Rentenir Sasar Ibu Rumah Tangga, Kerap Memicuh KDRT

512
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Rentenir atau orang yang menjalankan pinjaman uang keliling semakin menjamur di wilayah Batuaji dan Sagulung. Banyak warga khususnya ibu-ibu rumah tangga yang menjadi korban dengan rayuan maut para rentenir itu.

Bunga pinjaman yang tinggi menjadi beban yang berat bagi nasabah mereka. Tidak sedikit keharmonisan rumah tangga jadi terganggu akibat menjamurnya para rentenir itu.

Awal Agustus lalu misalkan, Mnr seorang ibu rumah tangga di Tanjunguncang babak belur dianiaya oleh suaminya sendiri. Ibu tiga anak itu dianiaya karena diam-diam memiliki utang di salah satu rentenir yang menjalan pinjaman uang keliling dengan sistem bayar harian. “Sudah saya bayar tujuh kali. Pinjaman hanya Rp 1 juta,” kata Mnr.

Suami Mnr yang tahu hal tersebut menjadi murka. Mnr dihajar sampai babak belur.

Menurut Mnr memang saat dia meminjam uang dari rentenir tanpa sepengetahuan sang suami. Itu karena cicilan harian yang ditawarkan oleh sang rentenir cukup murah hanya Rp 25 ribu perhari sehingga dia berpikir bisa atasi cicilan tersebut tanpa campur tangan sang suami. “Saya punya warung kecil, mereka (rentenir) datang tawar, kebetulan pula saya ada butuh uang sejuta makanya saya mau saja pinjam,” kata Mnr.

Meskipun menawarkan cicilan harian yang ringan, namun bunga pinjaman yang ditetapkan sang rentenir diakui Mnr cukup tinggi. Uang pinjaman Rp 1 juta tersebut hanya diterimanya Rp 865 ribu. Sisahnya untuk potongan cicilan pertama dan biaya administasi.

Tidak itu saja, meskipun yang diterima hanya Rp 865 ribu, Mnr harus melunasi pinjaman itu hingga Rp 1,2 juta, sehingga keuntungan rentenir mencapai Rp 400 ribu.”Saya tahu memang bunganya besar, tapi karena dirayu terus-terus ditambah lagi adan kebutuhan jadi tergiur juga. Apalagi bayarnya perhari Rp 25 ribu jadi pikirku bisalah saya hemat uang belanja harian untuk bayar pinjaman itu,” katanya.

Namun diluar dugaan, tindakannya itu diketahui sang suami yang berujung pada penganiayaan.

Kejadian yang menimpa Mnr ini, hanya satu contoh dari sekian banyak kasus KDRT akibat terbelit utang sang rentenir seperti itu. Di wilayah Batuaji dan Sagulung kejadian serupa sudah sering terjadi yang mana banyak ibu-ibu pemilik warung yang menjadi korban rayuan maut dari para rentenir tersebut.

Bahkan laporan terkait penarikan paksa sepeda motor, televisi ataupun barang berharga lain dari warga yang dilakukan oleh penangih utang juga sering masuk ke pihak kepolisian.

Para rentenir yang menjalankan pinjaman koperasi harian tersebut, umumnya memang menyasar kaum ibu-ibu yang memiliki usaha warung atau pedagang di pasar kaget. Pinjaman yang ditawarkan tanpa anggunan serta cicilan harian yang kecil kerap membuat ibu-ibu tergiur meskipun bunga yang diterapkan cukup besar.

Dani seorang kaki tangan rentenir di wilayah Batuaji mengakui memang sasaran kerja mereka adalah ibu-ibu yang memiliki usaha. “Kalau mau nawarin juga harus lihat situasi. Biasanya yang mau itu kalau ibu-ibu yang suaminya lagi kerja atau tak ada di rumah. Karena memang mereka mau sembunyi (utang pinjaman) dari suami mereka,” katanya.

Saat nasabah menyetujui pinjaman, maka anggota dari sang rentenir juga harus bisa menjaga rahasia pinjaman tersebut agar suami atau anggota keluarga dari nasabah mereka tidak tahu. “Semakin banyak yang minjam, semakin banyak penghasilan kami. Karena memang bagi dua keuntungannya dengan pemilik modal (rentenir),” kata Dani.

Memang umumnya papar Dani, pinjaman yang disebut koperasi harian itu, menerapkan sistem pembayaran harian.”Pembayaran ya kami jemput setiap hari. Dalam satu komplek (pasar atau perumahan) bisa lebih dari lima nasabah, makanya tak tekor uang jalan kami,” katanya.

Untuk satu nasabah, kata Dani, dalam sebulan keuntungan yang didapat oleh rentenir bisa mencapai 20 persen dari modal pinjaman yang diberikan. Sehingga memang keuntungan dari bisnis meminjamkan uang itu cukup menggiurkan. “Satu nasabah untungnya bisa Rp 400 ribu kalau yang pinjaman Rp 1 juta. Kalau ada 100 nasabah kan lumayan juga,” kata Dani.

Menanggapi hal itu, Kapolsek Batuaji kompol Sujoko mengatakan, adanya para rentenir tersebut juga dikarenakan adanya kebutuhan dari masyarakat itu sendiri. Jika masyarakat jelih dan paham bahwa pinjaman tersebut tidak baik karena memberatkan maka para rentenir akan dengan sendirinya menghilang. “Itu kembali ke pribadi masyarakatnya. Kalau mereka mau ya mau bilang apa. Kami hanya bisa menindak jika ada terjadi masalah yang dilaporkan dan itupun tak sepenuhnya salah rentenir karena saat pinjam meminjam kedua belah pihak sama-sama sepakat,” ujar Sujoko.

Untuk itu Sujoko menghimbau agar masyarakat lebih jelih melihat hal tersebut. “Jika memang memberatkan jangan mau (meminjam). Kalau memang ada kebutuhan terdesak ya pinjamlah ke bank atau lembaga keuangan yang resmi agar tidak jadi persolan di kemudian hari,” imbau Sujoko. (eja/bpos)

Respon Anda?

komentar