Curi Ikan di Perairan Tanjung Berakit, Tiga Kapal Ikan Asal Vietnam Ditangkap

391
Pesona Indonesia
Tiga kapal ikan milik Vietnam berbendera Malaysia dan sejumlah ABK diamankan oleh PSDK di Jembatan II Barelang akibat mencuri ikan di perairan Kepri, Jumat (14/10). Foto:  Dalil Harahap/Batam Pos
Tiga kapal ikan milik Vietnam berbendera Malaysia dan sejumlah ABK diamankan oleh PSDK di Jembatan II Barelang akibat mencuri ikan di perairan Kepri, Jumat (14/10). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Tiga kapal ikan asing (KIA) asal Vietnam berbendera Malaysia ditangkap oleh kapal patroli Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Satker PSDKP) Batam, KP HIU 3214 di perairan Tanjung Berakit sekitar 22 mill ke arah timur, Selasa (11/10) siang. Karang 6, Murkham dan JMS00637 nama tiga kapal tersebut diamankan bersama 48 awak kapal warga Vietnam karena tertangkap basah mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia.

Petugas juga mengamankan sejumlah alat tangkap throwl yang merupakan jenis alat tangkap yang dilarang pemerintah serta tiga ton ikan campuran berbagai jenis. Kapal, kru bersama barang bukti tangkapan tersebut saat ini di amankan di pelabuhan Satker PSDKP Batam di jembatan II Barelang.

Kepala Satker PSDKP Batam Akhmadon menuturkan, dalam penangkapan itu sebenarnya ada empat KIA berbendera Malaysia yang menjadi target petugasnya di lapangan. Namun saat mendatangi lokasi kapal-kapal itu berada, satu KIA berhasil kabur. “Kapal-kapal ini berpasangan. Ada dua pasang (empat kapal) tapi satunya berhasil kabur saat petugas kami datang,” ujar Akhmadon.

Tiga kapal yang ditangkap itu saat diperiksa diketahui berasal dari Vietnam dan mereka sengaja menggunakan bendera Malaysia untuk mengelabui petugas. Kapal-kapal tersebut juga tidak dilengkapi dengan dokumen resmi baik untuk berlayar ataupun untuk menangkap ikan di wilayah periaran Indonesia. “Mereka hanya memiliki izin untuk wilayah periaran Malaysia, tapi prakteknya malah di periaran Indonesia,” papar Akhmadon.

Awak kapal dari ketiga kapal yang diamankan itu sambung Akhmadon semuanya adalah warga negara Vietnam sehingga untuk proses hukumnya, pihak PSDKP akan berkoodinasi dengan Imigrasi kelas I Batam.”Awak kapal ada 48 orang, semuanya akan diproses. Nanti bagaimana tindak lanjutnya akan kami koordinasi dengan pihak Imigrasi,” ujarnya.

Begitu juga dengan ketiga kapal bersama nahkodanya juga akan menjalani proses hukum yang berlangsung sampai tuntas. “Apakah nanti mau ditenggelamkan atau gimana tergantung putusan pengadilan,” ujarnya.

Penangkapan tiga kapal tersebut menambah daftar panjang jumlah KIA yang ditangkap karena mencuri ikan di periaran Kepri. Sepanjang tahun 2016 ini kata Akhmadon, total sudah 25 unit KIA yang berhasil ditangkap. Ke 25 kapal itu tiga diantaranya masih disidik, delapan dalam persidangan.” Sisanya sudah diputuskan dan beberapa sudah ditenggelamkan termasuk 10 kapal yang ditenggelamkan baru-baru ini,” sebutnya.

Angkat tersebut diakui Akhmadon memang masih tinggi sebab ditahun 2015 lalu PSDKP menangani 32 unit KIA.”Secara grafis memang belum ada penurunan. Masih menggiurlah kekayaan laut kita sehingga masih banyak KIA yang masuk dan mencuri ikan kita,” ujarnya.

Mengenai hukuman penenggelaman KIA yang ditangkap, memang selama ini sudah dilakukan secara tegas. Dari tahun 2014 lalu, ada sekitar 34 unit KIA yang sudah ditenggelamkan. Namun itu sepertinya belum memberikan efek jera apapun. “Itu karena potensi perairan kita masih sangat menggiurkan dan kurang dimanfaat dengan baik sehingga nelayan asing ini terus datang untuk mencuri ikan kita,” ujarnya.

Untuk itu Akhmadon kembali menghimbau kepada segenap masyarakat di Kepri agar sama-sama mengawasi dan menjaga wilayah periaran kita agar pergerakan para pencuri ikan itu bisa dipersempit atau dicegat. “Ini tanggung jawab kita bersama. Kalau lihat atau mengetahui adanya nelayan asing, segera lapor ke aparat terkait yang terdekat agar segera ditindak. Jangan beri mereka kesempatan karena kerugian negara bukan saja pada nilai ikan yang dicuri tapi juga kerusakan lingkungan laut kita,” ujar Akhmadon. (eja/bpos)

Respon Anda?

komentar