Hafidh Giat Mengajari Kaum Tuli Berbahasa Indonesia

Kisah Pemenang Zetizen National Challenge Go to New Zealand (1)

339
Pesona Indonesia
Gustian Hafidh Mahendra saat sesi penjurian Zetizen Summit 2016. Dia tampil dengan dibantu translator. / Foto: Ivan / Netizen
Gustian Hafidh Mahendra saat sesi penjurian Zetizen Summit 2016. Dia tampil dengan dibantu translator. / Foto: Ivan / Zetizen

Lahir dengan disabilitas fisik (Tuli) tak membuat Gustian Hafidh Mahendra patah semangat. Alpha Zetizen of the Year asal Jogjakarta itu memanfaatkan keterbatasannya dengan mendirikan kelas bahasa Indonesia bagi para penyandang Tuli.

DIANA HASNA – INDRIANI PUSPITANINGTYAS

DI dunia mereka yang sunyi, tulisan merupakan satu-satunya hal yang bisa menghubungkannya dengan dunia luar Jika ingin berkomunikasi, mereka harus bisa menulis dan menyusun kata demi kata menjadi kalimat. Memang ada bahasa isyarat. Tapi, tidak semua orang paham.

Penggunaan bahasa isyarat sering terbolak-balik dengan bahasa lisan pada umumnya. Susunan kalimat SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan) bisa saja terbalik menjadi objek, predikat, keterangan, dan baru kemudian subjek. Itu menyulitkan penyandang Tuli untuk berkomunikasi. Terlebih pada era sekarang, saat chatting lebih trendi ketimbang ber­komunikasi secara langsung. Satu-satunya cara supaya survive di pergaulan ya harus bisa memahami bahasa tulisan dengan baik.

Hafidh memilih kelas bahasa Indonesia karena prihatin melihat kurangnya kemampuan para penyandang Tuli dalam berbahasa Indonesia. Bahkan, banyak temannya yang menganggap menguasai bahasa Indonesia tidak penting. “Masalah utama teman-teman Tuli itu dalam hal komunikasi. Apalagi, penerapan bahasa isyarat ke dalam bahasa lisan atau sebaliknya bisa menimbulkan makna yang berbeda,” ujarnya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Jika tidak mampu move-on dan tetap pasrah dengan keadaan, dia pasti akan mengalami diskriminasi dari sekitar. Sebagai seseorang yang sama-sama memiliki keterbatasan, Hafidh paham betul bagaimana sulitnya bergaul jika tidak punya kemampuan komunikasi yang baik. “Aku pernah di-bully teman sekolahku karena mereka melihatku berbeda dan tidak bisa seperti mereka,” cerita Hafidh yang kami artikan dengan bantuan penerjemah.

Pengalaman pahit tersebut dia rasakan saat duduk di bangku sekolah normal menengah pertama. Saat itu Hafidh yang sejak umur dua tahun hanya mengenyam pendidikan di SLB memang sama sekali tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang normal seusianya.

“Dulu aku minder tiap kali mau kenalan dengan teman-teman. Selalu pakai media tulisan tiap mau berkomunikasi. Takut mereka menjauh kalau aku mencoba berbicara karena pasti tidak jelas,” kata Hafidh yang kini sangat fasih berkomunikasi via chatting.

Sayang, hal itulah yang malah menjadikan Hafidh sasaran bully teman-temannya yang jahil. Karena terus-menerus mendapat perlakuan kurang menyenangkan, Hafidh menyadari pentingnya bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. “Aku berpikir, berarti aku harus jadi kayak mereka dulu biar dihargai,” ujar siswa SMA Negeri 1 Sewon, Bantul, Jogjakarta, itu.

Hafidh pun terlecut untuk melakukan aksi positif. Bersama empat teman yang juga menyandang Tuli, mereka mendirikan Kebintuli (Kelas Bahasa Indonesia Anak-Anak Tuli). Sekaligus menjadi tenaga pengajar di Sekolah Semangat Tuli yang terbuka untuk umum.

Hafidh aktif mengajak teman-teman Tuli di wilayah Jogja untuk belajar berbahasa Indonesia dengan baik. Bahkan, dia rela mengajar tanpa imbalan apa pun demi menjauhkan teman-temannya dari perlakuan buruk yang pernah diterimanya. Dalam sepekan, dia punya jadwal dua kali mengajar. “Mayoritas yang aku ajar itu anak-anak seusiaku karena paling mudah bertemunya,” ungkap pelajar yang juga aktif di komunitas Deaf Art Community itu.

Karena kemampuan bahasa Indonesia-nya sudah jauh lebih baik, Hafidh juga sering memperbaiki susunan kalimat yang digunakan teman-temannya saat chatting. “Karena sekarang apa-apa disampaikan lewat tulisan, aku pengin teman-teman Tuli bisa menyampaikan maksud lewat tulisan dengan baik. Sebab, kalau tulisannya berantakan, kan nggak bisa dipahami,” ujarnya, lantas tersenyum.

Sampai pada suatu ketika Hafidh membaca halaman Zetizen di Jawa Pos Radar Jogja (Jawa Pos Group). Dalam halaman tersebut terdapat pengumuman mengenai kompetisi Zetizen National Challenge Go to New Zealand. Dia mencari lagi informasi lebih detail di situs zetizen.com. Hafidh pun submit aksinya.

Tak disangka, Hafidh terpilih menjadi lima finalis Alpha Zetizen se-Jogjakarta. Bersama keempat finalis lain, Hafidh berangkat ke Surabaya mengikuti Zetizen Summit 2016 untuk sesi penjurian. Masalah muncul. Sesi interview dilakukan secara lisan. Namun, Hafidh tak putus semangat. Saat proses penjurian berlangsung, dia dibantu seorang translator. “Saat menunggu sesi itu, aku deg-degan. Tapi, setelah masuk ruangan interview, aku merasa sedikit lebih baik dan lebih tenang,” ujarnya melalui media chatting.

Seusai proses tersebut, juri cukup bingung. Sebab, pesaing Hafidh dari Jogja sama-sama baik dan aksinya luar biasa positif. Pada akhirnya, dewan juri yang terdiri atas perwakilan New Zealand Embassy, Jawa Pos Group, dan Zetizen sepakat memilih Hafidh sebagai pemenang dan berhak mengikuti fun adventure trip ke New Zealand.

Keberanian dan kepercayaan diri Hafidh berbuat aksi tersebut membuat kita semua tersadarkan. “Ada masalah bagi penyandang Tuli yang tampaknya sepele, ternyata punya dampak serius bagi mereka,” komentar Melany Tedja, dewan juri dari New Zealand Embassy. “Dengan adanya aksi seperti ini, semoga pemerintah juga sadar dan lebih memedulikan pelajar-pelajar berkebutuhan khusus seperti Hafidh,” katanya. Selamat mencari pengalaman baru di New Zealand, Hafidh! (giv/c10/ca)¬†

Respon Anda?

komentar