Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti dan pimpinan DPRD Natuna membahas ketergantungan sembako di Serasan dan Subi. foto:aulia natuna/batampos
Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti dan pimpinan DPRD Natuna membahas ketergantungan sembako di Serasan dan Subi. foto:aulia natuna/batampos

batampos.co.id – Wakil ketua Komisi II DPRD Natuna Marzuki mengungkapkan, perdagangan lintas batas antara warga di Kecamatan Serasan dan Sematan, Malaysia Timur, sepertinya sulit dihentikan.

Saat ini Panja DPRD, katanya, sudah berkunjung ke Serasan untuk mengumpulkan data terkait perdagangan lintas batas. Ternyata setiap minggu nelayan menjual ikan, baik ikan segar maupun ikan es ke Malaysia.

“Warga memilih menjual ikan jenis Kerapu ke Sematan Malaysia Timur, karena ada pembelinya di sana. Penjualan bisa tiga hari sekali, satu pompong bisa 3 sampai 4 ton ikan,” kata Marzuki Rabu (19/10).

Wakil Ketua Panja perdagangan lintas batas ini mengakui, dari pengumpulan data selama dua hari di Serasan, sekitar 70 persen kebutuhan pokok masyarakat di Kecamatan Serasan Timur dan Serasan didatangkan dari Sematan.

“Memang ada sebagian persen kebutuhan pokok berasal dari dalam negeri seperti beras dan gula. Tapi kebanyakan sembako lain dari Malaysia Timur. Jadi setiap kapal ikan dari Sematan, pulangnya membawa kebutuhan pokok,” sebut Marzuki.

Pengakuan warga setempat, kata Marzuki, transaksi ini sudah berlangsung sejak tahun 60-an. Sebab, saat ini Natuna masih kesusahan mendapatkan kebutuhan pokok dari dalam negeri.

“Jadi dari dulu tidak hanya warga Serasan bertransaksi hasil alam ditukar sembako. Warga di Kecamatan Bunguran Barat juga sama, tapi belanjanya ke Terengganu, Malaysia Barat,” jelas Marzuki.

Dikatakan Marzuki, data-data yang diperoleh akan disampikan ke Kementerian Luar Negeri. Agar perdagangan lintas batas dan terbatas ini kembali dibuka. Sama halnya yang terjadi di Entikong.

“DPRD berharap, pemerintah pusat bisa membantu melegalkan perdagangan lintas batas di Natuna. Artinya di Serasan perlu dilengkapi fasilitas, supaya bisa diawasi. Memang sekarang sangat rawan, baik masuknya barang haram, terlarang, bisa menjadi pintu masuknya pelaku kriminal ataupun teroris,” ujar Marzuki.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar