Ubah Limbah Kulit Singkong Jadi Bahan Baku Pesawat

Kisah Pemenang Zetizen National Challenge Go to New Zealand (2 -Habis)

319
Pesona Indonesia
Dari kiri, Business Development Manager NZ Trade and Enterprise Melany Tedja, Raafi Jaya Sutrisna, dan Komisaris Utama Jawa Pos Group Azrul Ananda.  / Foto: Jawa Pos Radar Semarang
Dari kiri, Business Development Manager NZ Trade and Enterprise Melany Tedja, Raafi Jaya Sutrisna, dan Komisaris Utama Jawa Pos Group Azrul Ananda. / Foto: Jawa Pos Radar Semarang

Lebih dari empat tahun Raafi Jaya Sutrisna, 18, Alpha Zetizen of the Year asal Jawa Tengah, menghabiskan masa mudanya dengan melakukan beragam riset. Hingga akhirnya, dia menemukan bahan komposit dari limbah kulit singkong sebagai ganti fiberglass.

BOGIVA MIRDYANTO, Surabaya

MAHASISWA semester pertama Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini memang tampak berbeda dengan kebanyakan temannya. Bila teman-temannya masih senang kongko-kongko, Raafi Jaya Sutrisna justru telah menelurkan sejumlah inovasi hasil riset sendiri.

Salah satunya, Raafi sukses meriset pemanfaatan limbah kulit singkong yang banyak ditemukan di daerahnya sebagai bahan komposit Bahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku industri otomotif, kapal laut, bahkan pesawat terbang. Bahan komposit ciptaan Raafi itu bisa menjadi bahan pengganti fiberglass.

Ide cemerlang tersebut berawal dari rasa gemasnya melihat limbah kulit singkong yang begitu banyak di sekitar tempat tinggalnya di Pati, Jawa Tengah. Lebih dari 10 ton limbah kulit singkong terkumpul setiap bulan. Selama ini limbah tersebut hanya dimanfaatkan penduduk untuk pakan ternak dan sisanya dibiarkan membusuk.

Dari fakta itulah, Raafi mulai mencari cara menjadikan limbah kulit singkong lebih bermanfaat dan punya nilai ekonomi. Setelah melakukan riset hampir dua tahun, Raafi akhirnya bisa menemukan cara mengubah limbah organik itu menjadi bahan komposit. Dia membuatnya dengan mencampur olahan limbah kulit singkong dan limbah batang pohon pisang. Dua bahan tersebut digabung dengan menggunakan resin untuk menciptakan struktur komposit yang kuat, tahan terhadap korosi, memiliki bobot ringan, dan tidak mudah terbakar. Dengan demikian, itu bisa dijadikan bahan baku untuk membuat bodi atau panel industri kapal laut hingga pesawat terbang.

Tak sia-sia, riset ilmiah itu akhirnya mengantarkan Raafi menjadi 1 di antara 34 peraih predikat Alpha Zetizen of the Year dalam kompetisi aksi positif Zetizen National Challenge: Go to New Zealand 2016. Sebelumnya, karya itu mendapatkan apresiasi di berbagai kompetisi sains tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya, meraih medali emas kategori fisika di Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) 2016. Temuan Raafi menyingkirkan sekitar 500 karya anak muda dari berbagai daerah di Indonesia.

Karya bertema fisika material yang menjadikan karbon aktif kulit singkong dan serat batang pisang sebagai material alternatif otomotif, kapal laut, dan industri pesawat terbang tersebut juga memenangi medali emas di ajang International Young Inventors Project Olympiad 2016 di Tsibili, Georgia. Penelitian Raafi bersaing dengan lebih dari 100 proyek ilmiah karya perwakilan dari 38 negara.

Pengakuan demi pengakuan dari berbagai institusi riset seperti Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan kalangan industri internasional pun berdatangan. Salah satunya dari Bosch, perusahaan penyuplai komponen otomotif dari Jerman.

”Alhamdulillah, senang banget karyaku dilirik perusahaan besar dari Jerman itu,” ujar anak pertama di antara tiga bersaudara tersebut bangga.

Berkat temuannya itu, Raafi juga mendapat berbagai tawaran kerja sama dengan beberapa pihak. ”Tahun depan, insya Allah, aku diundang ke Jerman buat mempresentasikan risetku ini. Kalau cocok, aku langsung diminta teken tanda tangan kerja sama,” imbuhnya.

Pencapaian Raafi itu tidak lepas dari ketertarikannya terhadap dunia riset sejak kecil. Keinginannya untuk berkeliling dunia dan memberikan dampak positif bagi lingkungan lewat riset semakin mantap saat dia SMP. Saat itu Raafi melihat kesuksesan kakak kelasnya melakukan riset dan mempresentasikannya di berbagai negara.

”Dari situ aku mantap ingin bisa berguna bagi masyarakat lewat riset,” ujar Raafi.

Cita-cita tersebut mulai diwujudkan begitu Raafi memasuki SMA. Sejak kelas X SMA PGRI 2 Kayen, Pati, Jawa Tengah, dia membentuk komunitas riset di sekolahnya. Raafi mengajak teman-teman dan kakak kelasnya untuk bergabung. Tapi, bukannya mendapat dukungan, Raafi justru mengalami penolakan dan pandangan skeptis dari teman-temannya.

“Banyak yang nggak paham pentingnya riset. Saat aku ajak, mereka malah menganggap mimpiku buat beraksi positif lewat riset itu ketinggian,” kenang Raafi, lalu tertawa.

Pandangan tersebut muncul karena Raafi dianggap anak desa oleh teman-temannya. Maklum, rumah Raafi memang di desa. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Pati. Namun, itu tidak menyurutkan semangat Raafi untuk mewujudkan cita-citanya. Dia terus berusaha membuktikan bahwa riset yang dilakukannya kelak bisa berguna bagi masyarakat.

Pelan tapi pasti, dia juga mampu merekrut satu demi satu temannya untuk membentuk komunitas riset di sekolah. “Akhirnya aku berhasil membentuk Tim Science Project SMA PGRI 2 Kayen,” ujar Raafi.

Ketika kelas XI SMA, karya pertamanya lahir. Dia menemukan cara pemanfaatan limbah tebu menjadi bahan batako tahan gempa. Penemuan itu sukses mengantarkan Raafi ke New York, Amerika Serikat, untuk tampil di final Genius Olympiad 2014. Meski di event tersebut tidak menang, Raafi tetap bersyukur. Sebab, dia mendapat begitu banyak pengalaman baru, termasuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat New York hidup dan menjalani kesehariannya.

“Aku ingat, waktu itu kami diajak keliling ke lima daerah di New York. Termasuk ke Manhattan dan Air Terjun Niagara. Aku benar-benar bersyukur bisa mendapat kesempatan seperti itu,” kenang Raafi.

Lewat semua pencapaian tersebut, Raafi berharap suatu saat dirinya bisa ikut mengubah Indonesia menjadi lebih baik. ”Aku terinspirasi sosok Pak Habibie yang sanggup memimpin negara dengan berorientasi pada riset dan kemandirian,” tuturnya.

Hal itu pula yang dia jadikan visi dan pemacu semangat untuk terus berkarya. Salah satunya, berusaha mendapatkan paten atas karyanya di Indonesia.

“Kalau dapat sponsor nanti, aku segera mematenkan temuan-temuanku itu. Supaya negara ini bisa mandiri dalam bahan baku industri otomotif hingga pesawat terbang,” ujarnya. (*/dri/c10/ari/jpg)

Respon Anda?

komentar