ABK Kapal Naham 3 yang disandera di Somalia. Empat diantaranya WNI dibebaskan. Foto: merdeka.com
ABK Kapal Naham 3 yang disandera di Somalia. Empat diantaranya WNI dibebaskan. Foto: istimewa/merdeka.com

batampos.co.id – Pemerintah langsung menindaklanjuti pembebasan empat WNI dari 26 ABK Kapal Naham 3 di Somalia Sabtu (22/10/2016) lalu.Salah satunya warga Batam kelahiran Medan bernama Sudirman.

Empat anak buah kapal (ABK) tersebut diakui sedang melalui proses pemeriksaan medis dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia hari ini (25/10/2016). Namun, pemerintah Indonesia mengaku butuh beberapa hari untuk memulangkan mereka ke tanah air karena pertimbangan pemulihan psikologis.

Regional Manager Semenanjung Afrika Ocean Beyond Piracy (OBP) John Steed mengatakan, 26 sandera saat masih berada di di Nairobi, Kenya dibawah penanganan pihaknya dan otoritas. Hingga Senin (24/10/2016), mereka memang masih dalam masa pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi mereka benar-benar sehat.

’’Saat ini saya sedang bertemu dengan beberapa pejabat. Termasuk Bapak Iqbal (Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Lalu Muhammad Iqbal),’’ ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos (grup batampos.co.id) kemarin (24/10).

Menurutnya, dia sedang berbicara soal tata cara penyerahan sandera WNI ke wakil pemerintah Indonesia. Rencananya, penyerahan tersebut dilakukan secepatnya yakni 25 Oktober pagi.

’’Pemerintah Indonesia adalah salah satu pihak yang cukup aktif terlibat dalam proses pembebasan ABK Kapal Naham 3 ini. Mereka terus berkoordinasi dengan kami dan pihak-pihak terkait selama perkembangan kasus,’’ ujarnya.

Proses pembebasan, lanjut dia, merupakan proses yang panjang dan kompleks. Terkait klaim adanya tebusan, dia mengaku bahwa proses negosiasi memang melibatkan biaya untuk membantu kemajuan komunitas lokal. Namun hal tersebut bukan tebusan dan tidak melibatkan pemerintahan manapun.

Menurutnya, upaya intensif sendiri sudah dilakukan sejak 2014 dengan dukungan berbagai pihak. Pihak negosiator memang sengaja menembus tokoh agama dan komunitas lokal agar bisa melancarkan negosiasi.

’’Dengan ini, yang tertinggal adalah sandera 10 warga Iran dan tiga warga Kenya yang masih disandera oleh perompak Somalia,’’ terangnya.

Dia menegaskan, sejak 2012, memang belum ada upaya perompakan yang berhasil. Namun, studi masih menunjukkan ada penyerangan terhadap 306 pelaut yang diserang meski akhirnya gagal dibajak. Karena itu, dia berharap kapal-kapal yang melintasi perairan sekitar semenanjung Afrika mau menuruti regulasi.

’’Selain memang penjagaan di sana diperketat oleh pihak militer. Kami harap kapal tidak memilih berlayar lambat dan dekat dengan pesisir untuk menghemat bahan bakar. Karena justru itulah yang menjadi makanan perompak,’’ terangnya.

Meski diserahkan kepada KBRI Nairobi hari ini, pemerintah rupanya memilih untuk memulangkan mereka dalam beberapa hari kedepan.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebutkan empat WNI tersebut adalah Sudirman (24) asal Medan namun berdomisili di Batam; Supardi (34) asal Cirebon, Adi Manurung (32) asal Medan, dan Elson Pesireron (32) asal Ambon. Mereka harus menjalani pemulihan kesehatan selama beberapa hari sebelum dipulangkan ke Indonesia.

’’Kemarin malam setelah keempatnya mendarat di Nairobi, pihak keluarga sudah diberitahu mengenai kondisi keempat sandera tersebut,” ucap Retno.

Retno juga menjelaskan kronologi kejadian. Pada 26 Maret 2012, Kapal dibajak di perairan 114 km sebelah selatan dari kepulauan Seychelles. Dari sana, para sandera dibawa ke lokasi penyanderaan pertama, yakni di kota kecil yang bernama Hobyo tepatnya 511 km dari Mogadishu, Ibu Kota Somalia.

’’Setelah disekap di Hobyo, mereka kemudian dipindahkan ke tempat penyanderaan kedua di Budbud yang terletak 287 km dari Mogadishu. Baru Sabtu kemarin akhirnya mereka dipindahkan ke safehouse di Galkayo Town dan besoknya ke perbatasan Kenya,’’ terangnya.

Empat tahun menjadi sandera memang tak mudah. ABK dari Kapal Naham 3 memang tak mudah. Menurut lansiran dari BBC, Salah satu warga Filipina yang menjadi sandera atas nama Arnel Balbero mengaku mereka menjadi mayat hidup saat akhir-akhir masa penyanderaan.

’’Mereka memberikan kami hanya sedikit air. Kami memakan apa saja yang ada disana. Kami makan tikus di hutan setelah dimasak,’’ ungkapnya. (bil/jpgrup)

Respon Anda?

komentar