Hasan Aspahani Raih Anugerah Buku Puisi Terbaik

Deklarasi Hari Puisi

470
Pesona Indonesia
Perayaan Hari Puisi dihadiri oleh Wapres Jusuf Kalla, semalam. / Foto: Jawa Pos
Perayaan Hari Puisi dihadiri oleh Wapres Jusuf Kalla, semalam. / Foto: JPG

batampos.co.id – Pada akhirnya, puisi dirayakan penuh gegap-gempita. Puisi bukan lagi dianggap sebagai suatu yang sunyi, sepi, dan sendiri.

Puisi juga bukan lagi hanya pemanis kata-kata. Puisi adalah sebuah alat perjuangan, alat perdamaian, alat pembelajaran, dan bahkan, bagi bangsa ini, puisi ikut menentukan kemerdekaan melalui naskah Soempah Pemuda.

Bertempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Rabu (12/10) malam kemarin, puisi dirayakan. Bukan sekadar oleh para pengarangnya, pencintanya, penerbitnya, tapi juga oleh negara. Secara khusus, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun hadir. JK datang dengan binar senyum cemerlang.

Kendati bukan lulusan ilmu sastra atau orang-orang yang secara serius menekuni sastra, JK berbicara penuh niscaya bahwa bangsa ini berutang banyak kepada para penyair. Yang, kata dia, telah memberikan inspirasi tak tepermanai.

“Terima kasih kepada para penyair. Terima kasih telah menginspirasi kami. Saya percaya puisi adalah penghalus jiwa. Bangsa yang memiliki kehalusan jiwa dapat membentuk spirit yang kuat. Itulah makna dalam perayaan Hari Puisi ini,” kata JK di hadapan ratusan penyair yang hadir.

Kendati lebih sibuk di dunia ekonomi dan politik, bukan berarti dalam sepanjang hidupnya, JK tidak pernah bersentuhan dengan puisi. Bahkan, ia malah pernah menulis sebuah puisi berjudul Ambonku Manise.

“Hanya sebuah (puisi) saja. Setelah itu tidak bisa lagi. Saya pernah mencobanya dan tetap tidak bisa lagi,” ujar JK disambut riuh tawa penonton.

Puisi itu, dikisahkan JK, ditulis dalam sebuah pesawat dalam perjalanan menuju Ambon. Ketika pukul lima pagi, ia terbangun. Dan tiba-tiba meminta kertas dan pena kepada pramugari yang bertugas.

Hanya butuh 15 menit saja, kata JK, untuk merampungkan puisi tersebut. Lalu satu-satunya puisi JK itu pun dibacakannya pada perayaan HUT Kota Ambon awal tahun 2000-an.

“Puisi yang lahir dari emosi saya. Betapa tidak mudah melihat Ambon berkonflik. Banyak orang saling membunuh. Kegetiran itu yang mendorong saya menulis puisi,” aku JK.

Karena itu, JK tidak ragu bahwasanya pada perayaan Hari Puisi Indonesia tahun ini, pemerintah memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penggagas dan pelaksana yang telah selama empat tahun terakhir memberikan atensi luar biasa untuk tetap menyelenggarakan Hari Puisi Indonesia.

Apresiasi juga bersambung dari Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifudin. Ia bahkan berkeinginan agenda perayaan Hari Puisi Indonesia semacam ini bisa terus rutin dilaksanakan setiap tahun.

“Kalau perlu, nanti bisa para penyair ini baca puisi di istana negara,” kata Lukman yang pada malam kemarin membacakan dua puisi berjudul Sandikala serta Agama, Konstitusi, dan Kita.

Kegirangan pun tak surut berpendar di wajah Rida K Liamsi. Budayawan Melayu ini adalah inisiator perayaan empat tahun lalu. Semangatnya mencintai puisi tidak pernah padam dan berhenti pada ketika kata-kata itu diterbitkan.

Tapi juga kepada sebuah aksi nyata. Permenungannya bersama sastrawan Agus S. Sardjono sepulang dari Vietnam itu dilanjutinya dengan gerakan bersama seluruh penyair se-Indonesia. Hari Puisi dideklarasikan.

Dalam pidato kebudayaannya kemarin, Rida tegas sekali mengungkapkan, pelaksanaan Hari Puisi Indonesia adalah sebuah upaya menempatkan sebuah hari yang jadi tanda ingatan, yang jadi hari raya bagi seluruh penyair di Indonesia. Sekaligus keinginan bersama untuk memberi rasa hormat pada para penyair dan karya-karyanya.

“Artinya, Hari Puisi ini haruslah dilihat sebagai visi masa depan kepenyairan Indonesia,” tegas Rida.

Pada malam puncak perayaan kemarin juga dilangsungkan pengumuman Sayembara Buku Puisi Terbaik yang diselenggarakan Yayasan Hari Puisi. Ada pun buku puisi terbaik tahun ini jadi milik penyair Hasan Aspahani.

Bukunya yang berjudul Pena Sudah Diangkat Kertas Sudah Mengering berhasil menyisihkan 245 buku puisi yang diterima panitia pada sayembara tahun ini. Atas prestasi ini, Hasan berhak membawa pulang trofi dan uang tunai sebesar Rp50 juta. (muf/jpg)

Respon Anda?

komentar