Menaker dan MenPAN-RB Hidupkan Kembali BLK Batam

447
Pesona Indonesia
Menaker M Hanif Dhakiri  dan Walikota Batam Muhammad Rudi (Dta dari kanan) melihat Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Sagulung, Jumat (14/10). foto:dalil harahap/batampos
Menaker M Hanif Dhakiri, Menpan RB, Asman Abnur dan Walikota Batam Muhammad Rudi melihat Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Sagulung, Jumat (14/10). foto:dalil harahap/batampos

batampos.co.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri bersama Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara/Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur mengunjungi gedung balai latihan kerja (BLK) Batam yang ada di jalan Brigjen Katamso, Sagulung, Jumat (14/10) pagi. Kunjungan dalam rangka pengembalian Unit Pelaksana Teknis Balai Latihan Kerja (UPT BLK) itu, Hanif menyoroti buruknya bangunan BLK yang sudah lama terbengkalai dan tak terawat itu.

Hanif dan Asman yang ditemani Wali Kota Batam Muhammad Rudi, Badan Pengawasan (BP) Batam yang diwakili oleh Deputi V BP Batam Gusmardi Bustami, Kapolda Kepri Brigjen Pol Sam Budigusdian dan jajarannya meninjau satu persatu bangunan BLK tersebut.

Saat memasuki gedung workshop, Hanif tersentak kaget, sebab kondisi gedung tersebut benar-benar sudah tak terurus lagi. Begitu juga dengan peralatan workshop yang sudah banyak hilang membuatnya bertanya-tanya.”Ini rumah hantu, bukan BLK. Kok begini bentuknya. Mana peralatan workshopnya?” kata Hanif.

Reaksi yang sama juga saat memasuki gedung serba guna BLK. Plafon gedung yang sudah banyak bocor membuat Hanif dan Asman terheran-heran. “Kok begini semua. Apakah tidak digunakan sama sekali ya. Padahal baja semua rangka bangunanya, sayang sekali,” ujar Hanif lagi.

Melihat kondisi BLK yang cukup prihatin itu, Hanif juga sempat melontarkan pertanyaan ke Wali Kota Batam Muhammad Rudi. “Apa saja kerjamu? Kok begini bentuknya,” tanya Hanif seraya tertawa dan mengatakan kalau Rudi adalah kawan lamanya.

Usai meninjau kondisi terkini gedung BLK itu, Hanif dan Asman sempat berbincang-bincang dengan Walikota dan pihak BP Batam terkait persoalan itu.

Kepada wartawan Hanif memang menyayangkan kondisi BLK yang sudah tak aktif dan terbengkalai itu. Dia berharap agar persoalan antara BP dan Pemko Batam terkait keberadaan gedung BLK itu secepatnya diselesaikan agar BLK itu kembali diperdayakan sebagai tempat untuk melatih skill tenaga kerja yang ada di Batam. “Tadi sudah bincang-bincang dan saat ini gedung ini dalam proses penyerahan dari BP ke Pemko,” ujar Hanif.

Jika persoalan pengelolah gedung tersebut sudah jelas maka kedepannya Menaker akan memberdayakan kembali gedung tersebut sebagai tempat pembekalan skill kepada para pekerja. “Penyeragan(dari BP Batam) ke pusat baru setelah itu pembangunan diserahkan ke Pemda di sini,” kata Hanif.

Dijelaskan Hanif keberadaan BLK memang sangat penting saat ini. Yang mana persaingan tenaga kerja asing yang semakin ketat, maka pembekalan skill pekerja lokal juga harus ditingkatkan. “Untuk bisa bersaing ya harus ada pemberdayaan tenaga kerja yang ada melalui akses latihan seperti ini,” ujar Hanif.

Pemerintah pusat paparnya, sangat memperhatikan pengembangan Sumber Daya Manusia, terutama di perbatasan karena berhadapan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia.

“Demi kepentingan masyarakat umum dan angkatan kerja Batam yang membutuhkan peningkatan kompetensi kerja, Kementerian Ketenagakerjaan bersinergi dengan Kementerian Pendayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi akan meningkatkan kualitas BLK Batam ,” ujarnya.

Batam katanya lagi memang membutuh BLK berkualitas agar tenaga kerja Batam mampu bersaing di dunia kerja internasional. “Sampai 2030 kita diprediksi menjadi negara ke-7 dengan ekonomi terbesar, tapi syaratnya kita harus punya 113 juta pekerja berkeahlian. kita membutuhkan percepatan peningkatan kompetensi tenaga baik melalui pendidikan vokasi maupun melalui pelatihan kerja,” ungkap Menaker Hanif.

Senada disampaikan Asman Abnur, bahwa BLK yang diwacanakan akan kembali aktif itu, nantinya bisa mencetak tenaga kerja yang profesional dan siap bersaing.

Mengenai persoalan kepemilikan gedung, Asman juga berharap secepatnya diselesaikan agar misi pemerintah untuk meningkatkan skill tenaga kerja lokal secepatnya terwujud.”Persoalan ini akan disampaikan juga ke pusat dan semoga cepat ada titik temu agar pelatihan tenaga kerja ini segera dilaksanakan,” ujar Asman.

BLK Batam dibangun tahun 1999 menggunakan Dana Iuran Wajib Pendidikan Latihan (IWPL). Dana IWPL ini diperoleh dari tenaga kerja asing yang bekerja di Batam dimana dana tersebut 50 persen untuk Pusat dan 50 persen untuk Badan Otorita Batam. Pada tahun 2001 Pengelolaan BLK Batam dikelola oleh Yayasan Karya Bangsa bentukan Pemko Batam dan Badan Otoritas Batam“BLK ini sudah lama nganggur, Batam ini kan berbatasan langsung dengan Singapura, jadi Batam merupakan etalase Indonesia. Oleh karena itu saya berharap BLK menjadi tempat memproduksi Tenaga Kerja Handal. Saya usulkan juga kepada Menaker agar Batam memiliki pusat tenaga kerja terpadu, diharapkan kita bisa mengirim tenaga kerja berkualitas ke singapura dan Malaysia, ” ujar Asman.

Bangunan BLK dibangun di lahan milik Badan Otoritas Batam seluas sekitar dua hektare. BLK Batam sudah lama terbengkalai karena tumpang tindih otoritas pengelolaan. Pengelolaan Yayasan tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan karena pengelolaanya belum jelas, apakah dikelola Badan Otoritas Batam atau Pemda. Tahun 2008 secara otomotis pengelolaan oleh Yayasan Karya Bangsa bubar karena adanya undang-undang tentang Yayasan. (eja/bpos)

Respon Anda?

komentar