Situasi Memanas, Mahasiswa Ancam Keluar dari STAI Ibnu Sina

5734
Pesona Indonesia
Sejumlah dosen dan mahasiswa perwakilan Sekolah Tinggi Ibnu Sina melakukan konfirmasi ke redaksi Batam Pos terkait masalah internal yang dihadapi STAI Ibnu Sina. Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Sejumlah dosen dan mahasiswa perwakilan Sekolah Tinggi Ibnu Sina melakukan konfirmasi ke redaksi Batam Pos terkait masalah internal yang dihadapi STAI Ibnu Sina. Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Polemik antara mahasiswa dengan yayasan pendidikan STAI Ibnu Sina Batam terkait pemberitaan yang sudah beredar di beberapa media sebelumnya, semakin memanas hingga dikeluarkannya petisi dari mahasiswa pertanggal 13 Oktober 2016.

Dalam petisi yang ditandatangani lebih dari 200an mahasiswa STAI itu, berisikan agar pihak kampus segera membenahi perbaikan manajemen dalam kurun waktu satu minggu terhitung dari petisi dikeluarkan. Jika tidak terpenuhi, maka mahasiswa STAI Ibnu Sina Batam jurusan pendidikan agama Islam (PAI) dan Hesy semester I, III, V, VII Reguler dan Ektention sepakat untuk mundur atau keluar dari STAI IBnu Sina Batam.

Koordinator mahasiswa Nasrulloh mengatakan, dari pihak kampus telah melakukan pembohongan publik terkait pemberitaan di media yang menjelaskan bahwa permasalahan di kampus Ibnu Sina telah selesai.

“Bahasanya (Ketua STAI Sumianti,red), tuntutan mahasiswa sudah dipenuhi, dan masalah sudah selesai. Itu bohong,” ujar Nasrulloh didampingi beberapa mahasiswa lainnya saat berkunjung ke Batam Pos, Kamis (13/10).

Ia menjelaskan, mahasiswa STAI Ibnu Sina Batam khususnya jurusan PAI dan Hesy menuntut pihak kampus melalui aksi demo (26/9) lalu, untuk mencopot jabatan pembantu ketua (Puket) I, Nuraini, karena dinilai meng-intervensi kepala jurusan (kajur) untuk menjalankan sistem pembelajaran yang keras, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan proses belajar mengajar.

“Selain menuntut copot jabatan Puket I, kami juga menuntut lima hal lainnya yaitu mengeluarkan KHS segera, upgrade perpustakaan, disiplin jadwal, membenahi birokrasi kampus, dan menagih janji pelaksanaan sidang senat yang dijadwalkan (25/9) lalu tapi tidak kunjung terlaksana hingga sekarang,” terangnya.

Namun, tanpa adanya kesepakatan bersama dan tanpa melalui rapat senat, ketua STAI telah mengeluarkan surat keputusan (SK) struktur kepengurusan manajemen yang baru, yang dinilai justru memperburuk keadaan struktural.

“Pergantian struktur wajib melalui rapat senat, namun rapat senat itu tidak pernah dilaksanakan. Sementara di SK, tercantum pemilihan sesuai rapat senat (30/9) lalu,” lanjut mahasiswa yang ikut mendampingi, Fatrizam.

Dampak lainnya dari SK tersebut, Kajur PAI, Sekjur PAI, Kajur Hesy dan Puket 3, yang dinilai sebagai dalang dari aksi demo yang dilakukan mahasiswa, bakal diberhentikan dalam waktu dekat oleh Ketua STAI Ibnu Sina. Bahkan, dua dosen tetap yang sudah mengabdi puluhan tahun dan juga termasuk pendiri dari STAI Ibnu Sina Batam, sudah diberhentikan secara sepihak.

“Kami berempat sudah dipanggil dan diberitahu akan dikeluarkan surat pemberhentian kerja. Namun surat itu masih belum dikeluarkan,” aku Kajur PAI, Nurmanisma.

Dari perlakuan Ketua STAI Ibnu Sina dan yayasan yang dinilai sepihak itulah, membuat proses belajar mengajar tidak berjalan kondusif. “Sejak demo hingga sekarang, mahasiswa mogok belajar karena tuntutan kami diabaikan dan malah diperkeruh dengan struktural manajemen yang buruk, karena masing-masing posisi diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten,” tegas Nasrulloh.

Menanggapi hal ini, melalui Sekretaris Kopertis wilayah XII, Abu menuturkan, pihaknya hingga saat ini tidak bisa melakukan penanganan lebih lanjut terkait permasalahan yang terjadi di STAI Ibnu Sina.

“Masalahnya masing-masing pihak belum ada melaporkan permasalahan ini ke Kopertis, jadi kami tidak bisa campur tangan,” ujar Abu saat dikonfirmasi.

Sementara, Ketua STAI Ibnu Sina Sumianti saat dikonfirmasi mengatakan, mahasiswa seperti terprovokasi oleh pihak tertentu yang menimbulkan permasalahan di kampus.

“Kami (manajemen kampus dan yayasan) masih melakukan proses untuk duduk bersama mengatasi permasalahan ini,” jawab Sumianti.

Yang jelas, lanjutnya, pihak kampus dan yayasan sudah melakukan koordinasi untuk memenuhi segala tuntutan mahasiswa itu. (cr15)

Respon Anda?

komentar