Iklan
Ketua Dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood membaca puisi di Jakarta, awal pekan lalu. Tahun ini, Tanjungpinang bakal menjadi tuan rumah PPN VIII. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.
Ketua Dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood membaca puisi di Jakarta, awal pekan lalu. Tahun ini, Tanjungpinang bakal menjadi tuan rumah PPN VIII. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.

batampos.co.id – Dua penyair kenamaan Kepulauan Riau ikut hadir pada Musyawarah Nasional Indonesia 2016 yang ditaja Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI, di Jakarta, Selasa (18/10). Mereka adalah Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau Husnizar Hood dan penyair Hasan Aspahani.

Iklan

Selama dua hari di Jakarta, Husnizar dan Hasan bersama lebih dari 100 sastrawan setanah air berembug tentang kemajuan pengembangan dan pembinaan sastra di Indonesia. Dari senarai pembahasan itu memunculkan isu seputar sastra perbatasan. Husnizar menanggapi hal ini sebagai sesuatu yang positif buat pengembangan sastra Kepri ke depannya.

“Pas sekali untuk Kepri. Daerah kita ini berbataskan langsung dengan banyak negara jiran,” ungkapnya via sambungan telepon, kemarin.

Hal-hal semacam ini, menurut Husnizar, perlu ditanggapi lekas dan cekatan. Berbataskan dengan jiran bisa ditilik jadi dua kemungkinan. Pertama adalah keterbukaan akses karya sastra dari negara tetangga, atau yang kedua, persaingan lebih ketat dalam etalase karya sastra di tingkat Asia Tenggara atau bahkan dunia.

Pada kemungkinan kedua inilah Husnizar melihat bahwasanya isu sastra perbatasan perlu dapat perhatian tersendiri. Karya-karya sastra Kepulauan Riau, kata dia, sudah semestinya bisa menegakkan kepala sehadapan dengan karya sastra dari negara tetangga. “Sebab itu ada namanya kegiatan residensi sastrawan hasil dari musyawarah nasional ini,” ucapnya.

Tahun ini adalah momentum tepat bila ingin kembali menggelorakan semangat sastra perbatasan. Husnizar menandai terpilihnya Tanjungpinang sebagai tuan rumah Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VIII, yang rencananya dihelat akhir November mendatang. Ini bukan pertemuan biasa. Lantaran tidak hanya dihadiri sastrawan dalam negeri, tapi juga beberapa di antaranya sastrawan dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Brunei.

“Dalam PPN VIII di Tanjungpinang itu nantinya, bisa dicari titik temu lebih matang tentang definisi tentang sastra perbatasan. Lebih pas lagi karena sedang diselenggarakan di Kepri yang juga memang daerah perbatasan,” ujar Husnizar.

Sebagai bagian utama dari penyelenggara PPN VIII ini, Husnizar menuturkan, helatan di Indonesia ini bakal dikemas dengan sajian yang lebih berbeda. Satu di antara rangkaiannya adalah dengan menghadirkan kegiatan ziarah sastra. Husnizar ingin seluruh penyair yang bertandang ke Kepulauan Riau melihat lebih dekat kekayaan sastrawi provinsi ini yang sudah terbina sejak zaman Raja Ali Haji.

“Saya kira itu bakal menarik. Jadi tidak hanya baca puisi saja. Ada ziarahnya. Ada pula seminarnya. Di saat itu akan dibahas lagi bersama persoalan sastra perbatasan yang mencuat dari munas sastrawan tahun ini,” terangnya.

Terpisah, Hasan Aspahani berkomentar bahwasanya sejak tahun ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan program residensi sastrawan di daerah perbatasan. Ada sejumlah daerah perbatasan yang bakal didatangi sejumlah sastrawan untuk mulai berkarya di sana. Sayangnya dari daftar yang disebutkan panitia, tidak disebutkan Provinsi Kepri sebagai daftar tujuan residensi.

“Harusnya ke Kepri ada juga. Wajib malahan. Karena banyak persoalan di Anambas dan Natuna yang saya kira perlu jadi perhatian lebih,” kata Hasan.

Penyair yang buku puisinya baru terpilih sebagai Buku Puisi Terbaik 2016 ini melanjutkan, bila Kepri dijadikan sebagai tujuan residensi sastrawan, tentu ada banyak hal yang bisa diangkat menjadi topik penulisan. Tidak kurang keyakinan Hasan bahwasanya sebuah karya sastra dapat memantik perhatian agar masalah-masalah di perbatasan bisa segera dicarikan solusinya.

“Karya sastra dari hasil program residensi ini harus mengangkat persoalan daerah. Sehingga ketika mencuat ke permukaan, masalah itu bisa lekas dicarikan solusi,” pungkas Hasan. (muf/bpos)