Dua Desa di Anambas Kesulitan Air Bersih

473
Pesona Indonesia
Tabung air yang sudah dipasang di Desa Air Asuk. Tetapi belum bisa dimanfaatkan karena tidak ada sumber air. foto:syahid/batampos
Tabung air yang sudah dipasang di Desa Air Asuk. Tetapi belum bisa dimanfaatkan karena tidak ada sumber air. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Warga Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, hingga saat ini masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus mengambil air dari pulau lain. Ada warga yang mengambil air bersih dari Desa Temburun, Kecamatan Siantan Selatan, ada juga yang mengambil air dari pulau seberang desa tersebut.

Pengambilan air juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan tidak semua warga bisa mengambil air karena warga harus menggunakan pompong atau perahu kayu. “Kita tidak bisa membantu mengambil air, harus orang laki-laki karena air diangkut pakai pompong,” ungkap salah seorang ibu rumah tangga Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Selatan, Hairani (36), kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, krisis air yang terjadi di desanya sudah berlangsung sejak bertahun-tahun. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus membeli air dari desa lain yakni Desa Temburun, Kecamatan Siantan Selatan. Setiap hari ia mengaku membeli satu drum besar ukuran kurang lebih 180 liter dengan harga Rp 20 ribu.

“Itu kebutuhan minimal satu drum cukup untuk keluarga kecil saperti saya yang hanya memiliki dua anak, jika keluarga besar pastinya tidak cukup hanya satu drum saja, minimal harus membeli dua drum air bersin,” ungkapnya kepada wartawan, Senin (11/10).

Upaya lain untuk mendapatkan air sudah dilakukan yakni dengan menggali tanah. Namun itu tidak membuahkan hasil karena tanah di sekitar desa itu penuh batu sehingga tidak bisa dilakukan dengan penggalian atau pengeboran. “Kita tidak bisa gali tanah, atau ngebor, karena banyak batu,” jelasnya.

Ketersediaan air bersih sangat mempengaruhi perekonomian warga karena seharusnya warga bisa menyimpan uang lebih jika tidak dipakai untuk membeli air bersih. “Kalau air tak beli, lumayan uang air bisa kita sisihkan untuk keperluan lain,” ungkapnya.

Tambahnya, bukan hanya di Desa Air Asuk saja yang mengalami kekeringan air, Desa Lidi juga mengalami hal yang sama. Ia pun menyayangkan hal ini belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah.

Meski pemerintah daerah sudah berupaya memberikan pelayanan air bersih, namun tidak maksimal karena jaringan SPAM yang sudah dipasang hingga kini belum ada airnya. Iamengaku belum tahu alasan mengapa pipa air yang sudah dipasang itu belum juga dialiri air.

Dari pantauan di lapangan, di desa tersebut sudah terpasan pipa SPAM dan sejumlah tabung juga sudah terpasang rapi. Sayangnya pembangunan saluran itu tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang dari pemerintah daerah. Pemda sendiri sudah tahu kalau di desa tersebut tidak ada mata air namun dipaksa dibangun tabung air. Karena belum mendapatkan sumber air yang terdekat, maka saat itu tambung air yang sudah dibangun masih kosong.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Roni Franata, saat itu mengakui hingga saat ini belum menemukan formula yang pas untuk mendapatkan sumber air. Apakah akan mengambil sumber air yang ada di pulau yang ada di depan Desa Air Asuk atau akan mengambil air dari Desa Temburun. “Kita belum temukan formula yang pas, itu masih kita pikirkan,” jelasnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar