Tahun 2017, Pembangunan Natuna Fokus Konektivitas Wilayah dan Industri

703
Pesona Indonesia
Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suparapti. foto:aulia rahman/batampos
Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suparapti. foto:aulia rahman/batampos

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Natuna menggelar musyawarah rencana pembangunan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tahun 2017 -2021, Selasa (11/10).

Musrenbang RPJMD yang digelar dua hari fokus pada rencana pembangunan tahun 2017 hingga 2021 menentukan arah kebijakan pembangunan daerah dalam lima tahun mendatang.

Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti mengatakan, terdapat tahapan pembangunan yang menjadi kebijakan pemerintah daerah selama lima tahun mendatang. Diantaranya arah kebijakan tahun 2017, difokuskan pada pembangunan konektivitas wilayah dan pengembangan indutrialisasi produk unggulan.

Sementara pada tahun 2018, kata Ngesti, fokus pada pemerataan pembangunan dan meningkatkan nilai tambah ekonomi produk unggulan daerah. Selanjutnya tahun 2019, fokus pemantapan industri untuk mewujudkan struktur ekonomi yang berkualitas.

Lalu tahun 2020, kata Ngesti, fokus program pemerintah daerah adalah penguatan daya saing daerah berbasis sumber daya alam terbarukan, didukung penguatan managejemen sumber daya aparatur. Dan tahun 2021, fokus pada penguatan ekonomi menuju masyarakat yang sejahtera.

“Fokus program tahun 2017 membangun konektivitas wilayah dan industri produk unggulan daerah,” kata Ngesti, Selasa (11/10).

Dikatakan Ngesti, industri minyak bumi dan gas saat ini masih menjadi basis ekonomi di Natuna. Namun kondisinya akan menurun. Sehingga perlu dipersiapkan sektor unggulan daerah yang mampu menggerak ekonomi dimasa mendatang.

Selain sektor pariwisata, sambungnya, pengembangan sektor perikanan, pertanian dan perkebunan, merupakan potensi basis pengembangan ekonomi.

“Sektor pertanian menjadi prioritas. Kami punya harapan Natuna bisa swasembada pangan,” ujar Ngesti.

Berdasarkan peraturan daerah tentang RTRW, kata Ngesti, areal yang diperuntukkan pertanian, tanaman pangan dan holtikultura mencapai 16.860 hektare. Tetapi baru dimanfaatkan seluas 299 hektare.

Sementara untuk perkebunan, pemerintah daerah sudah menetapkan seluas 43.320 hektare. Baru ditanami seluas 30.219 hektare dengan karet, kelapa, cengkeh dan sagu.

“Dengan data ini, perlu dikembangkan komoditi unggulan di masing masing Kecamatan. Sesuai potensi dan setrategi intensifikasi maupun ekstensifikasi. Nantinya bisa dilakukan penerapan teknologi pertanian dan perkebunan,” tutup Ngesti.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar