Ali Imron: Saya Dicekoki Paham Teroris Sejak SD

338
Pesona Indonesia
Ali Imron. (foto: jpg)
Ali Imron. (foto: jpg)

batampos.co.id – Terpidana seumur hidup kasus Bom Bali, Ali Imron, mengaku sudah memiliki pemikiran radikalisme sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

Ali Imron mengungkapkan, ia terkontaminasi paham teroris dari kakak kandungnya, almarhum Ali Ghufrom alias Mukhlas, yang didakwa dengan hukuman mati.

“Saya punya pemikiran radikalisme sejak kelas 5 SD. Saya dapatkan dari kakak saya Mukhlas almarhum. Begitu pulang dari pesantren saya kelas 5 SD sudah diajari bahwa NKRI berdasarkan pancasila dan UUD 1945 itu adalah tidak benar,” ungkapnya dalam diskusi bertajuk “Deradikalisasi, Kewaspadaan Nasional dan Peran Serta Pemerintah” di PTIK Jakarta Selatan, Selasa (11/10).

Dia menerangkan, saat itu rakyat Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai sumber hukum tertinggi di Tanah Air dianggap kafir. Dia diajarkan oleh kakaknya agar menegakkan syariat islam seutuhnya di NKRI.

“Yang duduk di pemerintahan dan muslim statusnya thogut. Yang nonmuslim statusnya kafir. Itu sejak kelas 5 SD makanya saya sampai bentrok dengan bapak saya. Bapak saya almarhum itu dulu memasang burung garuda ada presiden dan wakil presiden saya turunkan itu waktu saya kelas 5 SD,” kisahnya.

Oleh karena itu, terang dia, yang paling penting dalam penanggulangan dan pencegahan terorisme, semua pihak harus mengerti apa latar belakang seseorang atau kelompok menjadi pelaku teroris. Saat ini, Ali Imron sendiri sudah bertobat menjadi teroris.

“Latar belakang kami dulu sebagai pelaku pengeboman di Bali ada dua. Kami ingin menegakkan negara berdasarkan Islam 100 persen. Yang kedua kami ingin merealisasikan jihad dalam arti perang. Makanya latar belakang teroris sampai sekarang ini menginginkan negara berdasarkan Islam itulah teroris di Indonesia,” bebernya.

Ali menambahkan, tidak pas bila menanggulangi dan mencegah paham radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme tanpa tahu latar belakangnya.

“Kita semua jangan kecil hati. Deradikalisasi program sudah dibuat, hukum sudah dibuat kok masih seperti ini. Kalau hanya aksi kecil-kecil itu ya kecil. Yang paling besar baru Bom Bali. Kita harus bersyukur Indonesia tidak bisa diobok-obok oleh teroris,” tandasnya. (elf/JPG)

Respon Anda?

komentar