Sejumlah pelajar menggunakan sepeda motor ke sekolahnya di jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang, Rabu belum lama ini. Para orang tua dihimbau untuk mengawasi dan memberi pengertian kepada anak saat menggunakan sepeda motor agar tidak terjadi kecelakaan dan hal buruk lainnya. Foto:Yusnadi/Batam Pos
Sejumlah pelajar menggunakan sepeda motor ke sekolahnya di jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang, Rabu belum lama ini. Para orang tua dihimbau untuk mengawasi dan memberi pengertian kepada anak saat menggunakan sepeda motor agar tidak terjadi kecelakaan dan hal buruk lainnya. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Hingga kini di Tanjungpinang, masih banyak didapati setiap pagi siswa yang berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor. Bukan hanya siswa dari sekolah menengah atas saja, ada juga beberapa dari tingkat menengah pertama. Sebenarnya ini sebuah pemandangan yang tidak lazim. Mengingat seringkali usia siswa yang membawa motor belum cukup untuk mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM).

Akan hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Tanjungpinang, HZ Dadang AG menegaskan bahwasanya untuk mengendari motor harus tetap mengindahkan peraturan yang ada. Maksudnya, bila memang belum mengantongi SIM, jangan bawa kendaraan motor ke sekolah.

“Harus dipatuhi aturan lalu lintasnya. Kalau memang belum punya SIM, ya polisi silakan tilang saja,” kata Dadang, kemarin.

Tak dipungkirinya bila memang belum cukup umur dan membawa kendaraan bermotor di jalan umum cukup riskan. Karena itu, Dadang merasa perlu kontrol lebih jauh dari keluarga perihal ini. Mengingat pihak sekolah saja tidak mungkin bisa mencegah agar setiap siswanya tidak membawa kendaraan bermotor.

“Sering kan mereka itu partkirnya tidak di sekolah. Jadi seolah tidak bawa kendaraan,” kata Dadang lagi.

Dadang tetap menyarankan agar dari keluarga, sebisa mungkin anak-anak yang belum mempunyai SIM tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotor. Termasuk ketika pergi ke sekolah. Selain membahayakan siswa itu sendiri juga bisa membahayakan pengendara lain. Perlu bijak, kata Dadang, menyikapi persoalan ini.

“Kalau memang keluarga tidak pernah mengizinkan anaknya bawa motor, saya kira juga tidak pernah ada siswa yang bawa motor. Artinya selama ini memang orang tua seperti tidak merasa keberatan ketika anaknya membawa motor,” ucap Dadang.

Tapi bolehkah siswa membawa kendaraan sendiri ketika berangkat sekolah? Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Pepy Candra malah punya pendapat lain. Dari tiga putrinya, tinggal si bungsu yang masih duduk di sekolah menengah atas. Kendati di rumahnya ada banyak kendaraan motor yang bisa dibawa, Pepy tetap memilih setiap pagi mengantarkan si bontot ke sekolah.

“Bukan soal boleh atau tidak boleh. Tapi saya merasa mengantar anak ke sekolah itu bagian dari quality time dengan keluarga. Jadi kalau saya tidak dinas luar, saya selalu mengantar anak ke sekolah. Itu berlaku sejak anak pertama,” kata Pepy.

Ketika mengantar anak ke sekolah, sambung politisi perempuan ini, terjadi komunikasi intensif antara orang tua dan anak. Di saat-saat semacam ini terjadi dialog antaranggota keluarga yang saling mendekatkan satu sama lain.

“Jadi bukan berarti kalau dari golongan berada itu harus bawa kendaraan sendiri ke sekolahnya. Tapi lebih kepada quality time. Saya kira, hal-hal kecil semacam ini patut dibiasakan oleh keluarga mana pun. Kalau diantar dan dijemput juga orang tua tidak risau takut terjadi apa-apa juga kan,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar