Tol Laut Berubah Rute

486
Pesona Indonesia
Tol Laut Caraka Niaga III yang digunakan membawa sembako ke pulau-pulau perbatasan. foto:syahid/batampos
Tol Laut Caraka Niaga III yang digunakan membawa sembako ke pulau-pulau perbatasan. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Dalam waktu dekat ini kapal Caraka Niaga 3 yang digunakan sebagai Tol Laut akan mengalami perubahan rute. Biasanya kapal tersebut menempuh rute dari Jakarta (Tanjungpriuk) menuju Tarempa dan Natuna. Namun kedepan kapal tersebut tidak lagi melayani rute Jakarta lagi tapi Pontianak-Natuna-Tarempa (Anambas). Perubahan rute tersebut akan dimulai pada 23 Oktober mendatang.

“Tanggal 23 Oktober mendatang, kapal masih berangkat dari Tanjungpriuk kemudian menuju Natuna. Dari Natuna ke Tarempa kemudian ke Natuna lagi baru ke Pontianak. Setelah itu dari tidak lagi ke Jakarta tapi Pontianak-Natuna-Anambas PP, begitu seterusnya,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Anambas, Linda Maryati, Selasa (18/10)

Diakuinya dengan adanya tol laut pemerintah maupun masyarakat Anambas terbantu. Namun diakuinya, hingga saat ini pihaknya belum bisa memaksimalkan muatan tol laut. Setiap kali tol laut itu singgah di Tarempa, hanya puluhan ton saja yang dimuat, sementara itu kapasitas kapal sendiri mencapai ribuan ton.

Oleh karena itu untuk membantu memaksimalkan tol laut, kata Linda, pihaknya sudah pernah mengusulkan kepada pihak Kementerian agar tol laut itu bisa singgah di Letung bahkan ditambah rutenya hingga ke Kijang, Kabupaten Bintan. Namun hal tersebut belum diakomodir oleh pemerintah pusat.

“Kita maunya tol laut itu bukan hanya sampai di Tarempa saja tapi singgah hingga ke Letung dan Pelabuhan Kijang. Karena diprediksi muatan akan lebih banyak dari Kijang daripada muatan dari Kalimantan,” ungkap Linda.

Mengenai pergantian armada yang lebih kecil, kata Linda, itu bukan permintaan Pemda Anambas melainkan permintaan Pemerintahan Natuna. Karena dengan kapasitas 3000 GT, kapal tersebut tidak bisa sandar di Pelabuhan Penagih yang posisinya dekat dengan Ranai.

Sementara itu jika kapasitas kapal diturunkan menjadi 1500 GT, diperkirakan bisa sandar di Pelabuhan Penagih. Maka dari itu, kata Linda, Natuna minta agar kapal itu ganti dengan kapal yang lebih kecil.

“Kalau Anambas sendiri tidak masalah, mau pakai kapasitas 3000 GT atau yang 1500 GT sama saja, yang penting diperkirakan bisa mengarungi ombak Laut Cina Selatan. Sesuai perkiraan, kapasitas 1500 GT juga sudah cukup,” tutupnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar