Bolos Sekolah untuk Main Warnet, Delapan Siswa Diamankan Satpol PP

548
Pesona Indonesia
Tim dari Kecamatan Batuaji dan Satpol PP mengamankan 8 pelajar yang bolos sambil main warnet di Batuaji, Selasa (11/10). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Tim dari Kecamatan Batuaji dan Satpol PP mengamankan 8 pelajar yang bolos sambil main warnet di Batuaji, Selasa (11/10). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Sebanyak delapan orang siswa SMK diamankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Batuaji, Selasa (11/10) siang. Mereka diamankan dari warnet Astronet di perumahan Pandawa, Batuaji karena bermain saat jam belajar. Ironisnya, saat tertangkap, para pelajar ini masih mengenakan seragam sekolah.

Kedelapan siswa yang mengaku bolos sekolah hanya bermain game online itu akhirnya dibawa ke kantor Camat Batuaji untuk didata dan panggil pihak sekolah dan orangtua mereka. Sebelumnya para siswa tersebut terlebih dahulu disuruh berdiri dan hormat bendera di depan kantor Camat.

Kedelapan siswa tersebut adalah siswa sekolah dari SMK Muhammadiyah, Widya, Hang Nadim, Teladan dan SMPN 35 Batuaji.

Saat menghormati bendera mereka dinasehati oleh Sekretaris Camat (Sekcam) Batuaji, Fridkalter. Fridkalter juga memberikan peringatan keras agar kedepannya tidak terulang. “Kalau kedapatan lagi, kami akan ambil tindakan tegas dan diserahkan ke pihak berwajib,” ujar Fridkalter.

Selang tak berapa lama berada di kantor Camat, guru dari masing-masing sekolah delapan siswa itu tiba di kantor Camat. Reaksi para guru hampir sama saat melihat siswa-siswa yang lengkap berseragam sekolah itu hormat bendera.

Mereka mengomel dan mengancam akan memberikan sanksi yang tegas kepada siswa mereka yang bolos dan bermain di warnet saat jam pelajaran sekolah tengah berlangsung. “Pakai seragam sekolah lagi, bikin malu saja kalian ini. Besok kalian menghadap kepala sekolah,” ujar salah satu guru kepada siswa-siswa tersebut.

Atas temuan itu Camat Batuaji Rinaldi M Pane bertekad akan terus melakukan penertiban terhadap keberadaan warnet yang ada di wilayah kecamatan Batuaji. Menurutnya temuan itu sudah termasuk pelanggaran yang berat dilakukan oleh pengusaha warnet, sehingga pihaknya langsung mengambil tindakan dengan memberikan teguran keras. “Mereka (pemilik warnet) akan kami panggil besok (hari ini). Ini sudah melanggar aturan dan tentunya ada sanksi bagi pemilik warnet nakal seperti ini,” ujar Rinaldi kepada wartawan usai memulangkan kedelapan siswa tersebut.

Di wilayah Kecamatan Batuaji memang diakui Rinaldi masih banyak lokasi warnet lainnya yang membandel seperti itu. Itu karena memang keberadaan warnet tersebut umumnya tidak mengantongi perizinan yang resmi. “Yang melapor baru 21 titik itupun sebagiannya belum punya perizinan yang lengkap. Ini akan terus kami telusuri sampai akhir pekan nanti. Semua yang melanggar ataupun yang tidak memiliki perizinan akan kami panggil semuanya,” ujar Rinaldi.

Untuk sanksi yang diberikan, papar Rinaldi sesuai dengan peraturan wali kota (Perwako) nomor 3 tahun 2015 yang dirubah dalam Perwako nomor 9 tahun 2016, warnet yang bersangkutan bisa ditutup paksa atau diberi peringatan baik secara lisan ataupun tertulis sesuai pelanggaran yang dilakukan. “Banyak aturan yang diatur dalam perwako itu, misalkan, kamar (bilik warnet) tidak boleh tertutup, larangan pelajar berseragam masuk di jam sekolah dan lain sebagainya. Kalau melanggar kami bersama Satpol PP bisa mengambil tindakan baik untuk pembinaan, pengawasan, pengendalian ataupun penindakan,” ujarnya.

Kepada warnet yang belum dilengkapi perizinan yang sah dari pemerintah terkait, Rinaldi kembali menghimbau agar segera melengkapi perizinan tersebut. Sebab perizinan tersebut penting baik untuk memudahkan proses pengawasan ataupun memberikan kontribusi bagi negara. “Kalau sama sekali tak punya izin, apa kontribusi kita buat negara?. Yang ada malah pelanggaran diatas pelanggaran yang terjadi. Merusak lingkungan masyarakat, generasi mudah calon penerus bangsa ini jadi rusak dan bermacam-macamlah penyakit sosial yang ditimbulkan,” ujarnya.

Perizinan untuk mendirikan warnet papar Rinaldi, hanya pada izin HO atau gangguan lingkungan dan surat keterangan domisili usaha (SKDU) saja. “Izin HO pun nggak mahal-mahal kali, paling mulai Rp 50 ribu sampai 150 ribuan, sesuai ukuran warnet itupun sekali saja. Kontribusinya memang tak seberapat tapi yang jauh lebih penting dari izin usaha itu adalah adanya aturan yang mengatur sistem operasional warnet tersebut agar hal-hal seperti ini tidak terjadi,” kata Rinaldi.

Selain menertibkan para pemilik warnet, atas temuan itu, Rinaldi juga memintah kepada dinas pendidikan kota Batam untuk kembali mengevaluasi sistem pengawasan sekolah-sekolah di kota Batam terhadap anak didik mereka.”Ini tanggung jawab kita semua. Lintas instansi yang berkaitan khususnya Dinas Pendidikan mari sama-sama kita perhatikan masalah ini. Pengawasan di sekolah perlu ditingkatkan lagi, agar anak-anak tidak keluyuran di saat jam sekolah seperti ini,” imbau Rinaldi. (eja/bpos)

Respon Anda?

komentar