ATB Batam Berbagi Tips pada WaterLinks Forum di Philipina

949
Pesona Indonesia
 President Director PT. Adhya Tirta Batam (ATB), Ir Benny Andrianto MM saat berbicara pada Waterlink Forum 2016 di Manila, Philipina.

President Director PT. Adhya Tirta Batam (ATB), Ir Benny Andrianto MM saat berbicara pada Waterlink Forum 2016 di Manila, Philipina.

Ketersediaan air baku terutama di negara-negara di Asia menjadi salah satu masalah utama, khususnya  di wilayah perkotaan. Dimana saat ini pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan semakin meningkat dan pesat. Dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan air bersih yang berkaitan langsung dengan sumber air baku, maka secara otomatis akan menjadi permasalahan. Dan inilah tantangan untuk kita semua.

Demikian salah satu poin pernyataan President Director PT. Adhya Tirta Batam (ATB) Ir Benny Andrianto MM, pada Waterlink Forum 2016 yang diselenggarakan di Manila Philipina, pada Rabu dan Kamis (5-7/10/2016).

Kegiatan yang selalu diselenggarakan oleh perusahaan air antar negara setiap dua tahunnya ini, membahas isu-isu perubahan cuaca dan ketersediaan air baku. Kali ini mengambil tema  “Building Climate-Resilient Water Utilities in Urban Asia”

Pada kesempatan tersebut, Benny Andrianto mempresentasikan tantangan keterbatasan ketersediaan air baku dalam memenuhi kebutuhan air minum, terkait dengan perubahan cuaca yang terjadi di dunia dan khususnya di Batam.

Dalam presentasinya, Benny Andrianto memaparkan Batam juga di pengaruhi oleh perubahan cuaca yang cukup ekstrem yakni badai Elnino. Terlebih lagi sumber air baku yang diolah ATB berasal dari air hujan yang ditampung di dalam dam. Badai Elnino pernah menghampiri Batam pada tahun 1997 dan 2015.

Namun perbedaan dari keduanya periode tersebut, sangat jauh berbeda dari pertumbuhan pelangan dan penduduk. Dimana pada tahun 1997 sekitar 150 ribu, namun di tahun 2015 penduduk Batam hampir lima kali lipat atau sekitar satu juta lebih.

“Mengatasi hal tersebut, ATB pun menyiasati kondisi elnino dengan cara rationing atau penggiliran, meski kapasitas waduk jauh mengalami penurunan namun pelanggan tetap mendapatkan air. Selain rationing, ATB secara intensif menurunkan kebocoran, jadi dua hal ini yang menjadi kunci utama untuk tetap memberikan pelayanan ke pelanggan,” tambah Benny.

Dalam presentasi tersebut sejumlah peserta dari beberapa negara juga tertarik mengetahui upaya-upaya ATB terkait penurunan NRW, apakah ATB menggunakan tenaga internal atau outshorcing.

“Kami lebih siap menggunakan tenaga internal, efeknya lebih terasa karena apabila pihak eksternal yang mengelola kebocoran lebih dilihat sebagai sebuah project. Dan setelah ditinggal bisa jadi NRW akan naik lagi. Tetapi dengan tenaga internal tentunya juga punya ilmu pengetahuan, memiliki rasa terhadap ATB,” jelasnya lagi.

Even forum antar negara yang di fasilitasi oleh Waterlink USAID dan Asian Development Bank ini diikuti oleh perusahaan air minum, konsultan dan instansi pemerintah dari negara-negara di dunia seperti Australia, Amerika Serikat, China, Hongkong, Philippina, India, Srilanka, Kamboja, Fiji, Samoa dan lain-lain.

Sebagaimana diketahui, tingkat kebocoran air tahunan di ATB pada 2015 mencapai 15,17 persen. Sementara periode Juli 2016 tingkat kebocoran air ATB sudah berada di titik 13,33 persen, dan Mei 2016 lalu bahkan sudah berada 11,90 persen. (*)

Respon Anda?

komentar