desa Pejangkungan, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Jumat siang (7/10) lalu.

Pria itu tak kerja.

Melihat tim Jawa Pos datang, dia langsung berdiri. Alamak, semua harus mendongak. Tubuhnya menjulang.

Perlahan, kakinya dilangkahkan menuju rumahnya yang berukuran 4,5 meter x 27 meter. Terasa sekali bahwa Arianto berjalan dengan hati-hati. Sebab, katanya, kaki itu pernah ”oleng” lantaran terkena diabetes.

”Mari semuanya masuk,” ujar lelaki 26 tahun itu. Suaranya biasa. Tidak berat dan dalam sebagaimana gambaran orang-orang besar dalam film-film.

Arianto harus masuk rumah sambil membungkuk. Betapa tidak, pintu rumah bersahaja itu hanya setinggi pundaknya. Kepala Arianto pun hampir menyundul atap rumah bagian depan.

Sebelum duduk di ruang tamu, Arianto menjabat tangan Jawa Pos. Amboi… Tangan itu hampir tidak bisa dijabat. Saking besarnya. Bayangkan, ukuran telapak tangan Arianto adalah 26 sentimeter, dari pergelangan hingga ujung jari tengah. Selembar uang Rp 50 ribu pun jadi seperti duit mainan di tangannya.

Memang, ukuran Arianto termasuk spesial. Tingginya mencapai 220 sentimeter dengan berat 130 kilogram.

Bandingkan dengan orang tertinggi di Indonesia sepanjang sejarah yang tingginya 242 sentimeter. Tapi, Suparwono, orang tersebut, sudah meninggal pada 2012. Kini, yang disebut-sebut sebagai orang tertinggi di Indonesia adalah Abdul Rasyid alias Rasyid Monas dari Jakarta. Badannya menjulang hingga 219 sentimeter. Satu sentimeter di bawah Arianto.

Dengan ukuran istimewa itu, Arianto sejatinya menjalani hidup yang tidak mudah. Semuanya terlihat tidak biasa. Serbabesar, serbatinggi, serbapanjang. Untuk celana, misalnya, dia memiliki penjahit langganan di wilayah Kecamatan Prambon, Sidoarjo.

Untuk menjahitkan satu celana, Arianto harus menghabiskan kain sepanjang 3 meter. Sepatu dan sandal harus dipesan khusus di Cirebon.

”Kalau kaus, enggak ada di pasar. Adanya di swalayan besar. Itu pun ukurannya XXXXL. Masih ngapret lagi,” ceritanya sambil duduk di kursi spons ruang tamu. Begitu besarnya Arianto sampai ketika duduk pun masih terasa sangat besar.

Sembari Arianto bercerita, kami diajak berkeliling di dalam rumah. Ada empat kamar di rumah itu plus satu dapur. Ada juga ruang kosong di balik ruang tamu.

Nah, masing-masing itu hanya berukuran 2 meter x 2 meter. Kok? Kan enggak cukup untuk tinggi Arianto? Lalu, apakah dia tidur dalam posisi diagonal di lantai kamar?

”Saya memang enggak tidur di kamar. Tidurnya di karpet di belakang ruang tamu,” ujarnya.

Pada 2014, Mochammad Arianto Pribadi pernah mengadu nasib ke Jakarta. Di Ibukota Indonesia itu Arianto tinggal dengan kawan sedesa yang sudah lama bekerja sebagai operator ekskavator.

Saat rekannya sibuk, Arianto memilih cari kesibukan lain. Yang penting, dia enggak minder. Arianto lantas sering mengunjungi tempat-tempat ramai. Sesekali, dia melihat orang syuting. Arianto sering bertemu dengan orang baru dan berharap ada pekerjaan di sana.

Harapannya menjadi kenyataan. Karena fisiknya yang mencolok, Kuncung –sapaannya– ditawari bermain film. Saat itu dia diminta berperan menjadi asisten pemain utama pada serial Tarzan Cantik.

foto: Chandra Satwika/Jawa Pos
foto: Chandra Satwika/Jawa Pos

’’Dulu produsernya meminta saya langsung karena butuh orang dengan karakter seperti saya. Ya, saya terima,’’ ujarnya.

’’Saat itu saya jadi artis dong. Tiap pemain utama muncul, pasti selalu ada saya,’’ katanya dengan bangga. Karena peran tersebut, dia kenal dan berkesempatan bermain dengan artis top. Dia pernah bermain dengan Adam Jordan, Lyra Virna, dan artis lainnya.

Sayangnya, pria 26 tahun asal Pejangkungan, Prambon, Sidoarjo itu hanya bermain selama 3 bulan. Awal 2015, tubuhnya drop. ’’Keseimbangan saya hilang. Oleng dan nggak bisa berdiri,’’ jelasnya.

Lantaran baru pertama merasakan itu, Arianto berobat ke dokter. Ternyata gula darahnya sudah mencapai angka 800. ’’Kalau kena 800, mungkin kalian-kalian sudah koit (meninggal, Red),’’ celetuknya, lantas tertawa.

Karena kondisi tersebut, Arianto pulang. Dia memilih dirawat di rumah. Tidak lagi menjadi artis. Perlahan-lahan, angka gula darahnya turun. Dia bisa beraktivitas lagi. ’’Tapi, saya nggak boleh sampai capek,’’ terang bungsu di antara tiga bersaudara tersebut.

Dokter di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr Ramelan Surabaya menjelaskan, Arianto kena gula darah karena kerap minum minuman bersoda. Minuman itu memang selalu tersedia di tempat syuting. ’’Sehari bisa seliter,’’ ungkapnya.

Ketika kadar gula mulai stabil, pada 2015 Arianto nekat menerima tawaran dari salah satu event organizer yang berkantor di Surabaya. Dia ditawari ikut road show keliling kota besar di Indonesia Bagian Timur. ’’Masih agak sakit. Saya ikut saja untuk tambah pengalaman,’’ ucap anak pasangan Abdul Rosyad, 60, dan Sumarti, 58, tersebut.

Selama tujuh bulan ikut road show, dia tahu banyak tempat. Mulai Palu, Gorontalo, Kendari, Makassar, hingga terakhir ke Kupang. Dalam pameran itu, dia tampil bersama dua rekannya. Yakni, yang disebut sebagai manusia terpendek dan manusia genderuwo (manusia dipenuhi bulu, Red). Tugasnya hanya duduk untuk menunggu penonton mengajaknya berfoto. ’’Karena terkesan jadi tontonan, saya memilih tidak melanjutkan lagi,’’ ujarnya.

Saat sudah pulang ke Sidoarjo, telepon Kuncung berdering. Dia dipanggil Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk menjadi duta wisata selama dua minggu di sana. Tanpa pikir panjang, Kuncung langsung menerima. ’’Semua dibiayai sana. Saya berangkat pada malam Idul Fitri 2016. Itu gara-gara saya kenalan sama orang waktu mau ke NTT,’’ paparnya.

Selama dua minggu, Arianto mengenalkan tempat wisata di Bulukumba. Misalnya, daerah Bentaeng dan Gowa. Tetapi, sudah dua pekan ini Arianto memilih kembali ke rumah orang tuanya. Pulang ke Pejangkungan. ’’Sebenarnya ingin main film lagi. Tapi, fisik sudah nggak kuatan. Sekarang saja kadar gula darah saya masih 252. Naik turun terus, nggak boleh capek-capek,’’ katanya. (uzi/via/c14/dos)

Respon Anda?

komentar