Tanaman Kruing Minyak Terancam Punah, Tak Ditemukan Lagi di Lingga

652
Pesona Indonesia
Pohon Kruing Minyak terakhir yang pernah ditemukan di Lingga. foto:KePAL
Pohon Kruing Minyak terakhir yang pernah ditemukan di Lingga. foto:KePAL

batampos.co.id – Komunitas Pecinta Alam Lingga (KePal) menyayangkan masih banyak aktivitas pembalakan liar di hutan Lingga.  Kondisi ini dikhawatirkan mengancam kelestarian hutan juga tanaman yang dilindungi. Bahkan, sejumlah pohon asli hutan Lingga terancam punah seperti Dipterocarpus Costulatus atau dikenal dalam bahasa melayu Kruing Minyak.

Salah seorang anggota KePAL, Mauran, mengatakan sejak 2014 lalu KePAL aktif melakukan ekplorasi, pendataan serta penanaman jenis pohon kayu yang dilindungi. Sedikitnya ratusan jenis tanaman langka serta 40 jenis tanaman asli menjadi perhatian serius komunitas pecinta alam ini. Kekayaan alam Lingga tersebut tersebar luas di wilayah pegunungan Lingga. Sayangnya, kesadaran pelestarian potensi besar tersebut belum dilakoni masyarakat luas.

“Awal Oktober 2016 kami kembali melihat kondisi jenis indukan pohon Kruing Minyak di Dusun Penarik, Desa Kelumu. Selama dua tahun terakhir, hanya ini satu-satunya yang kami temukan masih ada di Lingga. Tapi sekarang sudah ditebang,” kata Mauran.

Indukan Kruing Minyak tersebut, katanya, menjadi salah satu harapan KePAL untuk melakukan upaya penyelamatan pohon jenis lokal ini. Dengan melakukan penyemaian biji, maupun semaian anak disekitar tumbuhan indukan. Sayangnya, upaya tersebut pupus. Selain ditebang pohon untuk dijadikan papan, indukan KePAL tidak melihat adanya benih baru dilokasi tersebut.

“Harapan kami pupus. Bisa jadi ini indukan terakhir dari jenisnya yang ada di Lingga. Sejauh yang kami data, hanya di sini yang masih tersisa, tapi sekarang sudah ditebang,” lanjutnya.

Padahal, kata Mauran, Badan Konservasi Dunia (IUCN) telah menetapkan jenis Dipterocarpus Costulatus masuk dalam kategori critivally endangere atau red list pada tahun 2013. Kruing sendiri, katanya, kini berada diambang kepunahan dan dilindungi oleh Ratifikasi Hukum Internasional.

“Kabupaten Lingga sebagai salah satu basis plasma nutfah bagi keragaman hayati khususnya Dipterocarpaceae. Sayagnya perlahan, akibat aktifitas manusia menjadi salah satu penyebab kepunahan ini. Ini harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah dan juga masyarakat sadar akan hal ini,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar