BC Tangkap Penyelundup Pasir Timah, Kru Kapal Melarikan Diri Masuk Hutan

485
Pesona Indonesia
Kepala Bidang Operasi  Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun  menunjukkan pasir timah hasil tangkapan kapal BC. foto:istimewa
Kepala Bidang Operasi Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun menunjukkan pasir timah hasil tangkapan kapal BC. foto:istimewa

batampos.co.id – Kapal Patroli BC 20008 Kanwil Khusus DJBC Kepri di Tanjungbalai Karimun berhasil menggagalkan penyelundupan pasir timah yang berasal dari Belinyu, Bangka Belitung, yang akan diselundupkan ke negeri jiran, Malaysia, pada Sabtu (15/10) di Perairan Pulau Repong pada posisi koordinat 02 21 45 Lintang Utara / 105 53 20 Bujur Timur.

”Pasir timah yang berhasil digagalkan penyelundupannya ke Kuantan, Malaysia, tersebut jumlahnya 9,94 ton yang diangkut menggunakan KM Amanah GT 23. Lokasi penangkapan sendiri memang cukup jauh, yakni di sekitar perairan Natuna. Sebelum dilakukan penangkapan, kapal ini berlayar dengan kondisi yang sarat dengan muatan, sehingga menimbulkan kecurigaan petugas patroli” ujar Kepala Bidang Operasi, Raden Evi kepada Batam Pos, Senin (17/10).

Pada saat dilakukan pengejaran tehadap KM Amanah, kata Evi, ternyata kru kapal dan nakhoda mengetahui hal ini. Sehingga, nakhoda kapal mengarahkan haluan kapal ke Pulau Repong yang jaraknya tidak jauh dari lokasi pengejaran. Kemudian, nakhoda kapal mengkandaskannya di sekitar pantai Pulau Repong dan seluruh krunya melarikan diri ke dalam hutan. Petugas patroli BC berusaha melakukan pengejaran ke dalam hutan, namun tidak berhasil melakukan penangkapan terhadap kru kapal.

”Sudah tentu ada yang tidak beres atau kesalahan terhadap muatan yang dibawa oleh KM Amanah sampai nakhoda dan krunya melarikan diri. Ternyata memang benar kalau di dalam kapal terdapat pasir timah. Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap dokumen terkait muatan. Ternyata tidak ditemukan adanya dokumen. Diperkirakan nilai pasir timah yang berhasil kita sita mencapai Rp 1,69 miliar,” paparnya.

Untuk kerugian negara, lanjut Evi, sudah tentu sulit untuk diprediksi. Sebab, pasir timah ini berasal dari kegiatan pertambangan yang dilakukan secara ilegal atau tanpa izin di Bangka Belitung. Sehingga, kegiatan tersebut telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Selain itu, sesuai dengan peraturan yang berlaku eskpor timah tidak dibenarkan dalam bentuk pasir. Melainkan, dalam bentuk timah batangan dengan kadar timahnya 99,9 persen.

”Saat ini, kapal baru sampai tadi siang (kemarin, red) di Pos Pelabuhan Operasi Penindakan. Karena, jarak atau lokasi penangkapan dengan pelabuhan tujuan di Tanjungbalai Karimun juga cukup jauh. Ditambah lagi kondisi cuaca selama berjalan yang berubah-rubah,” jelasnya. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar