Muthia-Shinta, Anak dan Ibu yang ”Bersaing” Jadi Penulis

805
Pesona Indonesia

Muthia Fadhila Khairunnisa telah melahirkan 37 buku. Sedangkan ibunya, Shinta Handini, sudah menerbitkan 41 buku.

Tiga rak buku menghiasi ruang tamu rumah Shinta Handini di Duren Sawit, Jakarta Timur. Hampir seluruhnya berisi buku-buku cerita anak dan remaja. Satu rak digunakan untuk menyimpan buku-buku karya Shinta sendiri, satu rak untuk buku-buku karya putrinya, Muthia Fadhila Khairunnisa. Sedangkan satu rak lainnya untuk buku-buku karya orang lain.

”Untuk urusan tulis-menulis, kami memang tidak mau saling mengalah,” ujar Shinta akhir pekan lalu. ”Iya. Aku juga,” timpal Thia, sapaan Muthia.

Menariknya, ”persaingan” itu mulai terjadi setelah Thia menularkan spirit menulisnya kepada sang ibu. Yakni ketika Thia menerbitkan buku perdana pada usia 8 tahun pada 2009. Buku cerita anak yang kemudian menjadi bunga rampai di majalah Bobo itulah yang menyulut ”persaingan” ibu dan anak tersebut.

”Saya ditantang, mama jangan hanya bisa menyemangati saja. Nulis juga dong,” ujar Shinta sambil melirik putri sulungnya itu. Thia membalasnya dengan senyum.

Menurut cerita Shinta, Thia sudah bisa lancar membaca sejak usia 3,5 tahun. Masuk sekolah dasar saat usianya masih 5,5 tahun, lebih cepat dari anak kebanyakan. Dari tes inteligensia, Thia diketahui memiliki IQ di atas rata-rata, yakni mencapai 142. ”Sejak kecil dia sudah saya dekatkan dengan dunia buku,” ujar Shinta.

Benar saja, Thia memang suka sekali dengan buku. Ketika sudah bisa membaca, dia pun rajin membaca buku setiap hari. Saat menginjak usia 6 tahun, Thia melihat ibunya yang asyik memencet keyboard di komputer. Thia kecil rupanya tertarik meniru ibunya yang mengetik untuk miniblog pribadinya. Pada saat itu, antara 2008-2009, miniblog memang sedang digemari.

Shinta yang punya miniblog di Multiply juga membuatkan untuk Thia. Hampir tiap hari Thia duduk di depan layar monitor yang masih berbentuk tabung. Dia menulis kegiatan sehari-hari di sekolah. Sangat sederhana. Seperti di sekolah bertemu siapa, guru menjelaskan pelajaran apa saja, dan aneka kegiatan keluarga.

Dari sekadar cerita satu hingga dua paragraf, Thia mulai mengembangkannya menjadi satu cerita pendek. Tapi tetap berdasar pengalaman yang dia temui sehari-hari. Thia masih ingat salah satu cerpen pertama yang dia buat berjudul Cheese Cake is Yummy. Cerita yang diangkat dari pengalaman pribadi itu berkisah tentang ada seorang temannya yang berulang tahun. Thia membawa hadiah cheese cake untuk temannya tersebut. ”Aku yang lagi marahan sama teman itu akhirnya damai gara-gara cheese cake,” kenang Thia yang kini sudah menginjak remaja, 15 tahun.

Thia juga menulis cerpen berjudul Life Skill Memasak di Sekolahku. Cerpen itu yang diajukan dalam lomba yang diadakan majalah anak Bobo pada 2009. Thia yang masih kelas IV SD Islam At Taqwa UI Rawamangun saat itu menjadi salah satu pemenang. Dia bersama 35 siswa lain asal Jakarta pun berhak mengikuti Konferensi Anak Indonesia pada Oktober 2009.

penulisPada saat yang hampir bersamaan, Shinta dihubungi guru Thia yang mengabarkan bahwa ada Konferensi Penulis Cilik Indonesia yang diadakan penerbit Mizan. Syaratnya, peserta harus mengirimkan karya. Dalam waktu yang mepet, Shinta cepat-cepat mengumpulkan karya Thia yang ada di blog. Juga tulisan Thia yang masih di buku tulis.

”Alhamdulillah, Thia lolos Konferensi Penulis Cilik Indonesia pada 9 November 2009,” ungkap Shinta. Dia memang hafal betul tanggal-tanggal penuh kenangan itu.

Pada Desember, Mizan kembali membuat pelatihan menulis untuk penulis cilik yang tergabung dalam komunitas Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Saat itu KKPK punya basis pembaca cukup banyak di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia. Thia pun ikut pelatihan tersebut.

Sekitar April 2010, kumpulan cerpen yang menjadi syarat mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia tak disangka diterbitkan dengan judul Manusia Bunglon. Sebelumnya cerpen berjudul Life Skill Memasak di Sekolahku juga telah dibukukan bersama karya penulis lain. ”Gara-gara bukunya sudah terbit itulah, dia berani menantang saya untuk ikutan nulis buku juga. Demi anak, saya langsung ikut pelatihan menulis,” kenang Shinta.

Thia terus membuktikan konsistensi dan produktivitasnya di dunia tulis-menulis. Selain menerbitkan dua cerpen pertama, pada 2010 lahir tiga buku baru. Yakni berjudul Strawberry Secret, Ada Apa dengan Tasya?, dan Magic Cookies. Sedangkan pada 2011 tulisnnya nongol di 6 buku, selanjutnya pada 2012 ada 9 buku, 2013 dengan 10 buku, 2014 (5), dan 2015 (2). Tahun ini Thia sedang menyiapkan dua buku yang ditunggu penerbit.

Hampir seluruh buku karya Thia bergenre cerita anak dan remaja. Tapi, ada satu esai tentang perpustakaan yang diterbitkan dalam buku bunga rampai oleh UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Yogyakarta.

Hebatnya lagi, ada dua novel Thia yang sudah dicetak ulang beberapa kali, yakni Little Ballerina dan Let’s Sing With Me yang cetak ulang 14 kali. Sekali cetak 2.000–3.000 eksemplar. ”Aku juga bikin skrip naskah untuk film pendek,” ujar Thia yang kini duduk di kelas XI IPS 2 SMA Labschool Jakarta.

Ketekunan Thia itu diganjar penghargaan Anugerah Kebudayaan 2016 kategori anak dan remaja dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diserahkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (23/9). Dia menerima piagam yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Pada malam yang sama, tokoh-tokoh budaya dan maestro seni tradisi juga menerima penghargaan bergengsi tersebut. ”Aku benar-benar kaget mendapat penghargaan itu,” kata Thia.

Berkat kemampuannya sebagai penulis, Thia juga kerap diundang ke sekolah-sekolah untuk menjadi motivator di bidang kepenulisan. Bahkan, dia pernah tampil di depan guru-guru. ”Di ruang itu yang pakai putih abu-abu hanya aku,” ucap Thia yang ingin kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Shinta tidak mau kalah dengan putrinya. Alumnus Teknik Informatika Universitas Gunadarma Jakarta tersebut mengakui terinspirasi ketekunan Thia menulis. Karena itu, dia lalu mengikuti kursus menulis.

”Itung-itung menyemangati Thia. Kami pun sepakat bersaing menjadi penulis,” kata mantan dosen di almamaternya tersebut.

Shinta tidak pernah menduga akhirnya ikut terjun dan menekuni dunia tulis-menulis seperti yang dilakoni putrinya. Bahkan, dalam perkembangannya, dia tidak hanya menjadi penulis, tapi juga editor buku. Khususnya buku anak-anak dan remaja.

Menurut Shinta, tidak mudah menulis cerita bertema anak. Tantangannya, bahasa yang digunakan harus mudah dipahami, pendek-pendek kalimatnya, tapi tetap menarik. Penulis juga harus memikirkan detail ilustrasi di tiap halamannya.

”Tapi, kalau sudah terbiasa ya mudah,” ujar istri Faizal Adiputra itu.

Enam tahun berkarir di dunia kepenulisan, Shinta sudah melahirkan 41 buku. Dia kini sedang menyelesaikan 13 buku pesanan penerbit.

”Kalau sebagai editor, sudah ratusan buku yang sudah terbit,” ujar editor freelance di lini anak penerbit DAR! Mizan sejak 2012 hingga sekarang tersebut.

Shinta lalu mengambil beberapa buku dari lemari dan menunjukkannya kepada Jawa Pos. Buku-buku itu tipis, sekitar 24 halaman full color. Dipenuhi ilustrasi seorang putri yang mengenakan jilbab. Itulah buku-buku karya Shinta.

Tahun ini Shinta masih terlibat dalam penulisan serial princess. Kisahnya terinspirasi dari Asmaul Husna. Jadi, ada 99 putri yang namanya didasarkan pada nama-nama sifat baik Allah itu.

”Inspirasinya memang dari cerita princess yang sudah ada. Tapi dianggap kurang cocok untuk anak-anak. Nah, kami ingin menyuguhkan yang berbeda,” terang ibu Thia, Radhiazka Ariq Fadhila, dan Raifasha Areza Fadhila tersebut.

Thia menambahkan, tema yang biasa diangkat untuk cerita anak-anak dan remaja itu tidak jauh dari persahabatan dan keluarga. Dia menghindari tema berbau percintaan. Novel Little Ballerina, misalnya, berkisah tentang anak tomboi yang menggemari modern dance pada awalnya, tapi lantas suka dengan tari balet. Novel tersebut cukup detail mencantumkan istilah balet. Misalnya jenis gerakan plie (menekuk kaki dengan kaki terbuka) dan bend (menekuk kaki dengan kaki tertutup).

”Biasanya tema dan apa yang akan aku tulis sudah dibuat outline-nya dulu,” ujarnya.

Thia ingin terus menulis dan mengembangkannya menjadi penulis skrip dan naskah film. Dia bahkan sudah mencoba-coba menjadi sutradara film pendek. Filmnya berjudul Akar dan Asa yang menjadi pemenang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMA tingkat Jakarta Timur. Saat ditarungkan di tingkat Provinsi DKI, karya Thia menyabet juara kedua.

”Aku ingin terus bisa berkarya,” ujar penggemar novelis Roald Dahl itu. (JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Jakarta)

Respon Anda?

komentar