33 Sejarawan Johor Ziarahi Makam Sultan Mahmud III

531
Pesona Indonesia
Pegawai Daerah Kota Tinggi Johor, Tn Hj Mohd Noor Azam bin Dato Osman bersama 33 PSM Bukit Tingga ziarahi makam Sultan Mahmud III di Daik. foto:hasbi/batampos
Pegawai Daerah Kota Tinggi Johor, Tn Hj Mohd Noor Azam bin Dato Osman bersama 33 PSM Bukit Tingga ziarahi makam Sultan Mahmud III di Daik. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Menjejaki sejarah melayu yang besar, 33 Sejarawan Johor yang tergabung dalam persatuan sejarah Malaysia (PSM) Kota Tinggi sambangi Bunda Tanah Melayu, Daik Lingga. Kunjungan ini untuk menjalin kembali hubungan kebudayaan antar daerah Kota Tinggi dan Kerajaan Melayu di Daik, Jumat (14/10) siang.

Selain itu, para sejarawan yang tergabung dalam PSM Kota Tinggi juga menziarahi makan Sultan Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmud III di komplek Masjid Jamik Sultan Lingga. Dalam kesempatan tersebut para sejarawan juga ikut mendukung sosok Sultan Melayu yang berhasil mempertahankan kesultanan Melayu yang besar dan kini menjadi 3 negara yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura tersebut untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

Pegawai Daerah Kota Tinggi Johor, Tn Hj Mohd Noor Azam bin Dato Osman melalui Tn H Amad Bahri Bin Mardi mengatakan, sudah sepantasnya gelar pahlawan diberikan kepada Sultan Mahmud III di Lingga tersebut. Hal ini juga berdasarkan referensi dan catatan sejarah yang ada.

“Dari refrensi sejarah yang berhubungan dengan Sultan Mahmud, sudah pantas mengangkatnya jadi pahlawan,” ungkapnya disela-sela ziarah ke makam Sultan Mahmud Marhum Masjid tersebut.

Dari referensi sejarah yang ada, sosok Sultan Mahmud III adalah Sultan Yang Dipertuan Besar mempertahankan kesultanan melayu semenanjung. Saat ketiga wilayah negara ini masih dalam satu kesultanan yakni Johor-Pahang-Riau-Lingga. Meski desakan penjajah memecahbelahkan negri melayu, Sultan Mahmud dianggap berperan besar menyatukan negeri maritim ini.

“Mulai dari ia lahir lalu memimpin hingga mangkat selama 58 tahun, terbukti kesultanan melayu mampu ia pertahankan,” sambungnya lagi.

Selain itu juga, hubungan darah Sultan Mahmud dengan Dato Bendahara di Kota Tinggi terangnya menjadi kekuatan silaturahmi yang harus dipertahankan. Meski kini terpisah negara, kekerabatan orang melayu perlu tetap terjaga.

Dalam kesempatan yang sama, Pejabat Daerah sekaligus pengurus persatuan ahli sejarah Kota Tinggi Kerajaan Johor, H Muhd Noor Azam Bin Datok Osman menambahkan, bukan hal yang berlebihan jika orang-orang melayu Lingga menginginkan sosok pemimpin besar diakui secara luas sebagai Pahlawan Nasional.

“Dia yang ditokohkan dalam sejarah perlawanan bangsa melayu terhadap penjajah, tentu tak salah kalau masyarakat Lingga menginginkan Sultan Mahmud jadi Pahlawan Nasional,” singkatnya.

Sementara itu, Kadisbudpar Lingga M Asward yang juga ikut mendampingi kunjungan 33 Sejarawan Kota Tinggi juga mengajak para tamu kebudayaan untuk melihat sejumlah peninggalan lainnya seperti puing Istana Damnah, Museum Linggam Cahaya, serta sekolah-sekolah yang ada di Daik.

“Intinya mereka (red PSM) sangat tertarik dan mengagumi Bunda Tanah Melayu. Baik keindahan alamnya maupun tapak tilas sejarah hubungan kebudayaan ini. Kunjungan ini akan berlangsung tiga hari dan akan mengnjungi lokasi-lokasi sejarah juga tempat kerajinan Tekat Tudung Manto khas Lingga,” ungkap Asward.

Para tamu sejarawan terang Asward juga memberi masukan terkait penjagaan barang-barang bersejarah di Bunda Tanah Melayu. “Mereka menyarankan agar sejarah kebudayaan ini tetap dipertahankan. Tentu dengan polesan-polesan yang lebih. Saat ini kita tau sendiri, aset sejarah melayu serumpun belum mampu ditata dengan baik,” paparnya.

Lewat kunjungan sejarah ini, Asward juga berharap kedepan perhatian terhadap benda bersejarah di Lingga dapat lebih diprioritaskan sebagai bagian leterasi sejarah dengan penguatan kelembagaan dan berdirinya dinas Kebudayaan secara utuh. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar