Tidak Kantongi Izin, Panti Pijat di Sagulung Nekat Buka

365
Pesona Indonesia
Tim dari Kecamatan, Satpol PP dan Polsek Batuaji saat merazia panti pijat di Komplek Ruko Waheng Centre, Batuaji beberapa waktu lalu. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Tim dari Kecamatan, Satpol PP dan Polsek Batuaji saat merazia panti pijat di Komplek Ruko Waheng Centre, Batuaji beberapa waktu lalu. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Panti pijat di wilayah kecamatan Sagulung kembali marak beroperasi. Padahal sebelumnya pihak kecamatan Sagulung sudah melakukan penutupan 21 titik panti pijat yang ada di kecamatan tersebut karena tidak mengantongi izin dari instansi pemerintah terkait.

Pantuan di lapangan titik lokasi panti pijat yang masih buka umumnya di kawasan ruko Batavia dan di kawasan SP Plaza yang jaraknya tak jauh dari lokasi kantor Camat dan kantor Polisi Sagulung. Panti-panti pijat di ruko Batavia umumnya bertuliskan nama Dewi Sri Group dan tampak ramai dengan pekerja wanita berdandan seksi.

Para pekerja tak segan-segan memanggil siapa saja yang melewati jalan di sekitaran ruko tersebut. “Pijat mas, sini mas,” ujar seorang wanita di panti pijat Dewi Sri Group II.

Padahal lokasi tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian pihak kecamatan karena tidak mengantongi perizinan yang sah dan terindikasi menggelar praktek prostitusi. Warga setempat sudah berulang kali protes karena dianggap mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal namun itu tak berpengaruh sebab sampai siang kemarin panti pijat di sana tetap beroperasi normal.

Camat Sagulung Reza Khadafy saat dikonfirmasi mengatakan akan segera mengambil tindakan tegas terhadap panti pijat yang membandel itu. “Itu akan kami tertibkan juga. Memang kemarin masih sebatas di Simpang Basecamp dan pasar Sagulung,” kata Reza.

Lokasi panti pijat di ruko Batavia dan SP diakui Reza memang agak jauh dari pemukiman warga sehingga pada penertiban lalu pihaknya belum sempat. Namun demikian pemilik panti pijat di dua lokasi tersebut juga sudah diberi surat peringatan untuk menunjukkan surat izin usahanya.

“Saya sudah ingatkan kepada pemilik massagenya supaya menunjukkan surat izinnya. Memang di simpang Basecamp didulukan penutupannya,” ujarnya.

Reza menegaskan bahwa pihaknya tidak pilih kasih dalam penutupan massage di Sagulung. Sehingga Reza meminta kepada pemilik massage jika masih ingin membuka usaha yang sama, maka harus mematuhi aturan yang berlaku.

Sebelum ada izin usahanya, pihak kecamatan akan menutup paksa massage yang masih beroperasi. Apa lagi massage yang ada di ruko Batavia dekat dengan kantor camat Sagulung.

“Tidak ada pilih kasih, semua akan ditutup selagi tidak ada izin resminya. Kami tidak main-main dengan kebijakan ini,” kata Reza. (eja)

Respon Anda?

komentar