Iklan
Shakira, Jean, dan Zuraida sedang membaca peta wisata yang tersedia di Pusat Informasi Wisata di Disparbud Tanjungpinang, akhir pekan lalu. Ketersediaan informasi memadai ini merupakan upaya Disparbud menjari wisatawan asing yang lebih banyak lagi. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.
Shakira, Jean, dan Zuraida sedang membaca peta wisata yang tersedia di Pusat Informasi Wisata di Disparbud Tanjungpinang, akhir pekan lalu. Ketersediaan informasi memadai ini merupakan upaya Disparbud menjari wisatawan asing yang lebih banyak lagi. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.

Ketersediaan informasi bagi pelancong adalah keharusan. Apalagi bagi pejalan dari luar negeri. Sebab tidak selamanya peta digital bisa dipercayai.

Iklan

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang

Tersebutlah tiga anak manusia. Satu pria, dua wanita. Lintas negara. Jean dari Belgia, Shakira dan Zuraida dari Singapura. Persahabatan yang dipertemukan dunia maya ini menjadi perjalanan nyata. Indonesia, mereka bersepakat, adalah negara penuh keunikan yang perlu disusuri setiap sudutnya. Akhir pekan lalu, mereka memutuskan Tanjungpinang sebagai kota penjelajahannya.

Tujuh belas jam total penerbangan yang Jean tempuh dari Brussels sampai Singapura. Transit satu jam di Doha. Bule bernama lengkap Jean Edward ini merogoh ratusan Euro demi menemui dua temannya di Singapura. Pembicaraan terakhir, mereka ingin mengajak Jean main ke Tanjungpinang, yang hanya perlu dua jam menyeberang dari Pelabuhan Tanah Merah.

“Jean sepakat. Ia belum pernah ke Indonesia. Kami berdua pun baru sekali saja ke Tanjungpinang. Itu pun sudah cukup lama,” tutur Zuraida.

Shakira pun mengamini. Ia mengaku punya kerabat di Tanjungpinang yang sudah lama tidak dikunjungi. Agaknya, kata dia, sekitar lebih dari satu dasawarsa tidak bersua. “Kalau sempat, saya ingin mengunjunginya juga,” ucapnya.

Dua perempuan ini memang hobi jalan-jalan. Mereka ingin berbagi keceriaan dan pengalaman bersama Jean. Apalagi teman dari Belgia itu sudah menempuh penerbangan yang lumayan melelahkan. Tanjungpinang pun mereka jelang.

Dalam kurun bebeberapa tahun terakhir, Tanjungpinang mulai akrab oleh para pelancong dari pelbagai penjuru dunia. Tidak melulu pelancong kelas pertama. Yang menggunakan jasa agen perjalanan. Seringkali kini ada barisan pelancong tipikal backpaker. Jangan keburu melihat kaum ini sebagai pejalan papa-kedana. Sebab dalam menikmati sebuah perjalanan selalu ada banyak pilihan. Dan tak jarang, pelancong backpaker adalah mereka yang benar-benar menikmati arti sebuah perjalanan. Ada persentuhan langsung dengan orang-orang yang tidak dilampirkan oleh brosur-brosur agen perjalanan.

Jean, Zuraida, dan Shakira memilih menikmati Tanjungpinang dengan ala carté atau ala backpakerian itu. Mereka ingin menikmati suguhan nyata sebuah kota yang usianya lebih dari dua abad. Sebab itu, hal pertama yang dilakukan sejak menginjakkan kaki di Pelabuhan Sri Bintan Pura adalah mematikan telepon genggam.

“Kami belum punya kartu provider sini,” kata Shakira.

“Kami juga belum tukar Dollar,” sambung Zuraida.

Sementara Jean lebih tegas menyuarakan dalam bahasa Inggris yang bila diterjemahkan kira-kira begini, “aku kurang percaya peta digital. Tampaknya ia benar, tapi tak sedikit bikin kesasar.”

Atas dasar itu, mereka pun tenang saja mematikan gawai paling canggih saat ini. Toh dari banyak pengalaman perjalanan, kecanggihan gawai tidak sejalan lurus dengan keseruan, keasyikan, dan kejutan-kejutan. Bukankah itu semua yang dicari dari sebuah perjalanan?

Setiba di pintu keluar Pelabuhan Sri Bintan Pura. Sebagaimana yang ada, banyak tukang ojek atau sopir yang menawari mereka tumpangan. Berbayar pastinya. Tangan mereka berulang kali melambai. Artinya menolak. Bukan tentang tidak mampu atau mau bayar. Tapi lebih kepada karena belum ada tujuan.

“Saya pikir kita perlu sebuah peta wisata,” celetuk Jean.

Zuraida dan Shakira mengangguk sepakat. Kepada seorang pegawai bank yang tengah ngaso siang di sebuah kedai kopi, mereka menanyakan tempat mendapatkan informasi pariwisata. Zuraida maju paling depan. Patah-patah, perempuan berkacamata ini paling mahir berbahasa Melayu dibanding Shakira, apalagi Jean.

“Dimane boleh kami dapat informasi tourism, Bang?”

“Coba ke Kantor Dinas Pariwisata belakang pos polisi itu. Saya sering nampak banyak turis di situ,” kata pegawai bank swasta itu sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

Zuraida paham. Shakira dan Jean mengikut langkah temannya yang paling depan. Tapi Jean adalah yang berteriak paling lantang setiba di belakang pos polisi sebagimana yang tadi disebutkan. “Ini dia,” pekiknya.

Langkah kaki Jean berayun lebih cepat. Satu-satunya laki-laki dalam rombongan kecil pejalan ini kini berdiri paling depan. Sepetak papan putih bertuliskan Tourist Information Center atau Pusat Informasi Wisata membuatnya yakin tidak kepalang bahwa apa yang mereka butuhkan kini sudah ada di depan mata.

Saatnya Zuraida kembali beraksi. Shakira dan Jean menunggu di luar. Tidak perlu lama Zuraida sudah kembali ikut meriung dalam obrolan kecil Shakira dan Jean. Tangannya tidak kosong. Ada dua pamflet pariwisata di genggamannya. Yang bila dibuka rupanya berubah jadi peta wisata. “Akhirnya…” ucap Shakira.

Setengah berebut, mereka membuka dan membaca-baca. Jean terlihat yang paling sibuk. Maklum saja ini kunjungan pertamanya ke Indonesia. Tentu ia tidak mau ratusan Euro ongkosnya itu jadi tidak ada artinya. Sepintas membuka peta, dahinya mengernyit. Aksen Eropanya kesusahan mengeja Penyengat.

“Pe-nye-ngaaat?” ucapnya terbata-bata.

Telunjuk Zuraida mengarah ke sebuah deskripsi singkat tentang pulau yang jadi destinasi utama nyaris semua pelancong di Tanjungpinang. Sepasang mata Jean memindai dari kiri ke kanan. Adanya penjelasan menggunakan bahasa Inggris membuatnya sedikit lega. Sepaling tidak, ia bisa tahu tentang hal-hal menarik yang bisa dikunjungi dan dilakukan selama di Penyengat.

Sementara peta wisata yang ada di tangan Zuraida dan Shakira berisikan informasi lengkap seputar destinasi wisata secara umum di Tanjungpinang. Makin lengkap dengan informasi seputar penginapan terdekat dan beberapa tempat makan yang memanjakan lidah. Beberapa tempat sudah ditandai dan masuk dalam rencana yang akan dikunjungi.

Jean masih sibuk membaca peta wisata Pulau Penyengat. Kepada Zuraida dan Shakira, ia mengaku ingin sekali berkeliling pulau itu menggunakan becak motor sebagaimana yang diinformasikan pada peta di tangannya. Pompong juga tidak lupa ditampilkan dalam peta wisata. Jean mengaku dalam setiap perjalannya, selalu menyukai menaiki angkutan tradisional di tiap tempat yang dikunjungi.

“Saya tertarik dengan Pompong dan Becak Motor ini,” ujarnya.

Zuraida dan Shakira mengiyakan. Tapi tidak untuk hari ini, kata mereka. Selain masih didera lelah sehabis perjalanan Singapura-Tanjungpinang, ada baiknya hari pertama di Tanjungpinang dihabiskan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang ada di sekitaran tempat mereka berdiri.

Dari peta wisata yang terbaca, dalam sepenempuhan jalan kaki yang tak begitu jauh, mereka bisa menikmati suasanana tradisional Tanjungpinang. Mulai dari berbelanja di Pasar Baru seputaran Pelantar I dan II, kemudian melipir sedikit ada Vihara Bahtra Sasana yang berusia ratusan tahun, kemudian menyesap kopi di seputaran Jalan Merdeka sebelum akhirnya menuju Gereja Ayam yang sudah berdiri sejak 1883.

Apalagi sekian jam lagi matahari segera condong ke barat. Akan jadi waktu paling tepat untuk bersantai di seputaran kawasan Tepi Laut. Zuraida berbicara seolah ia pemandu wisata. Jean dan Shakira heran dengan tingkahnya. Tapi buru-buru Zuraida berbisik, “kan semuanya ada di peta wisata ini.” Tawa ketiganya pecah.

Tapi, buru-buru Jean menjeda tawanya. Kepada Zuraida yang bertingkah sebagai pemandu wisata dadakan, ia bertanya tentang santapan makan malam yang menarik untuk dicoba. Zuraida tidak lekas menjawab pertanyaan Jean. Matanya di balik kaca melirik kembali peta di tangannya.

“Kita mencoba Akau Potong Lembu?” ucap Zuraida.

Shakira agak heran mendengar potong lembu. “Apakah di sana menyajikan daging lembu sebagai menu utamanya?” tanyanya.

“Bukan, bukan,” serga Zuraida, “Akau potong lembu itu pusat kuliner, jajanan, dan tempat makan terbuka dan menyediakan aneka masakan khas di sana. Letaknya di Jalan Potong Lembu,” terang Zuraida mengutip keterangan peta wisata.

Jean bersorak. “Mengapa tidak? Itu pasti keren.”

Obrolan dan diskusi di muka Kantor Pusat Informasi Wisata yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjungpinang itu mereka akhiri. Mereka tidak ingin membuang waktu untuk segera menjelajahi Tanjungpinang. Kamera mini sudah dikeluarkan. Topi sudah dikenakan. Peta wisata juga sudah di tangan. “Let’s go!” kata Jean memberi aba-aba.

Dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan mancanegara yang bertandang ke Tanjungpinang mengalami peningkatan. Tidak mati angka setiap bulannya selama lima tahun terakhir di rata-rata lebih dari delapan ribu kunjungan. Hal ini merupakan sinyal positif. Keberadaan pintu masuk internasional berupa pelabuhan Sri Bintan Pura yang melayani penyeberangan dari dan ke Singapura juga Malaysia merupakan sasaran bagi para pejalan.

Kepala Bidang Promosi Pariwisata Disparbud Tanjungpinang, Syafarudin mengungkapkan ada varian baru pelancong akhir-akhir ini yang didapati. “Sekarang memang sedang ngetren backpacker,” ungkapnya, awal pekan kemarin.

Beberapa wisatawan yang dibawa agen perjalanan memang masih mendominasi. Tapi, pergeseran ini ditandai Syafarudin sebagai angin segar. Tanjungpinang yang menghubungkan dengan Bintan bisa terhindar dari stigma kota transit.

Backpacker, kata Syafarudin, punya masa menginap yang lebih panjang. Setidaknya rata-rata bisa sampai dua malam menginap di Tanjungpinang. Karena itu, peluang ini enggan dilewatkan begitu saja untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunnya.

Satu hal yang memang tidak dapat terpisahkan dari pelancong backpakerian adalah informasi. Syafarudin amat paham tentang hal itu. Saban tahun, lini kerjanya masih dan akan terus memproduksi pamflet-pamflet pariwisata. Ada kalanya berupa informasi mengenai seputar sejarah ringkas Tanjungpinang, lebih banyak lagi berupa peta panduan berwisata. Produk kedua ini dicetak dalam jumlah yang lebih tinggi.

“Karena memang peta wisata itu yang dicari paling pertama. Di situlah kami ‘menjual’ Tanjungpinang dalam bahasa Indonesia dan Inggris,” ujar pegawai yang juga aktif berkesenian ini.

Syafarudin sendiri juga sudah memahami tabiat para pemanggul ransel ini. Ia menukas, jalan kaki jadi kegemaran mereka menyusuri denyut-denyut kehidupan di sudut-sudut kota. Maka informasi yang memadai jadi sebaik-baiknya bekal bagi mereka. Dan ini yang dipenuhi oleh Syafarudin dkk.

“Mengapa pamflet pariwisata itu tebal, mengapa peta wisata itu lebar, ya itu tadi; kami ingin mengisinya juga dengan bahasa Inggris. Untuk memenuhi kebutuhan informasi wisatawan asing,” terangnya.

Dengan begitu, diharapkan para kaum pejalan kaki dari pelbagai negeri itu mau menyusuri Tanjungpinang. Menikmati lanskap dan suasana kota lama. Melihat lebih dekat kebudayaan Melayu yang jadi jantung utama berkehidupan masyarakatnya.

“Kadang saya katakan sama turis yang datang minta peta, ‘ini peta kota kami, jangan lupa jelajahi,’” tutur Syafarudin.

Omong-omong, berbekal peta wisata di tangan mereka, Jean, Shakira, dan Zuraida sudah menjelajah sampai ke mana saja ya?***