Wapres JK Tak Hadiri Pelantikan Jonan-Arcandra, Ada Apa?

425
Pesona Indonesia
Presiden Jokowi (tengah) usai melantik Ignasius Jonan (kiri) sebagai menteri ESDM dan Arcandra Tahar sebagai Wakil Menteri ESDM di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/10).--raka denny/jawapos
Presiden Jokowi (tengah) usai melantik Ignasius Jonan (kiri) sebagai menteri ESDM dan Arcandra Tahar sebagai Wakil Menteri ESDM di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/10/2016). Foto: Raka Denny/jawapos

batampos.co.id – Ada yang tak biasa dalam pelantikan Ignasius Jonan dan Arcandra Tahar sebagai Menteri dan Wakil Menteri ESDM. Sang Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tak hadir.

Ketidakhadiran JK ini sempat menuai banyak pertanyaan, termasuk di kalangan jurnalis. Padahal, dari sejak JK jadi Wapres SBY hingga Jokowi, ia selalu hadir dalam pelantikan kabinetnya. Tapi kali ini ia tak hadir.

Memang, ada kesan pelatikan Jonan-Arcandra terkesan mendadak, sehingga tidak semua undangan hadir.

Jonan dan Arcandra mengakui hal itu. Mereka mengaku dihubungi hanya beberapa jam sebelum pelantikan.

“Kayaknya sekitar jam 11. Saya lagi di jalan,” ujar Jonan. Pelantikan di Istana Negara digelar pukul 13.30 WIB.

Jonan hanya diberi pesan untuk mengenakan setelan jas lengkap. Karena mendadak itu, istri Jonan, Ratnawati Jonan, tampak “kurang maksimal” dalam berdandan. Dia mengenakan setelan kebaya merah muda. Rambutnya digulung biasa. Tidak disanggul.

Arcandra bahkan tidak didampingi sang istri Fauline Tahar. Dia datang lebih dahulu daripada Jonan. Tidak lama setelah salat Jumat. Sedangkan Jonan datang sekitar setengah jam sebelum pelantikan.

Para wartawan yang meliput di istana juga tidak memprediksi kemarin ada pelantikan menteri. Dalam jadwal resmi presiden, hanya ada rencana keberangkatan ke Pontianak pada saat yang sama dengan pelantikan.

Bukan kali ini saja Jokowi melantik pejabat secara mendadak. Pada 9 September lalu presiden melantik Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan di sela-sela agenda kunjungan kenegaraan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Tepatnya pada pukul 17.30 saat jeda pertemuan bilateral dengan makan malam kenegaraan. Undangan disebar beberapa jam sebelumnya. Saat itu pelantikan juga tidak dihadiri JK.

Lalu kemana JK yang hingga pelantikan usai tak tak kunjung hadir?

Usut punya usut, JK rupanya sedang berada di Makassar. JK yang dihubungi terpisah menjelaskan, penentuan Jonan sebagai menteri ESDM baru diputuskan kemarin pagi (sekitar pukul 10.00). Jokowi langsung menelepon JK. Tapi, saat itu JK sudah berada di Makassar. JK tidak mempermasalahkan hal itu.

Menurut JK, sebelumnya memang ada pembicaraan intensif dengan presiden terkait orang yang mengisi jabatan menteri ESDM. Mereka sama-sama sepakat kursi menteri ESDM itu harus berasal dari kalangan profesional. Bukan dari partai politik. “Kita punya prinsip harus dari profesional,” katanya.

JK menuturkan, Jonan harus banyak belajar lagi dalam bidang ESDM. Termasuk pula Arcandra yang sebelumnya menjabat menteri ESDM dalam waktu 20 hari. Pemerintah membutuhkan orang yang lebih berpengalaman. “Orangnya (Jonan, Red) tegas. Memang harus banyak belajar ESDM,” ujar JK.

Terpilihnya duet Jonan dan Arcandra menuai beragam respons. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Biji Besi Indonesia (APB3I) Erry Sofyan menyambut positif.

“Kementerian ESDM itu punya peran vital dan luar biasa nilainya. Kalau jabatan menterinya diberikan ke orang yang penakut, bisa nggak jalan,” ucapnya.

Jonan memang dikenal keras kepala, tetapi bisa memberikan efek positif. Meski tidak punya latar belakang migas, Jonan memiliki kemampuan manajerial. “ESDM itu butuh pimpinan yang berani. Jangan dilihat kekurangannya terus,” tutur Erry.

Dirut PT Pertamina Dwi Soetjipto menyebut Jonan dan Arcandra cocok menduduki pucuk pimpinan Kementerian ESDM. Jonan dinilai punya segudang pengalaman. Memahami aspek keuangan yang dibutuhkan untuk melakukan evaluasi terhadap cost recovery. “Apalagi, saat ini kita menekankan efisiensi,” ucapnya.

Sementara itu, Arcandra jago dalam migas. Dia memiliki pengalaman teknis yang sudah teruji. Dwi berharap keduanya bisa mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.

“Seperti menurunnya produksi minyak dalam negeri, UU Migas, sampai soal harga gas,” katanya.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro juga optimistis dengan duet Jonan-Arcandra. “Yang paling penting dari pimpinan itu integritas dan leadership. Ada eselon satu dan dua yang bisa mendukung mereka,” jelasnya.

Dari parlemen, anggota Komisi VII DPR Ramson Siagian mengaku terkejut atas keputusan Jokowi memilih Jonan. Menurut dia, ada sejumlah alternatif yang lebih layak menduduki posisi menteri ESDM.

“Apakah ini supaya Arcandra tetap berperan, kami tidak tahu. Tapi, ini hak prerogatif presiden,” kata Ramson.

Komisi VII menunggu langkah-langkah dan kebijakan duet Jonan-Arcandra. Tantangan terbesar menteri ESDM saat ini adalah pendapatan negara bukan pajak melalui migas bukan lagi jumlah yang signifikan. Menteri ESDM tentu harus memikirkan kebijakan baru, termasuk soal energi terbarukan.

“Jangan lupa soal kebijakan sektor pertambangan umum. Ada beberapa perusahaan yang diberi izin ekspor terhadap hasil tambang mentah,” ingat anggota Fraksi Partai Gerindra itu. (byu/jun/dim/bay/c9/ca/jpnn)

Respon Anda?

komentar